Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Menghitung hari


__ADS_3

Ameera akhirnya pulang setelah semua berjalan dengan lancar keluarga Haji Marzuki begitu suka cita menyambut cucu pertama mereka yang begitu diharapkan dan begitu ditunggu kehadirannya.


Richie Isaak menjadi pusat perhatian semua keluarga yang berkunjung hanya ingin melihat bayi gemoy yang sangat mengemaskan dan sepertinya punya tampang bule. Jelas Richard punya darah Belanda Sunda dan Ameera yang semua keluarganya putih juga ada darah Arab dari Nenek buyutnya otomatis Bayi mereka begitu luar biasa hasil percampuran darah keduanya


Richard menjadi malas pergi ke kantor tiap hari mengelonin putranya dan dengan setianya belajar menganti popok dan ikut semua kegiatan yang di lakukan Ibu Hj Salamah dan Ameera. Semua yang dilakukan Ameera Richard ingin mencobanya bahkan saat memandikan Bayi Richie tapi Hj Salamah selalu memberikan pengertian kalau bayi usia dini begitu rawan dan harus di rawat sama tangan terlatih dan cukup pengalaman.


Tiap Richie nangis Richard menjadi panik sendiri karena memangku dan menggendong Richie kecil belum diperbolehkan sama Ibu Hj Salamah karena masih riskan untuk di gendong kalau tidak di bungkus kain. Jadi Richard menuntut Ameera untuk selalu membungkus Richie kecil tapi Richie nya menangis terus dan maunya tidur bebas tanpa dibungkus bungkus kain akhirnya Richard hanya bisa mengayun ayun Bayinya di ayunan rotan dan Richie pun lelap setelah kenyang menyusu.


Dan saat Richard berusaha ingin mencobanya tapi tetap tidak di perbolehkan sama Ibu mertuanya dengan alasan kalau laki laki kurang telaten dan pasti kasar tak lembut seperti belaian tangan perempuan nanti saja kalau sudah agak besar sedikit boleh Richard ikut terjun langsung mengurusnya. Selain badan dan kulit juga anggota tubuh bayi masih rentan perlu penjagaan ekstra tidak sembarang orang bisa menggendongnya.


Begitulah sangat perhatiannya Ibu Hj Salamah membuat Richard hanya bisa menonton dan memandang Bayinya dan mencolek colek pipi gemesnya.


"Bayiku sudah bisa berontak ternyata Sayang, tidur mau bebas begitu lucu memang." Richard memandang muka Bayinya yang begitu keukeuh mirip Dirinya menurut Richard dan Ameera berpendapat mirip Dirinya.


"Iya ngambek juga kalau kehausan lalu nangis kenceng, dan nggak sabaran seperti Papanya sudah kelihatan banget!" jawab Ameera sambil menyandarkan kepalanya di bahu Richard yang hari itu hari ke lima Richard belum sekalipun pergi ke kantornya. Seperti tidak puas menemani Ameera dan Bayinya dari mulai bangun tidur dan sampai tidur kembali.


"Hahaha ... masa sih jangan dong, Aku lihat Richie Bayi yang sangat tampan selain nanti bakal jadi Anak baik dan sholeh ya Sayang Anak Papa," sahut Richard sambil mengamati Bayi Richie yang tidur lelap


Berbagai alasan tak masuk kerja ada aja yang diucapkan Richard membuat Ameera geleng geleng kepala dan membiarkan sampai Richard sendiri merasa ingin masuk kerja walau sudah beberapa hari di lewatinya


Ameera sudah kelihatan segar dan sehat tinggal pemulihan ke posisi semula bentuk badannya yang masih kelihatan mekar. Tapi Richard melihatnya malah sexy di matanya begitu berisi tidak langsing kayak saat mereka baru nikah.


Richard selalu gelendotan di sampingnya sambil berbisik yang membuat Ameera melotot.


Walau itu hanya ucapan becanda dan menggoda Istrinya tapi Ameera mengerti Richard memang merindukan sesuatu saat berdua.


"Jangan menghitung hari! nanti juga kalau sudah sampai waktunya takkan ke mana!" ucap Ameera sambil tersenyum. Mendorong dada Richard yang selalu memepetnya hanya ingin usapan sayang dari istrinya.


"Siapa yang menghitung hari? Aku hanya ingin melihat pertumbuhan Richie hari demi hari Sayang." Richard selalu beralasan. Ameera tahu semua itu di buat-buat dan Richard malah kelihatan sangat manja.

__ADS_1


"Makanya kerja sana biar waktu tidak terasa tahu tahu Aku sama Richie sudah ada di rumah Kita atau Kita nginep di villa." Ameera mengalihkan dan memberi semangat pada suaminya biar waktu tidak terasa berjalan ya dengan kesibukan kalau di tunggu jelas terasa lama dan jenuh menjemukan.


