
Bunda Tiara sedang memandangi seorang wanita dengan gaun pengantin bernuansa nasional. Wanita yang sudah 24 tahun dia rawat, dia besarkan, dan selalu ada bersamanya saat bunda Tiara tersenyum, menangis, tertawa bahkan di saat tersulitnya.
Tanpa terasa air mata bunda Tiara mengalir begitu saja. Meski air mata itu bukanlah air mata kesedihan, namun merupakan air mata kebahagiaan. Namun tetap saja saat Sarah melihat ke arah pantulan cermin dimana bunda Tiara tengah berdiri dalam diam di belakangnya, di dekat pintu masuk. Dengan terus memandang ke arahnya. Membuat Sarah langsung menoleh.
"Nona, jangan menoleh dulu. Sebentar, ini sanggulnya sedikit lagi selesai!" kata mbak-mbak makeup artis yang merias Sarah.
Bunda Tiara yang menyadari hal itu, langsung berjalan cepat menghampiri Sarah dan menepuk bahunya pelan.
"Lanjutkan dulu nak!" kata bunda Tiara sambil menyeka air matanya.
"Bunda, kenapa bunda menangis?" tanya Sarah dengan raut wajah sedih.
Mendengar pertanyaan itu dari Sarah, bunda Tiara pun lantas mengulas senyum di wajahnya.
"Ini air mata kebahagiaan nak, ini air mata kebanggaan. Bunda sangat bahagia dan bangga sekali padamu, bukan hanya hari ini. Setiap saat bunda sangat bangga padamu, tapi hari ini kebahagiaan bunda terasa sangat lengkap. Gadis kecil kesayangan bunda, kini sudah menjadi wanita yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya dan akan mengemban tanggung jawab sebagai seorang istri!" Bunda Tiara menjeda kalimatnya dan membantu makeup artis yang sedang memasang kerudung di sanggul Sarah.
"Bunda akan selalu mendoakan kebaikan dan kebahagiaan mu, nak. Berjanjilah pada bunda, kalau kamu harus bahagia, ya nak!" ujar bunda Tiara yang sudah tak bisa berkata-kata lagi.
Bunda Tiara benar-benar merasa haru, sedih, tapi juga bahagia dalam satu waktu, pada saat yang bersamaan. Sampai bunda Tiara rasanya tak sanggup berkata-kata.
Pukul sembilan tepat, Tristan yang sudah memakai setelan jas pengantin di dampingi Tristan dan sang ayah sudah duduk di meja yang akan menjadi tempat akad nikah di laksanakan.
Meskipun dirinya sangat angkuh dan arogan, namun siapapun bisa melihat kalau kali ini Tristan terlihat gugup. Berulangkali Tristan melakukan gerakan berulang-ulang yang tidak jelas. Mengusap hidungnya yang bahkan tidak terasa apa-apa. Atau menoleh ke arah pintu dimana seharusnya Sarah akan keluar dari tempat itu menuju pelaminan dimana dia sedang berada saat ini.
"Dimana wanita itu, bukankah ini sudah waktunya? benar-benar tidak disiplin!" gumam Tristan yang masih dapat di dengar oleh Arya Hutama yang duduk di dekat Tristan, tepatnya di sebelah kirinya.
"Tristan, jaga bicaramu. Jangan membuat ulah, setidaknya untuk hari ini!" seru Arya Hutama dengan tegas pada Tristan.
__ADS_1
Belum bisa Tristan menjawab, pembawa acara sudah mengumumkan kedatangan Sarah.
Semua mata dan pandangan semua orang tertuju pada sebuah pintu, dimana seorang wanita dengan gaun paling sempurna dan terlihat sangat cantik dari siapapun yang ada di dalam ruangan itu, keluar dan berjalan menuju ke pelaminan. Di dampingi bunda Tiara dan Arumi di kanan dan kiri. Lalu Indah dan Gita yang berjalan di depan Sarah sambil menabur bunga ke arah belakang.
Hingga jalan yang di lintasi Sarah benar-benar penuh dengan kelopak bunga berwarna merah, ungu, putih, merah muda, dan pastel. Sangat indah.
