
Semua karyawan yang melihat Damar Adhikara di seret dari ruangannya lantas berusaha menghampiri dan membantunya.
"Lepaskan tuan Damar!"
"Siapa kalian berdua? beraninya menyeret tuan Damar seperti itu?"
Para pegawai setia Damar Adhikara berusaha membela Damar. Namun dengan sombongnya dua anak buah Alan itu langsung berseru.
"Yang ingin di pecat dari tempat ini silahkan protes! pabrik ini sekarang milik tuan Jerry Alando!" kata salah satu dari dua anak buah Alan dengan lantang.
Semuanya terkejut, mereka saling lirik, saling pandang dan saling bergosip.
"Bagaimana mungkin tuan?" tanya Wira, salah satu pegawai yang tadi ingin membantu Damar.
Wajahnya bingung, dia merasa semua itu tidak mungkin. Jerry Alando adalah menantunya sendiri. Bagaimana bisa memperlakukan tuan Damar Adhikara dengan seperti itu.
"Apa yang tidak mungkin? kalian semua kembali bekerja! Atau aku akan katakan pada tuan Jerry Alando untuk memecat yang tidak mau bekerja!" bentak anak buah Alan yang satunya lagi.
"Sudah, sudah... kembali bekerja, kembalilah bekerja!" kata Damar Adhikara yang melihat kebingungan di wajah para pegawainya.
Damar Adhikara selanjutnya di bawa ke luar pabrik. Dua anak buah Alan itu mendorong pria paruh baya itu hingga jatuh. Damar Adhikara begitu sakit hati pada Alan. Bagaimana mungkin orang yang dia percaya untuk menjaga putrinya malah melakukan semua ini padanya.
Bukan pabrik ini yang jadi masalah, seperti kata Jerry Alando sebelumnya. Damar Adhikara tidak akan miskin jika dia kehilangan pabrik ini. Karena usahanya memang bukan hanya pabrik ini. Masih ada dua restoran dan satu toko pakaian yang besar. Tapi yang membuat Damar sakit hati adalah, bagaimana seorang anak memperlakukan ayahnya seperti itu. Kepercayaan Damar Adhikara remuk seketika. Hancur berkeping-keping.
Jika berbuat seperti itu pada ayah mertuanya dia mampu, lantas apa yang sudah selama ini dia lakukan pada Inka.
Supir Damar Adhikara yang mendengar semua yang terjadi di pabrik lantas mencari Damar Adhikara. Saat melihat tuannya di dorong di depan pabrik, supir Damar Adhikara, Slamet langsung membantu tuannya.
"Astagfirullah, tuan!" kata Slamet langsung membantu Damar Adhikara.
"Slamet, kita pulang!" kata Damar Adhikara yang di angguki dengan segera oleh Slamet.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, Damar sudah sangat cemas pada keadaan putrinya Inka. Rasa sedih juga menyelimuti hatinya. Saat terakhir datang, Inka terlihat lebih kurus. Kenapa Damar Adhikara tidak berpikir untuk bicara berdua, mengajak Inka bicara berdua saja agar putrinya itu bisa mengatakan segala keluh kesahnya.
Dari apa yang baru saja akan lakukan padanya, Damar Adhikara yakin kalau Alan juga tidak memperlakukan putrinya dengan baik. Wajah Inka kala itu pucat, dan lebih banyak diam. Bukan seperti Inka yang biasanya. Damar Adhikara justru sangat mencemaskan Inka.
Benar saja, tak sampai setengah jam Slamet mengemudikan mobil Damar Adhikara sampai di depan rumah besar itu. Dia sudah melihat mobil Inka dan mobil Anika di sana. Sementara Steven, Damar tahu kalau besannya itu sedang ada di luar kota untuk urusan bisnis. Mungkin hal ini juga yang dimanfaatkan Alan, dia pikir saat ayahnya tidak ada. Maka itu adalah momen yang tepat untuk menjalankan semua rencananya.
Damar buru-buru turun dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Dan benar saja, di dalam ruang tamu sudah ada drama tangis yang membuat mata Damar Adhikara memerah.
