Tega

Tega
Bab 34


__ADS_3

Sontak saja mata Arumi membelalak sempurna ketika mendengar panggilan itu untuk Sarah dari seorang anak kecil laki-laki yang sangat tampan, wajahnya putih bersih dengan rambut lurus hitam yang berkilau. Kecilnya saja sudah membuat orang terpesona, entah bagaimana kalau dia sudah besar nanti.


Arumi yang tadinya sudah berbalik pun kembali ke hadapan Sarah, sangking penasaran nya. Masalah tidak mungkin anak setampan dengan pakaian seragam sekolah terkenal yang bayaran per-bulannya saja bahkan dua kali lipat gaji Arumi itu adalah salah satu adik panti Sarah.


"Sarah, kamu punya anak? kapan kamu menikah?" tanya Arumi membuat Sarah lantas terkekeh.


Padahal Sarah satu detik yang lalu masih sangat terkejut karena pelukan dan panggilan mama itu dari Kevin.


"Kevin, kamu kemari dengan siapa?" tanya Sarah yang langsung menggendong Kevin.


"Mama, Kevin tadi dapat nilai A di sekolah!" ucap Kevin.


Anak kecil yang menggemaskan itu tidak lantas menjawab pertanyaan Sarah tapi malah memamerkan nilai yang dia dapat di sekolahnya.


"Wah, Kevin memang luar biasa. Selamat ya sayang, tapi tadi Tante Sarah kan tanya, Kevin kesini dengan siapa? sudah ijin sama papa kan?" tanya Sarah yang tidak ingin dapat amukan lagi dari Tristan.


Kevin pun mengangguk, dia juga menunjuk ke arah pintu ruangan divisi keuangan. Disana tengah berjalan pelan tuan Arya Hutama sambil memegang pinggang nya. Terlihat seperti orang yang sangat kelelahan.


Sarah lantas menurunkan Kevin dan mendorong kursi kerjanya ke arah Arya Hutama.


"Tuan, silahkan duduk!" ucap Sarah setelah merasa posisi kursi yang dia dorong sudah dekat dengan Arya Hutama.


Arya Hutama lantas duduk dan mengatur nafasnya. Maklum lah usianya sudah lewat paruh baya.


"Kevin keluar dari lift dan langsung berlari kemari, huh... tulang tua ini benar-benar tak bisa mengikutinya!" keluh Arya Hutama.


Sarah lalu berjongkok di depan Kevin dan memegang kedua pipi tembem Kevin itu.


"Sayang, lain kali tidak boleh lagi membuat kakek kelelahan ya, ruangan ini akan tetap berada di sini. Kevin tak perlu berlari pun pasti akan sampai di sini! ya sayang!" nasehat Sarah pada Kevin.


Arumi yang masih belum beranjak dari tempatnya semakin di buat bingung. Tapi setahunya tuan yang ada di depannya ini seperti sangat familiar. Sering dia lihat di media sosial.


Arumi masih berusaha mengingat-ingat siapa pria tua di depannya itu yang kelihatannya sangat akrab dengan Sarah. Dan juga sepertinya pria itu lumayan perhatian dengan Sarah.


'Siapa ya?' batin Arumi sambil meletakkan tangannya di dagunya sambil berpikir.

__ADS_1


Arumi mengingat lagi, dan matanya langsung terbuka lebar. Tidak hanya matanya saja, bahkan mulutnya juga terbuka lebar ketika sudah mengetahui siapa pria tua yang ada di depannya itu. Yang sedang duduk dan mengobrol dengan sahabatnya itu.


"Tuan Arya Hutama!" pekik Arumi heboh.


Beberapa rekan kerja Arumi yang ada di ruangan itu, yang belum istirahat makan siang juga langsung menoleh ke arah Arumi karena suara Arumi yang keras dan mengejutkan.


Sarah bahkan sampai tersentak kaget, hingga mengangkat bahunya sekilas ke belakang.


Tuan Arya Hutama juga langsung menoleh ke arah Arumi.


"Nak, kamu baik-baik saja?" tanya Arya Hutama yang was-was melihat wajah Arumi seperti orang syock.


