
Pagi-pagi sekali Arumi yang meskipun pulang ke rumahnya juga tetap tidak bisa tidur dengan nyenyak sudah bersiap dan membangunkan suaminya.
"Mas, bangun! ayo ke rumah sakit!" kata Arumi.
Rendra langsung bangun dan duduk sambil mengusap wajahnya.
"Sayang, ini jam berapa? kamu sudah rapi? kamu bangun jam berapa?" tanya Rendra panjang lebar.
Sejak menikah dengan Arumi, sepertinya Rendra yang pendiam sudah mulai tertular menjadi cerewet seperti Arumi.
"Mas, ini jam 6, buruan bangun, mandi! aku akan siapkan sarapan mu!" kata Arumi.
Rendra pun langsung mengangguk patuh. Dia melompat dari atas tempat tidur dan langsung berlari ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian setelah sarapan, Rendra dan Arumi pergi menuju rumah sakit. Setelah sebelumnya meminta salah seorang supir keluarga Hutama untuk ke rumah kontrakan Nida dan menjemput saudara-saudara Arumi ke rumah Arumi.
Sementara itu di rumah kontrakan Nida, Arista sedang menyiapkan kedua anaknya. Setelah memandikan, mengganti pakaian dan memberi mereka sarapan. Arista memakaikan dua anaknya tas ransel yang dulu di pakai untuk mereka sekolah.
"Sudah siap!" kata Arista sambil tersenyum dan mengusap pipi kedua anaknya.
"Mommy, kita mau kemana lagi?" tanya Raja.
"Apa kita akan bertemu Daddy?" tanya Ratu.
Arista terdiam sebentar, dia sedih mendengar anaknya berkata seperti itu. Sebenarnya Gabriel hanya menceraikan Arista saja karena dia tidak mau ikut menanggung masalah akibat ulah Chandra Wijaya.
Namun saat Gabriel mengusir Arista dari rumah, Arista mengungkapkan kebenaran yang hanya di ketahui oleh dirinya dan kedua orang tuanya kalau Raja dan Ratu bukanlah anak kandung Gabriel. Ketika Arista menikah dengan Gabriel, Arista memang sudah hamil anak kekasihnya yang telah meninggal.
Gabriel tidak percaya dan melakukan tes DNA, setelah hasilnya memang sesuai dengan perkataan Arista. Gabriel pun merasa kesal dan mengusir Arista juga kedua anaknya itu dari keluarga Gabriel.
Dan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari kedua anaknya, Arista tahu mereka tak akan mengerti jika Arista menjelaskan tentang hal yang sebenarnya.
__ADS_1
Arista hanya berjongkok di depan Raja dan Ratu, lalu memandang mereka satu persatu.
"Sayang sayangnya mommy, dengarkan mommy ya. Mulai sekarang kalian tidak boleh panggil tuan Gabriel dengan sebutan Daddy lagi!"
"Kenapa mommy?" tanya Ratu yang terlihat tidak terima.
"Karena tuan Gabriel bukan Daddy kalian lagi sekarang. Nanti kalau kalian sudah besar, mommy akan jelaskan. Dan sekarang kita akan pergi dan tinggal di rumah aunty Arumi. Maafkan mommy, karena kalian juga harus pindah sekolah. Tapi kalian tenang saja, sekolah kalian akan sangat seru!" jelas Arista pada kedua anaknya.
"Benarkah mommy?" tanya Raja antusias.
"Tentu saja, ada jungkat-jungkit, ada perosotan, ada ayunan dan ada tukang eskrim di depan gerbang!" kata Arista memberi semangat pada kedua anaknya.
Renata yang melihat semua itu merasa sangat sedih. Arista begitu terlihat tegar, padahal dia masih punya Raja dan Ratu yang harus dia urus. Sedangkan Renata, dia hanya mengurus dirinya sendiri. Tapi masih terus banyak protes.
Setelah semua siap, mereka lantas berpamitan pada Nida. Dan segera menuju ke rumah lama Arumi di antarkan oleh supir.
Sementara Arumi yang sudah sampai di rumah sakit, langsung menuju ke kamar rawat maminya.
"Mami!" panggil Arumi ketika baru saja membuka pintu dan melihat Yuliana sudah sadar dan sedang di periksa tensi darahnya oleh dokter dan seorang perawat.