Rendra bahkan tersenyum melihat calon adik iparnya yang menurutnya terlihat sangat berbeda dari biasanya. Bahkan si pria batu juga ikut terpesona melihat calon pengantinnya yang berjalan mendekati pelaminan dengan langkah pelan dan terlihat sangat anggun. Meski Sarah berjalan dengan pandangan yang lebih banyak menunduk ke arah bawah. Namun tak mengurangi anggunnya wanita cantik itu.
Richard yang melihat bosnya tertegun langsung terkekeh geli sendiri. Sementara Rendra yang tak sengaja menoleh ke arah Tristan langsung memegang lengan sang ayah yang duduk di depannya. Ketika Arya Hutama menoleh ke arah Rendra, putra sulungnya itu menunjuk ke arah Tristan.
Pandangan Arya Hutama lalu beralih pada Tristan. Dan Arya Hutama langsung ikut tersenyum sama persis seperti yang tadi dilakukan Rendra ketika melihat Tristan tersenyum.
Sementara itu Tristan masih melihat ke arah Sarah, yang tanpa sengaja juga melihat ke arah Tristan.
Ketika pandangan mereka saling bertemu, Tristan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
Kali ini dia mengomel pada dirinya sendiri. Tapi salah Tristan, dia malah menoleh ke arah sang ayah yang jelas tengah menaikkan kedua alisnya ketika melihat ke arah Tristan.
"Apa?" tanya Tristan bingung.
"Oh emji, makanya kalau di suruh gladi resik itu, nurut bos. Bos harus berdiri dan menyambut nona Sarah dari situ!" ucap Richard yang menunjuk ke arah tempat dimana seharusnya Tristan menjemput Sarah dan menggandengnya ke pelaminan.
Tristan lantas langsung berdiri, Rendra dan Arya Hutama hanya bisa saling pandang dan tersenyum. Karena mereka tak perlu mengatakan sampai dua kali seperti biasanya, tapi Tristan sudah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Tristan menyambut Sarah, dia mengulurkan tangannya pada Sarah. Sarah pun memberikan tangannya, dan mereka berjalan bersama menuju pelaminan. Richard menarik kursi dan membantu merapikan kerudung Sarah saat dia akan duduk. Begitu mereka semua sudah duduk di posisi masing-masing pak penghulu pun segera memimpin doa dan mengucapkan beberapa nasehat pernikahan untuk Sarah dan Tristan.
Semakin mendengar nasehat dari pak penghulu, Tristan semakin terlihat gelisah. Hingga saat pak penghulu bertanya apakah Tristan sudah siap atau belum.
__ADS_1
"Bagaimana? bisa kita mulai sekarang?" tanya penghulu itu yang langsung di angguki oleh Arya Hutama, Rendra, dan Tristan yang terakhir mengangguk.
Pak penghulu pun menjabat tangan Tristan, karena Sarah tidak diketahui keberadaan orang tuanya sejak lama. Maka Sarah yang sudah di anggap sebagai yatim piatu pun menyerahkan perwalian dirinya pada pak penghulu sebagai wali hakim.
Ucapan ijab pun di ucapkan oleh penghulu, dan ketika penghulu itu menghentakkan tangannya. Tristan langsung menyambut dengan ucapan Qabul.
"Bagaimana saksi? sah?" tanya penghulu setelah Tristan selesai mengucapkan kalimat qabul-nya meskipun dalam tiga kali tarikan nafas karena Tristan memang terlihat sangat gugup.
"Sah!"
"Sah!"
Sarah tak bisa untuk tidak menangis, ketika dia mendengarkan kalimat seorang pria yang sudah berjanji akan menjadi imam untuknya seumur hidupnya.
"Alhamdulillah!" ucap bunda Tiara yang langsung memeluk Arumi yang ada di sebelahnya.
Mereka berdua juga menangis karena terharu, Arumi juga sangat bahagia untuk Sarah.
'Selamat Sarah, selamat menempuh kehidupan baru sebagai seorang istri. Semoga kamu selalu bahagia, hari-harimu selalu di hiasi senyuman. Semoga si galak itu berubah bucin padamu!' doa Arumi dalam hatinya.
Tapi tak lama kemudian, pandangan Arumi beralih pada Rendra yang juga sepertinya tengah berdoa.
'Semoga pria tampan di sana itu, mendapatkan kebahagiaannya juga!' doa Arumi sambil tersenyum.
***
Bersambung...
__ADS_1