
Richard yang sebenarnya juga sudah tahu kalau Tristan akan melamar pekerjaan di cafe, begitu terkejut. Tristan memang mengatakan kalau akan melamar pekerjaan di sebuah cafe, tapi waktu itu Tristan bilang akan melamar pekerjaan di cafe yang letaknya dekat apartemen Richard.
Richard pikir di daerah situ, tidak akan ada banyak orang yang mengenali Tristan. Karena memang bukan daerah perkantoran. Malah banyak universitas dan sekolah di situ. Siapa sangka malah Tristan bekerja di cafe dekat rumah sakit Medika. Yang jelas-jelas adalah kawasan perumahan, dan banyak karyawan PT Arya Hutama tinggal di sekitar tempat itu.
Dan yang lebih membuat Richard kaget bukan main lagi. Tristan malah jadi pelayan di cafe itu. Bagaimana Richard tidak terkejut mendengar hal itu.
Arumi yang terlanjur kesal pada Richard, lantas mengajak Richard pergi ke kafe itu saat itu juga.
"Eh, kok aku di ajak juga. Oh em... eh!"
Baru saja Richard akan mengatakan kata andalannya itu. Tangan Arumi malah sudah terkepal di depan wajah Richard. Membuat Richard tidak jadi mengatakan hal tersebut.
"Maaf nona Sarah, aku banyak sekali pekerjaan. Satu jam lagi aku harus meeting. Aku mohon mengertilah nona Sarah!" ujar Richard yang sebenarnya memang seperti itu. Dia benar-benar sangat sibuk danang harus meeting.
"Nona Sarah, tidak mau ikut meeting. Kan tuan besar...!"
"Hei, sekali lagi ngomong aku bogem ya. Capek kali aku kasih tahu kamu tuh ya, Sarah menolak jadi CEO. Kasih pengumuman sana ke karyawan biar gak pada salah paham lagi!" kata Arumi.
Richard terlihat semakin mundur saat Arumi semakin maju karena memang gemas dan ingin melayangkan satu tinju saja kalau bisa ke wajah Richard yang menurut Arumi sangat tonjokable itu.
"Arumi sudah, kamu mau lihat Tristan kan? ayo!" kata Sarah.
"Awas kamu!" Arumi masih berbalik sekali lagi dan menggertak Richard sambil menunjuk ke arah matanya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu menunjuk ke arah Richard. Begitu beberapa kali dia lakukan sebagai pertanda kalau Arumi mengawasi Richard.
"Oh emji... kumat deh tuh Rambo women, capek deh!" gerutu Richard dengan gaya khasnya.
Richard juga sebenarnya hanya menjalankan tugas saja. Jadi dia memang tak bisa berbuat apa-apa lagi, apalagi harus kasih pengumuman revisi (sudah kayak novelnya author aja banyak revisi).
Beberapa saat kemudian, Arumi menepikan mobilnya di dekat cafe tempat Tristan bekerja.
__ADS_1
"Wah, Sarah. Itu cafe kedatangan artis ya, jangan-jangan my bias kesasar lagi masuk tuh cafe. Penasaran banget deh, ngantrinya sampai di depan cafe gitu kayak ular tangga. Ih penasaran, lihat ah!" kata Arumi yang langsung melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
Sarah yang juga sangat penasaran kenapa cafe itu begitu ramai bahkan sampai ada yang antri di luar juga mengikuti langkah Arumi.
'Kasihan sekali, pasti Tristan akan sangat lelah!' batin Sarah sambil berjalan ke arah cafe.
Bagaimana pun juga Sarah masih menaruh simpati pada Tristan. Dia yang tidak biasa kerja keras, harus jadi pelayan. Dan melayani banyak tamu seperti ini, Tristan pasti sangat lelah. Setidaknya itu yang ada di pikiran Sarah.
Arumi pun berbaris di antrian, di belakang Arumi sudah ada orang. Tapi dia menarik tangan Sarah agar mendekat ke arahnya.