Inka berada di dalam pelukan Widya, dan keduanya menangis. Di depannya ada Anika yang juga menangis.
"Inka!" panggil Damar Adhikara.
Inka yang mendengar ayahnya memanggilnya lantas menoleh ke arah Damar Adhikara. Inka langsung berdiri dan berlari ke pelukan ayahnya.
"Ayah, mas Jerry yah. Mas Jerry menceraikan aku. Dia menjatuhkan talak padaku hiks.. hiks... dia juga mengusir ku dari rumah!" kata Inka mengadu pada sang ayah.
Mata Damar Adhikara merah mendengar apa yang terjadi pada anaknya. Damar Adhikara tak menyangka niatnya membahagiakan putrinya dengan mengabulkan pernikahan yang di minta Inka justru akan jadi seperti ini.
"Mas Damar, aku minta maaf. Aku sudah berusaha menjelaskannya pada Jerry, aku sudah memohon agar Jerry tidak menceraikan Inka, tapi...!"
"Kamu tahu tidak apa yang sudah anakmu lakukan itu Anika?" tanya Damar menyela permintaan maaf Anika.
Inka yang mendengar ayahnya bicara dengan penuh penekanan langsung melepaskan pelukannya dari sang ayah dan melihat ke arah ayahnya lalu Anika, ibu mertuanya. Secara bergantian.
Wajah Anika pucat, dia benar-benar tidak sanggup menanggung malu dan rasa bersalah atas apa yang di lakukan putra bungsunya itu.
"Ayah!" lirih Inka yang tidak enak pada Anika di bentak tapi dengan suara pelan penuh penekanan seperti itu.
"Jerry Alando sudah merebut pabrik ku, dia menyuruh dua anak buahnya menyeret ku keluar dari pabrik yang sudah puluhan tahun aku bangun dengan keringat dan perjuangan ku. Anakmu memang luar biasa Anika!" seru Damar Adhikara yang tidak lagi bisa menahan emosinya.
__ADS_1
Air mata mengalir deras di pipi Inka, dia tidak percaya orang yang sangat dia cintai bisa sejahat itu. Bahkan mengusir dan menyeret ayahnya dari pabrik milik ayah nya sendiri. Inka tak bisa bayangkan betapa sedih dan sakit hatinya ayahnya itu.
Anika juga menangis, lengkap sudah rasa bersalahnya. Dia benar-benar tak punya muka lagi menghadapi kerabatnya ini.
"Mas, aku minta maaf. Aku sudah menghubungi mas Steven, dia akan segera pulang. Dia pasti akan melakukan sesuatu pada Jerry...!"
"Apa kamu yakin?" tanya Damar Adhikara lagi menyela Anika.
"Orang yang bisa mengusir istrinya, merebut pabrik mertuanya, apa kamu yakin dia juga tidak melakukan sesuatu yang lebih dari itu? sebaiknya pulang dan periksa seluruh asetmu Anika, aku pikir Jerry juga pasti sudah merubah semuanya menjadi miliknya!" kata Damar berspekulasi.
"A... ap.. apa?" Anika tak sanggup meneruskan kalimatnya.
Tak lama ponselnya pun berdering. Dan benar saja, itu telepon dari kepala pabrik.
"Ha..halo!" Anika sudah gugup.
"Nyonya, tuan Jerry datang dan mengatakan pabrik ini sudah berganti kepemilikan. Apa itu benar nyonya?" tanya kepala pabrik Steven.
Dugh
Ponsel itu terlepas dari tangan Anika. Dia tak menyangka putranya menjadi rakus harta seperti itu.
Melihat Anika, Damar tersenyum lirih.
"Lebih baik anakku memang terlepas dari manusia gila harta seperti Jerry Alando itu!" pekik Damar Adhikara yang sakit hati luar biasa pada Alan.
Inka yang mendengar perkataan sang ayah lantas merasa sangat sedih. Sebenarnya ada hal yang belum dia katakan pada sang ayah. Dan karena sangat sedih. Tiba-tiba saja...
Brukkkk
"Inka" teriak Widya yang langsung berlari mendekati Inka yang jatuh pingsan.
__ADS_1
***
Bersambung...