Arumi menelan salivanya dengan susah payah.


"Ini maksudnya bagaimana sih? Sarah? kamu itu menantunya tuan Arya Hutama gitu? anak ini?" tanya Arumi yang makin bingung.


Sarah juga bingung dan sangat canggung untuk menjelaskan semuanya pada Arumi.


"Teman mu ini calon menantuku, sebentar lagi dia akan menikah dengan Tristan!" jelas Arya Hutama dengan bangga.


"Begitu Sarah?" tanya Arumi tak percaya.


Sarah hanya mengangguk saja. Kevin yang mulai bosan pun kembali menarik tangan Sarah.


"Mama, ayo makan siang. Kevin lapar!" rengek Kevin.


"Iya Sarah, kami kesini ingin mengajakmu makan siang. Rendra dan Tristan akan menyusul kita ke restoran" tambah Arya Hutama.


Sarah langsung melihat tumpukan dokumen di atas mejanya. Tapi karena dia lebih kasihan pada Kevin yang wajahnya memelas kearahnya. Sarah pun mengangguk ke arah Kevin.


Arumi tambah bingung lagi.


'Rendra, Kevin panggil Sarah mama, tapi Sarah akan menikah dengan tuan Tristan? kok aku jadi pusing ya?' batin Arumi kebingungan sendiri.


Arya Hutama juga melihat ke arah Arumi.

__ADS_1


"Nak, kamu mau bergabung dengan kami?" tanya Arya Hutama dengan ramah.


Tapi Arumi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak tuan, terimakasih!" jawab Arumi sangat canggung.


Sarah juga langsung tersenyum dan mengedipkan matanya pada Arumi sebagai isyarat kalau nanti dia akan jelaskan semuanya. Arumi hanya mengangguk dan melihat ke arah kepergian tuan Arya Hutama, Sarah dan juga Kevin.


Sarah terus menggandeng Kevin sampai keluar dari pintu ruang divisi keuangan. Arumi lantas duduk lagi, dia terlalu tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya itu.


"Haih, benar-benar membingungkan!" gumam Arumi.


Arumi menggumam sambil kembali membuka dokumen di atas meja kerjanya, dia jadi mendadak lupa kalau sebenarnya tadi dia sangat lapar dan ingin makan di kantin kantor.


Feri yang masih ada di ruangan itu bersama beberapa rekan kerja yang lain, langsung menghampiri Arumi.


"Hei Arumi, itu beneran tuan Arya Hutama pemilik perusahaan ini?" tanya Feri memastikan meskipun dia juga sangat familiar dengan wajah Arya Hutama yang sering mondar-mandir di media bisnis dan surat kabar.


"Kamu lihat sendiri kan?" tanya balik Arumi yang malas meladeni Feri karena dia sendiri masih bingung.


"Itu beneran Sarah mau nikah sama tuan Tristan, gimana ceritanya? kalau memang mau nikah kenapa tuan Tristan kok terkesan gak suka gitu sama Sarah?" tanya Feri yang makin membuat Arumi rasanya ingin mencekik orang.


"Heh, kepo banget. Mana aku tahu, tinggal tunggu aja sih undangannya, itu juga kalau kamu di undang!" ketus Arumi.


"Idih sewot!" balas Feri.


Arumi makin kesal, dia langsung menatap Feri dengan tatapan tajam bak burung elang sedang melihat ke arah ribuan tanaman kacang.


"Aku lagi laper nih, jangan cari gara-gara deh. Nanti aku makan baru tahu rasa ya!" gertak Arumi yang langsung membuat Feri meninggalkan tempat itu dan kembali ke meja kerjanya.


Beberapa karyawati lain juga membicarakan hal yang sama dengan Feri. Membuat Arumi benar-benar marah, dan kalau dia marah maka dia akan semakin lapar. Dia memilih menutup dokumen itu dan meninggalkan ruangan yang penuh dengan bisik-bisik tetangga dan orang kepo menuju kantin dimana ada banyak surganya daging dan keju.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2