"Eh, ngantri dong!" kata wanita di belakang Sarah yang terlihat tidak senang antriannya di serobot oleh Sarah yang di tarik Arumi.
"Aku ke belakang aja!" kata Sarah tak enak hati.
"Sssttt, ini. masih panjang loh. Aku gak mau lah nunggu sendirian, bete. Enak kalau ada teman ngobrol kan!" kata Arumi beralasan.
"Gak bisa gitu dong...!"
"Heh, ngomong apa?" tanya Arumi dengan tatapan garang.
Wanita yang ada di belakang Sarah langsung menunduk dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Sarah hanya terkekeh melihat apa yang terjadi di depannya. Beginilah enaknya punya teman seperti Arumi, bisa nyelip antrian. Meski itu tidak baik, tapi sekali sekali boleh juga kan.
Arumi yang iseng pun menepuk bahu wanita yang ada di depannya. Kalau di perhatikan, memang kebanyakan yang antri di depan cafe ini wanita, kebanyakan memang wanita.
"Eh mbak, antriannya panjang banget sih? emang biasanya begini ya? makanan disini enak banget ya?" tanya Arumi penasaran.
"Enggak mbak, biasanya gak kayak gini. Makanannya juga biasa-biasa aja. Tapi ada pelayan baru mbak, ya ampun ganteng banget. Verrell Bramasta sih, lewat mbak?" kata wanita yang ada di depan Arumi.
__ADS_1
Wajah Arumi langsung menunjukkan keterkejutannya.
"Woh, Verrell Bramasta aja lewat. Wah Al Ghazali dong!" kata Arumi sambil terkekeh.
Sarah pun ikut terkekeh. Bisa-bisanya Arumi membandingkannya seperti itu.
"Beneran seganteng itu?" tanya Arumi lagi pada wanita yang ada di depannya.
"Iya, saya tuh tahu dari keponakan saya. Yang ngantri ini asal beli satu capuccino, bisa foto dan gratis tanda tangan cowok ganteng itu!" kata mbak di depan Arumi sangat antusias.
"Wah, kepo nih!" kata Arumi.
Tapi Sarah punya pikiran lain tentang pria tampan, dan pelayan yang baru bekerja di cafe itu pagi ini.
Setelah antrian sudah banyak lewat, lalu Sarah dan Arumi berhasil masuk ke dalam cafe.
Mata Arumi membelalak sempurna.
"Manusia batu?" tanya Arumi.
Ternyata pria yang bekerja sebagai pelayan, yang menjadi artis dadakan di cafe itu adalah Tristan. Dari tempat mereka berdiri. Sarah dan Arumi bisa melihat Tristan yang tengah duduk di sebuah kursi membagikan tanda tangan dan berfoto bersama para pelanggan.
Meski posisi Tristan duduk saat di foto tapi ada beberapa wanita yang terlihat sangat genit dan tersenyum nakal pada Tristan. Meski tidak bisa menyentuhnya karena memang hanya boleh foto di tempat duduk, tapi rasanya Sarah tidak senang melihat pria yang masih suaminya itu berfoto dengan banyak wanita yang jelas-jelas mengagumi Tristan.
"Wah, harus aku buat Vidio ini, biar si mulut bau bawang tuh lihat. Tristan gak sengsara loh di sini, dia kerja di sini juga kerjanya cuma bagi tanda tangan sama tebar pesona doang!" kata Arumi asal ceplas-ceplos dan tidak melihat ke arah Sarah yang wajahnya sudah merah kesal. Karena Arumi memang sedang sibuk mengabadikan momen artis dadakan Tristan tersebut.
'Aku salah kalau khawatir padanya dan mengira kalau dia akan sangat lelah karena bekerja keras. Senyumnya bahkan sangat lebar, meladeni banyak wanita berfoto dengannya!' batin Sarah yang agak kesal, bukan agak sih, tapi memang sangat kesal.
***
__ADS_1
Bersambung...