Tega

Tega
Bab 100


__ADS_3

Sarah sudah bersama dengan Kevin di dalam kamar salah seorang anak panti yang akhirnya harus pindah tidur bersama dengan bunda Tiara.


Dalam pelukan Sarah, Kevin tertidur dengan sangat cepat. Sarah masih membelai lembut kepala Kevin meski anak kecil yang begitu tampan dan menggemaskan itu sudah tertidur.


Sarah menatap lekat wajah Kevin yang begitu polos dan nyaris tanpa dosa menurut Sarah. Di dalam hatinya, Sarah merasa sangat kasihan pada Kevin.


Anak seumuran Kevin itu seharusnya sedang di sayang-sayang oleh ibunya. Anak seusia Kevin seharusnya sedang di manja-manja oleh sang ibu. Belajar banyak hal bersama ibunya. Namun saat ini Kevin bahkan tidak bisa merasakan semua itu. Bahkan sejak usianya dua bulan. Itu sangat menyedihkan.


Tanpa terasa air mata Sarah bahkan sudah mengalir, seakan bisa merasakan apa yang selama ini Kevin rasakan. Maka dari itu Sarah tak pernah menolak atau keberatan jika Kevin memanggilnya mama Sarah. Jika hal itu bisa memberi sedikit kebahagiaan bagi Kevin, maka Sarah sangat bersyukur, setidaknya dia bisa memberikan Kevin kebahagiaan dari hal kecil itu.


Tidak ada yang lebih tahu seperti apa rasanya tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua selain Sarah dan anak-anak di panti asuhan bunda Tiara. Meski bunda menyayangi mereka dengan sepenuh hati, tetap saja terkadang satu malam di antara puluhan atau ratusan malam yang mereka lalui. Mereka juga ingin bertemu dengan orang tua kandung mereka meskipun hanya sekali, dan mendapatkan pelukan dari mereka meski hanya sebentar saja. Hal itu juga tak jarang di Tarakan oleh Sarah, bahkan sampai sekarang.


Sarah menyeka air matanya, karena melihat selimut yang seharusnya untuk Tristan masih ada di atas sebuah kursi dari kamar Sarah tersebut.


Perlahan Sarah menggeser tangan Kevin yang memeluknya. Sarah bergerak perlahan turun dari tempat tidur. Sebisa mungkin Sarah tidak menimbulkan suara.


Setelah itu Sarah meraih selimut itu dan keluar dari kamar dengan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara yang akan membangunkan Kevin dari tidurnya.


Saat akan tiba di ruang tengah, Sarah menghentikan langkahnya begitu mendengar Tristan bicara dengan Rendra.


"Ini pasti selimut untukku, berikan padaku!" kata Tristan yang menarik selimut yang bahkan sudah akan di pakai oleh Rendra.


"Jangan seperti anak kecil Tristan. Selit ini ada di atas bantal ku. Bagaimana bisa ini selimut mu. Jangan tarik dan jangan buat keributan. Cepat tidur!" kata Rendra yang sudah sangat lelah sepertinya.


Pria tampan yang berstatus duda dan memiliki satu anak itu terlihat menguap sambil berusaha mempertahankan selimutnya dari tarikan tangan Tristan.


"Tidak mungkin kakak, Sarah itu istriku. Dia tidak mungkin lebih memperhatikan mu daripada aku!"


"Siapa bilang, kalau kamu terus bersikap acuh padanya. Apa alasannya terus memperhatikan mu?" tanya Rendra.

__ADS_1


Tristan pun terdiam, tangannya bahkan sudah dia lepaskan dari selimut yang di pegang Rendra.


Tristan lalu terduduk di sofa, tempat seharusnya dia tidur.


"Tapi aku dan Shanum saling mencintai kak!" lirih Tristan yang mengatakan hal seperti itu sambil menundukkan kepalanya.


Sarah yang berdiri di balik dinding di ruangan sebelah itu hanya bisa diam sambil mengeratkan genggamannya pada selimut yang dia bawa.


Sarah tidak tahu kenapa, tapi setiap mendengar Tristan mengatakan dia mencintai Shanum. Hati Sarah merasa sakit. Mungkin karena status Tristan adalah suami Sarah, jadi ketika seorang suami berkata bahwa dirinya mencintai wanita lain. Maka hati seorang istri akan terluka. Sarah mencoba untuk berpikir seperti itu.


Sedangkan Rendra juga masih diam. Tapi setelah beberapa saat pria tampan itu menghela nafas dan melihat ke arah Tristan.


"Apa kamu yakin itu?" tanya Tristan.


Pertanyaan dari sang kakak, membaut Tristan yang tadinya tertunduk langsung mengarahkan pandangannya kepada sang kakak.


"Apa maksudmu?" tanya Tristan dengan wajah yang tidak senang.