"Iya Sayang besok Aku kerja, tapi siang istirahatnya pulang ke sini ya!" sahut Richard sambil mencium pipi Ameera.


"Gitu dong Papa Sayang jangan lupa kabarin Nenek sama Kakek Richie di Bandung biar mereka juga merasakan kebahagiaan dengan hadirnya buah cinta Kita." Ameera selalu mengingatkan pada Richard suaminya.


"Udah dari kemarin juga Sayang, katanya nunggu Aunty Andrea lagi ujian paling besok mereka baru datang."


"Syukurlah kalau begitu." Ameera membelai rambut Richard yang seakan tak bisa jauh dari Ameera juga Bayinya.


"Aku pengen cepet Kita bisa tidur bertiga Sayang."


"Emang sekarang tidurnya rame rame? kan Kita tidurnya bertiga?" jawab Ameera sambil senyum.


"Maksudku sudah tinggal di rumah hunian Kita bertiga dan sudah pintar urus Richie bersama," jawab Richard tetap kelihatannya merasa tidak betah dan bebas tinggal di rumah orangtua Ameera.


"Papa Sayang Richie baru usia kurang dari satu minggu jadi perbanyak sabar kalau orang yang sabar pasti akan mendapatkan buah manis." Ameera berusaha menghibur hati Richard dan membuatnya lebih sabar lagi.


"Ish Papa Rich! suka ke mana-mana deh maksudku kalau sabar akan mendapatkan imbalan buah dari kesabaran itu sendiri." Jelas Ameera dengan menahan tawa.


"Aku sabar kok Sayang dan sudah kangen buah yang sekarang pasti akan lebih manis tentunya Sayang."


"Ah rich! jangan ke mana-mana! nggak ada sekarang jatah Anakmu!"


"Hahaha... Kamu ngomong apa sih Sayang Aku tahu sekarang hanya buat Richie masa Aku sama sekali nggak boleh lagi jadi apa gunanya banyak susu formula di toko?" jawab Richard sambil tertawa.


"Papa, Mama mau memberikan ASI ekslusif selama enam bulan sudah itu kalau Richie nya mau baru di kenalkan sufor kalau nolak ya selepasnya saja." Ameera memandang suaminya mau tahu reaksinya seperti apa.


"Enam bulan? lama banget?"

__ADS_1


"Ya begitulah! kalau mau Anaknya pintar dan sehat"


"Anaknya sehat tapi Papanya mengalah."


"Maaf ya Pa, Mama nggak bisa dandani Papa kalau pergi ke kantor soalnya ada yang merebut perhatian Mama sekarang," ucap Ameera meledek suaminya.


"Nggak apa-apa sekarang semua buat Richie tapi nanti buat Papa ya?" sahut Richard sambil mencium pipi Richie di pangkuan Ameera.


"Udah ah sana tidur siang Papa mancing-mancing saja akhirnya," sungut Ameera sambil mendekap Bayi Richie.


"Aku kunci kamar dulu ya Kita ciuman saja kayak baru nikah dulu," ucap Richard sambil berjalan mengunci pintu kamar.


Ameera geleng geleng kepala sambil menidurkan Bayi Richie di boxnya.


"Pa, jangan cari masalah sendiri Aku masih merasakan sakit habis mengeluarkan Richie juga tolong mengerti."


"Mama Ameera Sayang Aku nggak nungtut itu Aku sangat mengerti dan menghargai tapi ingin sayang sayangan dan bercumbu saja emang begitu nggak boleh?" tanya Richard seperti kedengaran negosiasi.


"Boleh tapi itu akan memancing. Mama tidak bisa sama sekali Pa," Ameera bicara dengan nada sedih.


Richard memeluknya sambil mengusap dan mencium kepala Ameera.


"Jangan khawatir Sayang Aku orang yang konsisten tak menuntut kalau belum saatnya apalagi kalau harus melanggar dan menyakitimu Aku akan sabar kok, Mama telah memberikan segalanya semua kebahagiaan hidupku selama ini percaya lah Aku bisa kok orang lain biasa masa Aku Richard Isaak nggak bisa?" ucap Richard dengan kesungguhan.


Ameera mengangguk sambil tersenyum mengusap kedua pipi suaminya dan Richard mencium bibir Ameera dan mereka tenggelam dalam ciuman panas setelah sekian hari tak bersentuhan.


"Aww ... Pa jangan mencuri hak Anakmu!"


"Aku juga sama punya hak Mam." Richard tenggelam kembali dalam belahan dada Ameera.

__ADS_1


*******


Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2