
"Annet, sebenarnya apa yang kamu harapkan dari kerja kamu itu?"
"Hubungan kami hanya kerja seorang pelayan tamu yang datang dan Bos majikannya Jefry, kenapa kamu sekarang mempermasalahkan dan mempertanyakan itu? Bukankan sejak awal kita sudah sepakat tak akan ada bahasan tentang pekerjaanku?"
"Aku hanya takut kehilangan kamu Annet, takut kamu jatuh hati sama Bos mu itu."
"Nggak mungkin Jef! seorang penyanyi klab malam jatuh hati sama Bos-nya, Juga seorang Bos nggak mungkin jatuh hati sama seorang seperti diriku, terlalu muluk dan tinggi khayalan itu."
"Annet, apapun pandangan orang lain padamu aku tetap mencintaimu."
"Sama aku juga Jef, aku mencintaimu dan telah ku serahkan untuk pertama sesuatu di malam itu, membuat aku selalu kangen." Annet melirik manja Jef.
"Annet, bagaimana aku akan lupa semuanya, sekarang aku pulang dapat cuti sebulan aku harap kita bisa bersama-sama sebelum aku berangkat berlayar lagi!"
"Tapi Jef, aku tak bisa seperti dulu lagi, sekarang aku sudah teken kontrak di dua klab malam sebagai penyanyi, paling ya seperti waktu siang begini kita bisa bertemu."
"Sepadat itu jadwal nyanyi kamu?"Jefry memandang Annet.
"Seminggu tiga malam di satu hotel dan tiga malam di hotel satunya lagi, weekend aku full kerja karena hotel ramainya di hari libur."
"Aku kangen kamu Annet, aku pulang buat kamu."
"Aku juga Jef."
"Nggak bisa kamu minta izin barang semalam di tiap minggunya? bilang aja kalau pacar kamu datang dari jauh."
"Aku usahain Jef, kan hari ini juga kita bisa bertemu, kalau siang kita masih bisa tetap bersama."
"Tapi beri aku malam-malam yang sangat indah seperti waktu aku mau berangkat berlayar."
"Nanti aku atur waktunya sama temanku ya Jef."
"Annet, gaji ku lumayan besar, kontrak empat tahun, baru aku jalani satu tahun kurang, aku selalu berharap hubungan ini akan ada titik akhirnya. Aku ingin kamu nggak kerja lagi di klab malam itu."
"Iya Jef, tapi untuk saat ini aku juga begitu banyak cita-cita, kemampuanku hanya di bidang nyanyi, aku juga berusaha menabung buat cita-cita ku itu."
"Apa cita-citamu itu hemght...?"
__ADS_1
"Aku ingin punya toko dan membesarkan usaha Ibuku, ingin punya hotel walaupun itu hanya sebuah harapan saja yang entah seperti apa nasib cita-citaku."
Jefry menarik nafas berat, cita-citanya pulang ingin melepas rindu pada kekasihnya, tapi apa daya hanya siang mereka bisa bertemu. Annet terikat kontrak kerja yang begitu padat.
Demi cita-cita nya Jefry harus berbesar hati, menahan sedikit perasaannya, menunggu sampai Annet bisa meluangkan waktunya.
"Selesai, ayo kita ke suatu tempat!" Annet bangkit memakai kembali cardigan nya, mengikat rambutnya dan berkaca sekali lagi di salon perawatan itu."
Jefry yang memandangnya dengan kekaguman dan mata nakalnya begitu tak puas hanya memandangnya saja, Annet yang semakin cantik dengan rutin melakukan perawatan seperti artis saja, tuntutan pekerjaan seperti itu yang selalu Annet katakan pada Jefry.
Jefry membuka pintu mobil untuk sang kekasih, Annet tersenyum manja, mengangguk dan menghadiahkan senyum termanisnya.
"Aku ada waktu sampai jam empat, ayo kita mau ke mana Jef?"
"Aku ada kejutan buat kamu!"
Annet tahu keinginan Jef, dan membiarkan Jef membawanya kemana roda mobilnya menuju.
Jef membawa Annet, Jef telah menyewa satu vila di daerah perkebunan teh yang sangat sejuk dengan pemandangan lembah yang begitu indah di lihat dari teras vila itu.
"Aku hanya ingin berdua denganmu, melepaskan rindu yang lama tak bertemu, aku sudah menyewanya selama satu bulan keberadaan ku di sini!"
"Masa Jef?"
"Emang kenapa, nggak boleh?"
"Tapi kan itu pemborosan, kita sewa tiap kita bersama saja."
"Nggak apa-apa Annet, untuk kamu apapun aku lakukan, aku hanya ingin kita bisa bersama."
Annet mengerti perasaan Jef yang begitu lama tak bertemu, kalaupun ngabarin Annet balas saat ada waktu senggang dalam sendiri.
Mereka sepakat untuk membuat komitmen kalau hubungan mereka akan tetap berjalan dan tetap saling percaya walaupun jarak memisahkan antara Jef dan Annet.
Akhir-akhir ini Annet merasa agak gamang terhadap hubungan dengan Jef karena melihat perubahan di diri Richard yang memperlihatkan semakin tak bisa lepas dari dirinya.
Satu kemungkinan yang tak terduga mungkin saja datang yaitu keajaiban pada dirinya, kalau Richard mencintainya jelas itu akan menjadi satu pilihan bagi Annet, melepaskan Jef tak bisa di tawar lagi.
__ADS_1
Jefri seakan tidak ada arti sama sekali bagi Annet selain kenangan yang indah, yang telah mereka ukir bersama, seandainya Richard berniat serius mencintainya.
Tapi di pikir lagi sampai saat ini hanya Jefri yang tulus mencintai dirinya, dan mungkin yang dirinya cintai dengan setulus hati tanpa pamrih tanpa alasan apapun.
Richard bukan orang yang bisa di harapkan serius, dan memang tak boleh di harapkan, satu-satunya mempertahankan Jef bisa percaya dan untuk masa depannya.
"Ayo masuk, ngelamun aja!"
"Iya, Jef. Aku hanya nggak nyangka saja kita bertemu lagi saat ini."
Jef membuka pintu kamar vila yang lumayan mewah, menutupnya kembali saat mereka sudah di dalam.
"Annet, apa kamu kangen aku?"
"Jujur Jef, hanya kamu yang aku kangenin, selesai kontrak kamu berlayar, dan aku sudah bisa mengumpulkan tabunganku kita serius bicara masa depan kita."
"Annet, aku mencintaimu."
"Aku juga Jef."
Jefry memeluk erat-erat tubuh langsing tinggi itu, menciumnya dengan penuh perasaan, mulai dari bibir, leher, dan semakin turun ke dada ranum yang begitu menggoda, sedang Annet pasrah dengan perasaannya sendiri.
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
- Meniti Pelangi
- Pesona Aryanti
- Biarkan Aku Memilih
- Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1