Tega

Tega
Bab 119


__ADS_3

Jerry Alando dan Inka Prastiwi bak raja dan ratu di malam itu. Mereka tampak serasi dengan pakaian pengantin yang terlihat sangat fantastis. Bisa di lihat dari berbagai berapa jumlah red beryl yang menghiasi gaun pengantin Inka.


Kedua keluarga juga sangat terlihat bahagia. Hingga saat pembawa acara meminta agar Alan mengajak Inka berdansa. Dengan sengaja Alan menggalang kakinya di depan gaun Inka saat istrinya itu menyambut uluran tangannya. Hingga saat Inka berjalan maju, dia pun terjatuh.


"Agkhhh!" pekik Inka.


Namun merasa sudah cukup melukai kaki Inka, dengan wajah yang di buat pura-pura terlihat khawatir. Jerry Alando langsung menangkap tubuh Inka. Membuat wanita yang memang cinta mati pada Alan itu menghadap ke arah Alan. Dan terkagum-kagum lagi pada suaminya itu karena dengan sigap menangkap dan menahan dirinya agar tidak jatuh.


Semua orang juga terlihat terpana. Widya bahkan langsung menghampiri putri dan menantunya.


"Inka sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Widya khawatir.


Mendengar Widya mendekat dan bertanya. Alan langsung membantu Inka untuk kembali berdiri.


"Pelan-pelan!" kata Alan bak malaikat penyelamat.


Padahal dirinya lah yang sudah membuat Inka jatuh, namun sayangnya Inka tidak sepintar itu sampai menyadari kalau yang telah membuatnya hampir jatuh adalah Alan sendiri.


Widya langsung menatap Alan dengan haru, di matanya Alan terlihat sangat perhatian dan menjaga Inka. Buktinya dia dengan sigap menangkap istrinya hingga tak sampai terjatuh.


"Nak Jerry, terimakasih. Inka sayang, apa ada yang sakit?" tanya Widya.


Anika juga mendekat ke arah mereka.


"Semua baik-baik saja?" tanya Anika.


Namun begitu Inka akan melangkahkan kakinya. Kaki kirinya terasa sakit, akibat di hadang kaki Alan tadi. Sepatu hak tinggi yang di pakai Inka sepertinya memperparah keadaannya.


"Ibu, kaki ku sakit. Sepertinya terkilir!" kata Inka mengeluh pada Widya.


Wajah Widya dan Anika sontak saja langsung menjadi panik.


"Ada apa?" tanya Steven.


"Kaki Inka terkilir!" jawab Anika cepat.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? ya sudah. Tidak usah berdansa segala!" seru Steven yang tak mau semua tamunya menyadari apa yang sebenarnya terjadi.


Steven lantas memanggil Tarmizi, dan meminta agar pembawa acara melanjutkan ke acara berikutnya saja. Alan tampak tersenyum puas karena dia memang tidak ingin sama sekali berdansa dengan Inka. Begitu tujuannya tercapai, Alan bahkan akan meninggalkan wanita yang cinta mati padanya itu secepatnya.


Namun dari salah satu pojok, di antara banyaknya hiasan bunga. Seorang pria tengah berdiri sambil mencengkram kuat gelas minuman yang dia pegang. Mungkin semua orang tidak melihat, tapi Raes melihat apa yang dilakukan Alan pada Inka.


Rahangnya mengeras, tentu saja dia tidak terima Alan melakukan hal buruk seperti itu pada wanita yang sudah dia suka sejak dulu. Hanya saja Raes juga bingung, seburuk apapun Alan, tetaplah menjadi yang paling baik di mata Inka. Hal itu yang membuat Raes tak mengerti.


***


Di rumah sakit, Kevin dan Rendra sudah datang. Malam ini masih giliran Rendra yang menjaga Tristan.


Tapi dari atas tempat tidurnya, dengan posisi duduk berselonjor. Tristan tampak bete, wajahnya tampak tidak senang. Sebab sejak Kevin datang, perhatian Sarah langsung teralihkan pada keponakannya itu.


Sarah membantu Kevin mengerjakan tugas sekolahnya. Sedangkan Rendra sibuk sendiri dengan laptop dan pekerjaannya.


"Kak, ini sudah malam. Tidak baik mengajak anak kecil keluar malam begini. Apalagi ini rumah sakit!"


Tristan berusaha menegur Rendra, karena sangat kesal sejak tadi Sarah lebih di sibukkan dengan urusan membantu Kevin mengerjakan tugas sekolahnya. Padahal kan Tristan sedang dalam tahap berusaha mendekati Sarah dan meluluhkan hatinya untuk bisa memaafkan segala kesalahan Tristan di masa lalu. Sekarang usahanya harus terhambat karena kehadiran Kevin dan Rendra. Tentu saja itu membuat Tristan kesal.


"Terimakasih banyak kamu sudah perduli pada Kevin. Tapi sebelum kamu sadar, kami berdua memang selalu menginap di sini untuk menjagamu!" kata Rendra yang langsung berdiri lalu mendekati tempat tidur Tristan.


