
"Halo Benny! lo di mana? kenapa lo belum juga datang?" Baru kali ini Richard bisa nyambung dengan ponsel Benny.
"Oh iya, Bos aku minta maaf, izin untuk malam ini saja, aku nggak bisa datang."
"Lo sakit, kenapa, ada apa?" Richard memberondong Benny dengan pertanyaan dan juga merasa cemas.
"Iya aku sakit Bos, tapi sudah mendingan sudah berobat, tinggal lemesnya."
"Ya Ampuuuuun ... Benny lo sakit apa?"
"Pokoknya aku sakit, susah untuk di ceritakan, sebenarnya dari kemarin-kemarin aku sudah sakit."
"Gue tanya lo sakit apa? bila perlu dirawat saja ke rumah sakit biar cepet pulih dan sehat, di rumah lo siapa yang urus? keluargamu ibu bapak lo kan sudah tua kasihan, kalau di rumah sakit kan ada yang menangani maksud gue seperti itu."
"Nggak apa-apa Bos, ada Hanna di sini yang bisa urus aku dan mengobati aku, sudah mendingan kok."
"Lo serius nggak akan berobat ke rumah sakit?"
"Iya Bos, aku yakin pagi ini mudah-mudahan aku bisa berangkat kerja dan sehat kembali."
Richard menutup telepon otaknya berpikir kenapa Benny sakit tiba-tiba? apa Benny hanya akal-akalan karena habis berantem kemarin nya sama gue? atau memang benar-benar sakit atau syok?
Benny bukan orang seperti itu, selama ini yang Richard tahu. Kalau memang Benny sakit ya pasti sakit, tidak ada yang tidak bisa dikerjakan Benny walaupun dirinya menginstruksikan sesuatu kapanpun itu waktunya.
Gue harus tengok dan pastikan kalua Benny benar sakit dan harus mendapat perawatan maksimal biar cepat sembuh, gue nggak mau berpikir sendiri dalam menjalankan program yang begitu banyak dan juga yang paling penting masa depan gue harus terealisasi kalau bisa secepatnya.
__ADS_1
Richard keluar kamarnya mengambil kunci mobil langsung datang ke rumahnya ingin memastikan Benny baik-baik saja, kalau memang tidak memerlukan perawatan dirasa Benny sakitnya tidak terlalu parah mungkin istirahat bisa memulihkan kembali sakitnya.
Sebagai rasa empati sahabat dan atasan Richard perhatian sama anak buahnya apalagi yang sakit adalah asisten atau tangan kanannya, semua pemikirannya dalam usaha dan bisnisnya di olah di pertimbangkan sama Benny. Benny layak mendapat perhatian dan kehidupannya juga harus sejahtera.
Dalam perjalanannya Richard merasa cemas bagaimana tidak dirinya tak bisa hidup dan menjalankan semua bisnis dan usahanya seorang diri walaupun pada dasarnya bisa, tapi harus ada teman untuk menyetabilkan pemikiran dirinya saat emosi disaat dirinya lemah harus ada teman juga yang mengingatkan. sebagai partner kerja, usaha dan bisnis yang dijalankan selama ini memang cocok bersama Benny.
Richard merasa linglung karena lama banget tidak pernah berkunjung ke rumahnya Benny. Apalagi ini sudah mau malam walau baru menjelang Isya.
Terakhir datang mungkin beberapa tahun lalu saat itu dirinya belum terlalu maju juga waktu dirinya belum terlalu menanjak seperti sekarang, saat itu ada penggerebekan di klab malam miliknya dan polisi datang ke situ karena disinyalir ada transaksi narkoba. Benny tertembak tangannya karena menghalangi dirinya, saat itu datang ke rumahnya menengok setelah pulang dari rumah sakit dan dirawat beberapa hari.
Dari situ pertalian rasa yang Richard jalin dengan Benny bukan hanya sekedar teman, bukan hanya sekedar atasan dan bawahan, tetapi semua lebih dari itu Richard merasa berhutang nyawa pada Benny.
Saat ini dirinya datang kembali ke rumah saat Benny sakit juga, tidak tahu sakitnya saat ini Benny seperti apa, yang pasti saat Benny sakit dirinya yang paling cemas.
Rumah dua lantai mengarah ke lembah yang begitu indah, layak di acungi jempol, kelihatan indah dan asri.
Richard turun dan melihat-lihat tapi tidak nampak ada orang, mungkin di dalamnya.
Masih menengok ke sana ke mari juga ke dalam dengan memberi salam Richard celingukan sendiri.
"Bapak mau bertemu siapa?" Seorang paruh baya Bapaknya Benny mengagetkan Richard yang lagi celingukan di halaman.
"Oh, Bapaknya Benny ya? saya Richard dari Hotel mau cari Benny Pak."
"Oh, cari Benny? maaf tempatnya begini, mari duduk dulu di sini."
__ADS_1
Bapaknya Benny menggiring Richard untuk duduk di tempat duduk seperti pos kamling agak ke pinggir dari rumahnya.
"Maaf Pak Benny nya ada di mana?" Richard tidak sabar.
"Benny tidak cerita sama Pak Richard?" Bapaknya Benny malah bertanya pada Richard karena Bapaknya Benny tahu Richard adalah Bos anaknya.
"Maksudnya cerita apa Pak?"
"Begini Pak Richard, anak saya beni lagi membangun rumah tetapi tanpa diduga sebelumnya dia menemukan jodoh. Saya memang menyarankan untuk segera menikah tetapi bukan untuk saat ini, karena dana dan tabungan Benny mungkin semua tersedot untuk membangun rumah ini yang belum selesai sampai saat ini."
"Lantas apa hubungannya dengan Benny? Benny jadi jatuh sakit?"
"Sakit? siapa yang mengatakan Benny sakit?" Bapaknya Benny balik tak mengerti.
"Kata Benny tadi waktu saya telephon dia sakit katanya?"
"Ah, enggak kok Pak Richard, Benny nggak sakit, tapi Benny habis menikah sore tadi."
"Apa? menikah?" Richard seperti mau meloncat saja saking kagetnya.
******
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
__ADS_1