
"Ada apa Annet kenapa kelihatan begitu tak bergairah? ada yang bisa aku bantu?"
"Terlalu banyak yang aku pikirkan Bos." ucap Janeeta pada Bos klab malam di The Rich Hotel yang baru di kenalnya kurang lebih satu bulan, dan Janeeta berada di situ.
"Harus betah dong di sini, kan ada aku yang selalu mendengarkan setiap keluh kesah mu." ucap Zen pada Annet sambil menatap wajah unik Janeeta dengan sorot mata tak di mengerti Janeeta.
"Iya Bos, makasih banget sudah begitu perhatian sama aku."
"Senang rasanya kalau aku bisa membantumu Annet." ucap Zen kembali, duduknya semakin memepet Annet ke ujung sofa mini di sudut klab malam dengan lampu temaram dan ajep-ajep berbagai warna.
Tangan Zen mulai berani menyentuh bahu sebelah ujung Annet.
"Apa yang bisa Bos bantu buatku?" Annet mulai memperlihatkan jurusnya. Melihat respon baik dari Bos Zen yang sedari awal mereka bertemu merasa ingin memilikinya.
"Apa saja, yang bisa aku bantu, katakan saja!" Manajer Zen bicara sambil menelan saliva nya sendiri memandang setiap lekuk tubuh Annet dan wajah cantiknya.
"Aku ingin masuk kembali ke kehidupan Bos besar Richard, adakah jalan untukku agar aku bisa dekat kembali dan bisa bersama lagi? aku merasa sudah terlalu jauh masuk di kehidupannya kini aku merasa di buang dan di depak begitu saja." tutur Annet menatap wajah Zen dengan seksama.
"Kenapa harus Bos Richard?"
"Karena Bos Zen sudah beristri, itu masalahnya." sanggah Annet sambil menaruh sebelah tangannya di paha Zen.
"I-itu bisa di atur Annet, apa yang tidak bisa denganku?" jawab Zen sedikit gugup. Membiarkan tangan Annet berada di situ.
"Tapi aku ingin Bos Richard, aku bisa memberi keuntungan di balik keinginanku itu, kini aku menawarkan kompensasi pada Bos Zen, kita bisa mulai transaksi malam ini juga! dan ngobrol lebih inten bukan di sini, jika Bos mau."
Zen semakin tertarik dengan apa yang di tawarkan Annet, ada sedikit tantangan di balik wajah cantiknya, juga setiap pandangannya seperti ada misteri yang Zen belum tahu dari tiap tatapan mata tajamnya.
"Annet aku belum mengerti maksudnya, katakan saja apa keinginanmu." Sekali lagi Zen menatap wajah bening Annet.
__ADS_1
"Pertemukan aku secara nggak sengaja dengan Bos Richard, Aku pernah ada ikatan dan hubungan luar dalam sama dia, ada rasa penasaran di hatiku untuk bisa bertemu kembali dengannya, dan ada satu pertanyaan buat dia yang belum sempat aku tanyakan."
Zen mulai mengerti, pantas Bos Richard begitu tertarik sama Janeeta, dan pernah begitu dekat, dirinya juga merasa tertarik dan selalu deg-degan saat dekat dengan Janeeta melupakan anak dan istrinya.
"Annet, Bos Rich itu Bos kita di sini, seperti apa keinginanmu aku mengerti, rasanya terlalu sulit untuk bisa menembusnya."
"Bagiku tiada yang sulit, aku juga sama kerja di sini, mencari mangsa dan keuntungan, Bos Richard punya segalanya itu yang membuat aku tertarik, dia punya kelebihan yang tidak di miliki orang lain, sama seperti aku punya senjata yang bisa menembusnya tapi harus dengan trik yang bicara, aku ingin menguasai kembali dirinya tapi sekarang dengan tujuan lain yaitu uangnya bukan hanya kepuasan buat sendiri saja."
"Apa langkahmu? apa bisa aku mengerti? tapi seandainya tak bisa aku realisasikan bagaimana?"