"Kamu baru sadar dari koma, sebaiknya kamu banyak beristirahat. Aku akan matikan lampu bagian tempatmu ini. Biar lampu di sana saja yang menyala, karena Kevin masih mengerjakan tugas sekolahnya!" kata Rendra baik-baik.


Rendra bahkan mematikan lampu bagian Tristan, dan menuntun adiknya itu untuk berbaring. Lalu menyelimuti Tristan. Dan karena Tristan masih dalam mode sandiwaranya. Maka Tristan sama sekali tidak membantah Rendra. Kalau dia keras kepala, mungkin sandiwara pura-pura amnesianya akan terbongkar. Karena Rendra sempat mengatakan padanya kalau Tristan itu orangnya sangat baik dan pengertian.


'Hais, tidak bisa begini terus. Aku harus secepatnya keluar dari rumah sakit ini. Bagaimana pun, aku harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan Sarah. Atau Sarah bisa benar-benar berpaling pada duda tua ini dan anaknya yang memang manis sekali itu!' batin Tristan.


Setelah itu, Rendra kembali ke pekerjaannya. Dari sisi Tristan, dia terus memperhatikan Sarah yang tengah mengajari Kevin dengan sabar dan terus sambil tersenyum. Karena pengaruh obat juga, lama-lama sambil memperhatikan Sarah. Tristan pun akhirnya tertidur.


Dan beberapa menit kemudian, Sarah juga telah selesai membantu Kevin mengerjakan tugas sekolahnya. Dan Sarah dengan Kevin pun memutuskan untuk pulang ke kediaman Hutama.


Karena pekerjaan Rendra sudah selesai. Rendra pun memutuskan untuk mengantarkan anak dan adik iparnya itu sampai ke basemen rumah sakit. Sampai di tempat, dimana supir keluarga mereka telah menunggu.


Namun ketika Rendra, Sarah dan Kevin yang di gandeng oleh Sarah menunggu di depan lift. Tiba-tiba saja pintu lift itu terbuka.

__ADS_1


Ting


Rendra yang kala itu fokus pada celotehan Kevin dengan Sarah tersenyum ke arah Kevin dan Sarah. Tanpa dia sadari ternyata yang berada di hadapannya adalah seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupnya.


"Wah, Rendra Hutama. Kebetulan sekali!" sapa seorang wanita yang berpenampilan begitu mewah hanya untuk pergi ke rumah sakit di malam hari.


Rendra pun menoleh ke arah sumber suara, begitu pula dengan saran dan Kevin. Sarah terlihat sangat terkejut, sampai menggenggam tangan Kevin dengan erat. Sedangkan Rendra, dia berusaha menyembunyikan semua perasaannya, dari marah, kesal dan rasa cintanya yang belum hilang untuk wanita yang ada di depannya itu.


Wanita di depannya itu melihat ke arah Rendra, lalu Kevin dan Sarah secara bergantian.


"Aku pikir kamu akan depre5i setelah kepergianku meninggalkan mu, ternyata kamu malah punya keluarga baru. Baguslah! setidaknya kamu memang tidak secinta itu padaku. Jadi aku tidak perlu merasa bersalah kerena telah meninggalkan mu...!"


"Hei nyonya, apa anda tidak lihat di sini ada anak kecil? apa pantas anda bicara seperti itu?" sela Sarah bertanya pada wanita di depannya itu.


Sarah terlihat sangat kesal pada wanita di depannya itu. Jelas sekali, dari tatapan Sarah yang ingin sekali mencakar wanita di depannya itu.


"Kak Rendra, tidak usah mengantar kami. Aku dan Kevin pulang dulu. Selamat malam!" ucap Sarah yang langsung menggandeng Kevin yang masih celingak-celinguk kebingungan masuk ke dalam lift dan menutup pintu lift tersebut.


Wanita itu pun terlihat terdiam sejenak sebelum kembali melihat ke arah Rendra dan bertanya.


"Itu Kevin..?" tanya nya dengan wajah yang tak dapat di deskripsikan sedang berpikir tentang apa.


"Iya Gisella, itu Kevin. Putraku, dan kalau kamu masih ingat itu putramu juga!" kata Rendra yang membuat wajah wanita yang ternyata adalah Gisella Priscilla itu mematung seketika.


Rendra pun segera berbalik dan ingin pergi meninggalkan wanita yang pernah beberapa tahun menghabiskan hari-hari indah bersamanya itu. Namun Gisella langsung menghentikan Rendra dengan menarik tangan Rendra.


"Rendra tunggu!"


Rendra pun menepis tangan Gisella dan hanya menoleh ke arahnya sekilas. Sambil membelakangi Gisella Rendra pun berkata.


"Jangan usik kehidupan anakku lagi Gisella, dia sudah lima tahun terbiasa hidup tanpamu!" ucap Rendra dan langsung meninggalkan Gisella yang masih diam mematung begitu saja.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2