"Arumi!" lirih Yuliana.
"Masih ada Arumi, mi. Mami jangan khawatir, aku akan menjaga mami!" kata Arumi sambil menahan tangisnya.
Dia tidak mau menangis karena tak mau maminya ikut sedih.
Tapi Yuliana yang malah menangis karena kasihan pada Arumi.
"Maafkan mami yang tidak bisa membantumu saat itu nak..!"
"Mami bilang apa? mami sudah banyak membantuku. Sudahlah, jangan pikirkan yang sudah berlalu. Sekarang mami jangan banyak pikiran, supaya mami cepat sehat!" kata Arumi memeluk ibunya.
__ADS_1
"Papi Mu nak?" tanya Yuliana.
Arumi lantas menarik dirinya dari pelukan Yuliana. Memberi jarak agar dia bisa menatap maminya itu. Dia tahu meskipun Chandra Wijaya telah meninggalkan mereka di saat tersulit. Tapi Chandra Wijaya juga yang memberi mereka kehidupan yang nyaman, tempat tinggal, pendidikan dan makan setiap harinya. Bagi Yuliana, dia tidak bisa langsung membenci suaminya hanya karena sudah meninggalkannya. Padahal suaminya sudah berbuat banyak hal untuk kesejahteraan keluarga mereka.
"Papi, dia jadi DPO mi! aku pikir dia pasti sudah ke luar negeri!" kata Arumi.
"Iya tidak apa-apa. Setidaknya dia bisa berpikir dan menenangkan dirinya, akan lebih baik jika dia kembali dan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Meskipun kemungkinan itu sangat kecil, tapi mami berharap papi sadar!" kata Yuliana terdengar sangat tulus sangat mengatakan semua itu.
Arumi hanya bisa mengangguk setuju pada yang dikatakan maminya itu.
Siang harinya, tuan Arya Hutama bersama Sarah dan Samsudin datang ke rumah sakit untuk menjenguk besannya itu. Yuliana benar-benar merasa sangat malu atas apa yang sudah di lakukan Chandra Wijaya sejak dulu pada Arya Hutama dan mendiang istrinya.
"Aku minta maaf atas nama suamiku tuan Arya Hutama, anda sungguh baik. Meskipun anda tahu Arumi anak kami. Anda masih menerimanya dengan sangat baik. Terimakasih banyak tuan!" kata Yuliana nyaris terisak.
"Jangan bicara begitu, sekarang kita adalah keluarga. Kalau ada apapun yang bisa aku bantu untukmu dan keluargamu. Jangan sungkan untuk mengatakannya Bu Yuliana!" kata Arya Hutama membuat Yuliana sangat bahagia menatap Arumi.
Dia senang Arumi mendapatkan jodoh dan keluarga yang baik. Setidaknya rasa sesak dan beban pikiran Yuliana berkurang sedikit.
Setelah beberapa hari, Yuliana pulang ke rumah lama Arumi. Dia tinggal dengan Renata dan Arista. Karena mereka tak mau terus bergantung hidup pada Arumi. Arista dan Renata menerima tawaran Rendra untuk bekerja di perusahaan milik Arya Hutama yang di pimpin oleh Rendra.
Arista sangat mudah beradaptasi, dia juga sangat pintar dan teliti. Rendra memberinya jabatan sebagai direktur pemasaran. Sedangkan Renata bekerja sebagai salah satu staf sekertaris. Yang membantu direktur keuangan. Seorang duda beranak tiga, yang usianya hampir kepala empat.
Sepertinya Hamdan. Direktur keuangan itu menyukai Renata. Selalu memberikan banyak pekerjaan pada Renata untuk kerja lembur.
Suatu hari Renata datang ke ruangan Arista untuk memberitahukan kalau dia harus lembur lagi.
"Arista, kamu pulang duluan saja nanti. Aku masih ada pekerjaan!" kata Renata.
"Lembur lagi?" tanya Arista.
"Bukan, aku kerja Rodi. Ya ampun, aku lelah. Empat sekertaris di ruangan itu kenapa duda tua itu hanya menyuruh aku yang harus lembur?" tanya Renata dengan ekspresi lebai.
__ADS_1
***
Bersambung...