Tega

Tega
Bab 140


__ADS_3

Sarah kembali ke apartemen Tristan, dari kantor Rendra tadi, Sarah menyempatkan diri untuk berbelanja bahan kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan dapur.


Begitu Sarah kembali, dia agak terkejut karena Tristan tidak ada di rumah.


Sarah langsung meletakkan semua kantong belanjaannya di atas meja makan. Dia kemudian mengambil ponselnya berusaha menghubungi Tristan, satu hal yang pasti yang ada di pikiran Sarah kala itu adalah


'Jangan-jangan Tristan lupa jalan pulang!'


Sarah bahkan sempat memukul kepalanya dengan pelan satu kali.


"Ya ampun, kenapa juga aku biarin dia pulang duluan. Dia kan amnesia, kalau dia lupa jalan pulang gimana? dimana dia sekarang?" gumam Sarah sambil menghubungi Tristan.


"Halo Sarah!"


Sarah langsung menghela nafas lega, ketika dia mendengar jawaban dari Tristan di ujung telepon sana.


"Tristan, kamu dimana? aku sudah sampai di apartemen dan kamu tidak ada. Apa kamu nyasar?" tanya Sarah.


Tidak langsung terdengar jawaban dari seberang telepon, namun beberapa detik kemudian.


"Sepertinya iya Sarah, tapi jangan khawatir. Aku sudah dekat dengan apartemen!" kata Tristan.


Sarah kembali merasa sangat lega.


"Oke baiklah, tapi hati-hati ya!" kata Sarah.


"Iya, jangan khawatir!" sahut Tristan.


Sarah pun memutuskan panggilan teleponnya dengan Tristan. Sarah lalu kembali ke dapur dan melanjutkan apa yang ingin dia kerjakan sebelumnya.


Sarah merapikan semua belanjaannya, lalu memasak makan malam untuknya dan Tristan.


Sementara itu Tristan yang memang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, segera mempercepat laju kendaraannya. Karena tidak ingin Sarah mengkhawatirkannya.


Tadi, dia sudah mencari dokumen perjanjian pernikahannya di seluruh ruangan kantor Richard. Tapi hasilnya nihil, Tristan tidak menemukan dokumen perjanjian pernikahannya dengan Sarah di kantor Richard. Padahal setiap sudut ruangan itu sudah diperiksa dengan teliti.

__ADS_1


Tristan juga terus berusaha menghubungi Richard, namun tak bisa. Dia mengirimkan pesan bertanya tentang dimana Richard menyimpan atau meletakkan dokumen pernikahannya tersebut. Namun pesannya tersebut hanya centang satu saja. Itu artinya, pesan tersebut terkirim namun penerima pesan sedang tidak aktif nomernya.


Tristan juga memutuskan untuk menunggu, karena kata Pandu, sekertaris Tristan. Kemungkinan Richard akan kembali sore ini. Namun sampai hampir malam Richard tak kunjung kembali.


Tristan yang tidak mau Sarah khawatir atau curiga padanya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kantor tersebut dan kembali ke apartemen. Namun baru di jalan, Sarah benar-benar sudah menghubunginya dan terdengar sangat khawatir. Tristan bakal sempat tidak memikirkan atau tidak mempunyai alasan untuk menjawab pertanyaan Sarah, Kenapa dia belum pulang. Tapi ketika Sarah mengatakan kemungkinan dia tersasar, maka Tristan membenarkan hal tersebut sebagai alasan.


Tristan pun kembali ke apartemen, Sarah menyambutnya dengan tersenyum lega.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak membiarkanmu pulang sendirian. Kamu pasti sangat kebingungan!" kata Sarah.


Sarah yang cemas sampai lupa kalau Tristan itu bukan anak kecil lagi. Sarah lupa kalau pria yang dia ajak bicara ini adalah Tristan Maulana Hutama. Walaupun dia amnesia, tapi seharusnya cara berpikir kalau seorang pria yang sudah dewasa seperti Tristan, tidak mungkin merasa kebingungan seperti apa yang dia pikirkan. Tristan punya ponsel, seharusnya kalau dia tersasar dia bisa Sarah, kalaupun dia tidak mau mengganggu pertemuan Sarah dengan Arumi maka dia seharusnya bisa menghubungi Kakak atau ayahnya.


Tapi karena Sarah cemas, Sarah sama sekali tidak memikirkan semua hal tersebut. Dan itu, di jadikan Tristan alasan yang tepat.