"Bos! apa salahnya kita mengambil keuntungan lebih dari kedekatan kita? aku bisa memberi lebih buat Bos Zen dan aku juga bisa kembali ke pelukan Bos Richard dengan perantara jabatan Bos Zen!"
Zen diam rasanya maju mundur, untuk mengiyakan semua yang Janeeta inginkan, tapi pesona Annet begitu seperti magnet mengundang hasrat untuk bisa menjelajahinya.
"Aku mengumpulkannya pundi-pundi rupiah begitu banyak dari kedekatan ku dengan Bos Richard, sekarang aku ingin menjadi istrinya sekalian, akan banyak keuntungan juga buat Bis Zen seandainya semua bisa terealisasikan."
Apa salahnya cicak jadi biawak? lama-lama jadi buaya juga, mainkan otak kita, kalau aku mengandalkan dari nyanyi malah tumbuh uban dan keriput kulitku berada di sini habis di makan usia. Sedang yang di dapat hanya cukup buat hidup kita hari ini, apa jaminan hari tua kita saat kita pensiun nanti? apa yang bisa kita nikmati dari masa muda kita? mari kita kerja sama biar berubah hidup kita, bukan hanya menjadikan Bis Richard kaya tapi kita juga harus menjadikan diri kita juga sejahtera." Annet begitu panjang lebar dan begitu bersemangat saat bicara.
"Aku punya trik dan senjata lain untuk bisa membuat seorang Richard tekuk lutut di bawah selangkanganku, aku bisa memiliki semuanya, tanpa melupakan Bos Zen! sudah aku katakan akan banyak keuntungan yang kita dapat."
"Annet, semua tak bisa kita lakukan sendiri-sendiri, harus ada jaringan yang membantu kita."
"Betul itu, tapi begitu susah menjadikan orang berpaling dan mengerti pada kita, pelan-pelan saja, kita lakukan berdua saja dulu sambil Bos Zen melihat dulu dan membaca situasinya."
"Bisa kita bicara di tempat tertutup sekarang Annet?"
"Kenapa nggak?" Annet perlahan memindahkan tangannya dari paha Zen ke tengah antara dua saku celananya, terasa ada yang tegang, sesuatu yang menantang buat Annet, Aneet mengusap dan memegangnya perlahan, sehingga Zen semakin meringis saja, bisnis baru Annet di mulai.
"Kita bisa bersenang senang di sela-sela kesibukan kita, Bos Zen, aku bisa memberimu kepuasan untuk yang satu ini, kebetulan aku juga sudah lama tak merasakan yang seperti ini."
__ADS_1
Zen begitu tak berkutik, saat senjatanya di mainkan Annet walau dari luar pembungkusnya, begitu tegang meronta ingin keluar. Annet tersenyum menarik kembali tangannya membiarkan Zen dengan perasaannya sendiri.
"Annet, kita bicarakan lagi semuanya di kamar, bagaimana?"
"Dengan senang hati Bos Zen! aku bukan perempuan yang biasa menyiksa kaum laki-laki, tapi aku sebaliknya selalu ingin memanjakannya." ujar Annet begitu pintar dalam bicara, sepintar otaknya dalam mengambil hati dan keuntungan dari siapa saja.
"Tunggu di sini aku cek kamar dulu." Annet mengangguk sambil tersenyum membiarkan Zen berlalu dari hadapannya.
Annet membetulkan pakaiannya dan membuka tas blink-blink nya, mengambil ponselnya melihatnya sepintas ada banyak pesan kerinduan Jefry di ponselnya.
Annet tak perduli hanya melihatnya sekilas tanpa membukanya.
Zen melambaikan tangannya dari jarah jauh dan Annet berdiri berjalan menghampirinya.
Annet merasa semua harus ada pengorbanan, jika menginginkan sesuatu harus dengan sesuatu juga, walau itu harus di bayar dengan tubuhnya, Annet tak perduli selain dirinya juga kesepian siapa yang punya potensi bagus pasti akan Annet target jadi sasaran, tekadnya bulat ingin dekat kembali dengan Richard.
******
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1