"Lalu, kenapa dia memilih ke luar negeri setelah kamu membantu semuanya, maksudku Shanum masuk agensi itu karena kamu kan Tristan, karena nama belakang mu. Jika tidak dia tidak akan bisa masuk ke sana. Tapi setelah itu dia malah meninggalkan mu, mengejar karirnya bahkan tidak mau datang di hari ulang tahun mu yang hanya di rayakan satu tahun sekali. Jika kamu bisa berpikir secara rasional. Maka kamu akan menyadari hal ini. Dia, Shanum Margaretha itu, lebih memilih karir dari pada kamu!"


Deg


Tristan sampai terhenyak ke belakang mendengar semua yang di katakan oleh Rendra.


"Aku punya satu hal yang sebenarnya tidak ingin aku sampaikan padamu. Tapi karena kamu terus bersikeras Shanum itu mencintaimu seperti kamu mencintainya maka akan aku tunjukkan!" lanjut Rendra.


Rendra lalu berdiri dan meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja di dekat sofa tempatnya tidur.


Rendra terlihat mencari sesuatu di ponselnya sambil berdiri. Setelah menemukan apa yang dia cari. Rendra lantas berjalan menghampiri Tristan dan menunjukkan sebuah video yang ada di layar ponselnya.

__ADS_1


Tristan memegang ponsel yang di ulurkan oleh Rendra. Sebuah video tentang wawancara eksklusif sebuah media lokal dengan seorang designer yang tengah naik daun bernama Shanum Margaretha.


"Apa yang mau kakak tunjukan? kesusksesan Shanum?" tanya Tristan.


Rendra yang mendengar apa yang dikatakan oleh Tristan malah terkekeh.


"Tunggu dan lihatlah!" kata Rendra.


Cukup lama Tristan melihat dan mendengar video tersebut. Sampai sekarang wartawan menanyakan tentang status Shanum. Dan dengan tegas, sambil tersenyum, tanpa keraguan Shanum mengatakan dirinya single. Shanum bahkan tersenyum senang begitu wartawan itu bilang 'Lihatlah para pemuda kota Paris, gadis cantik berbakat dan sukses di hadapan kalian ini single'.


Tristan langsung menggenggam erat ponsel Rendra seperti hendak meremukkan nya. Dengan cepat Rendra meraih ponselnya dari tangan Tristan.


"Jangan lampiaskan amarahmu pada ponselku!" kata Rendra lalu kembali ke sofa tempat dia seharusnya akan tidur.


Tristan terdiam, dia benar-benar tak menyangka di saat sudah menikah saja Tristan masih terus mengatakan kalau Shanum adalah kekasihnya, orang yang paling dia cintai. Tapi dia sungguh tidak menyangka jika Shanum malah mengatakan di depan wartawan yang bisa saja di lihat oleh seluruh dunia tayangan itu, kalau dirinya single. Tristan benar-benar terpukul atas pernyataan Shanum tersebut.


Shanum bahkan tidak mengatakan apapun padanya tentang hal itu. Jika Rendra tidak memberitahukan hal itu padanya. Maka selamanya mungkin Tristan tidak akan pernah tahu.


Tristan mengusap wajahnya dengan kasar. Rendra yang melihat hal itu pun mengerti kalau adiknya benar-benar merasa sangat kecewa. Namun apa yang di lakukan oleh Rendra itu juga adalah untuk kebaikan Tristan.


Rendra ingin mata Tristan secepatnya terbuka, dan bisa mengetahui siapa yang benar-benar akan tulis padanya. Dan siapa yang bisa meninggalkan dirinya kapan saja. Wanita ambisius seperti Shanum, Rendra juga pernah hidup bersama wanita seperti itu. Dan cinta wanita ambisius itu bisa berubah kapan saja, dan hanya luka yang di rasakan Rendra. Rendra tak ingin Tristan seperti itu.


Sarah yang juga mendengarkan semua percakapan Rendra dan Tristan kini mengerti. Jika Rendra memang melakukan semua ini untuk adiknya agar tak mengalami luka yang sama seperti dirinya. Sarah malah jadi semakin tak mengerti, pria baik seperti Rendra. Bagaimana seorang wanita bisa meninggalkannya.


Perlahan Sarah menghampiri Tristan yang masih terduduk dengan posisi tertunduk, dan kedua tangan menopang dahinya. Sementara kedua lututnya menopang kedua sikunya.


Rahang pria itu mengeras, tandanya dia sangat marah saat ini. Sarah hanya meletakkan selimut itu di samping Tristan tanpa berkata apapun lalu pergi.


Meski menyadari Sarah meletakkan selimut itu di sampingnya. Tristan juga tidak mau bicara. Dia masih menunduk, pikirannya benar-benar kacau. Dia tak habis pikir kenapa Shanum tega mengatakan dirinya single. Itu artinya sama saja dia tidak menganggap Tristan itu ada. Kalau di anggap saja tidak, bagaimana mungkin rasa cinta itu ada.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2