"Kamu mandi dulu, aku akan siapkan makan malam!" kata Sarah.


Tristan pun mengangguk patuh, hatinya cukup lega karena Sarah memang sangat perhatian. Hingga bukannya bertanya apa yang membuat Tristan tersasar, tapi malah menunjukkan perhatian dan menyuruh Tristan segera bersih-bersih dan makan.


Sementara Tristan bersih-bersih, Sarah menyiapkan makanan di atas meja makan.


Karena ponselnya mati, hal pertama yang dilakukan oleh Richard adalah mencharger ponselnya tersebut. Setelah itu, Richard baru pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Richard juga lanjut makan malam dulu dan bersantai sebentar, kira-kira hampir satu jam kemudian. Dia baru kembali melihat ponselnya dan menghidupkan ponselnya tersebut.


Setelah ponselnya kembali menyala, Richard langsung menampilkan ekspresi terkejut bahkan satu tangan Richard menutup mulutnya yang terbuka lebar.


"Oh emji..... bos sama nona Sarah ini kenapa? panggilan tak terjawab sama pesan masuk udah kayak ngantri sembako mau lebaran! waw, aku jadi merasa penting ha ha ha!" ucapnya sambil terkekeh.


Richard masih melihat notifikasi di layar ponselnya dia belum membuka sama sekali isi pesan dan panggilan tak terjawab tersebut.


"Aduh, aku galau nih. Buka yang mana dulu ya, punya bos apa nona Sarah ya?" tanyanya sambil bergumam.


Richard bahkan menuju ke arah layar ponselnya, lalu dia menuju ke arah nama Sarah dan juga Tristan bergantian, seperti sedang menghitung untuk menentukan pesan siapa dulu yang harus dia lihat dan dia baca.


"Pilih yang mana yang mau di baca... !"


"Oh emji... aku bingung. Eh tapi kalau kata orang kan ladies first ya, eh... tapi kan yang bos nya aku tuh bos Tristan. Ck... punya bos dulu deh!" kata Richard yang sudah menentukan pilihan dia harus membaca pesan dari siapa terlebih dahulu.

__ADS_1


"Oh, bos nanya dimana dokumen itu? tapi untuk apa?" tanya Richard bingung.


"Coba buka pesan nona Sarah deh!" kata Richard yang malah lanjut membuka pesan dari Sarah dan bukannya menjawab pesan dari Tristan terlebih dahulu.


Begitu Richard membuka pesan dari Sarah, pria yang mendapatkan julukan dari Arumi boneka tabung berjoget itu pun mengangguk paham.


"Oh, minta di bawa ke apartemen dokumen nya!" kata Richard sambil manggut-manggut.


"Oh emji... jangan-jangan mereka mau nambahin poin baru nih di perjanjian pernikahannya. Oh emji... mau di tambah apa lagi ya? aku kepo?" tanya Richard dengan gaya khasnya.


Richard yang membaca pesan Tristan yang bertanya di mana letak dokumen itu, sepertinya lupa juga kalau bosnya itu sedang amnesia. Dia malah langsung menggabungkan dua pesan itu sekaligus, dan mengambil kesimpulan kalau Tristan dan Sarah menginginkan dokumen itu. Jadi saat itu juga, Richard pun membawa dokumen nya ke apartemen Tristan.


Bahkan tanpa menghubungi Tristan terlebih dahulu, karena Richard sudah yakin apa yang di inginkan bos dan nyonya bosnya itu.


Ketika Richard dalam perjalanan ke apartemen, Sarah dan Tristan sedang makan malam bersama.


"Kamu juga baru kembali sore tadi?" tanya Tristan.


"Iya, tadi aku sempat mampir ke swalayan membeli bahan kebutuhan dapur!" jawab Sarah dan Tristan pun mengangguk paham.


Tiba-tiba bel pintu apartemen mereka berbunyi.


"Ada tamu? kamu sedang menunggu seseorang?" tanya Tristan pada Sarah.


Sarah jadi ingat, kalau dia memang mengirim pesan pada Richard untuk datang ke apartemen membawa surat perjanjian itu.


"Oh iya, aku minta Richard datang!" kata Sarah yang langsung berdiri dan bergegas ke arah pintu untuk membukakan pintu untuk Richard.


Tristan yang mendengar hal itu lantas ikut berdiri dengan wajah sedikit panik.


"Untuk apa Richard datang, jangan-jangan...!" gumam Tristan yang langsung menyusul Sarah.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2