
Di tempat lain, dimana orang yang sedang menjadi target dari Jerry Alando berada. Di apartemennya, Tristan sedang menunggu Richard datang membawakan pesanannya. Sementara Sarah sedang menyiapkan makan malam di dapur.
"Tristan, mau dagingnya setengah matang atau matang sempurna?" tanya Sarah.
Tristan yang mendengar pertanyaan Sarah itu pun langsung berlari dari ruang tamu ke ruang makan.
"Iya sayang, ulangi pertanyaannya barusan?" kata Tristan sok manja.
Sarah sampai mengernyitkan keningnya, meski dia memang lebih suka Tristan yang sekarang. Tapi kadang-kadang Sarah masih suka terkejut saja dengan sikap Tristan yang berubah seratus depan puluh satu derajat. Dulu pria yang menjadi suaminya itu sangat dingin, cool, keras kepala dan arogan. Tapi sekarang, di malah sangat manja dan tingkahnya suka di luar nalar Sarah. Tristan yang sekarang benar-benar out of the box.
"Kamu mau dagingnya setengah matang, atau matang sempurna?" tanya Sarah lagi yang memang sedang memanggang daging dengan pan.
Tapi lagi-lagi Tristan menggelengkan kepalanya.
"Ulangi lagi sayang!" kata Tristan.
"Apasih Tristan? telingamu bermasalah?" tanya Sarah.
Tristan lalu mengangkat jari telunjuknya sebelah kanan dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri dengan cepat.
"Kamu salah sayang, jangan di awali dengan kata Tristan atau kata kamu!" kata Tristan berteka-teki.
Sarah yang masih bingung pun berdecak kesal karena terlalu lama menunggu jawaban Tristan, akhirnya daging yang dia panggang sudah matang sempurna.
"Tidak usah di jawab lagi Tristan, dagingnya sudah matang sempurna!" kata Sarah.
"Maksudku kan kamu harusnya tanya begini 'sayang mau dagingnya setengah matang atau matang sempurna' begitu!" kata Tristan sambil cemberut di depan Sarah.
Sarah sampai terkekeh mendengar apa yang di katakan oleh Tristan.
"Ya ampun, kenapa aku merasa kamu sekarang malah lebih manja dari Kevin?" tanya Sarah.
Dan baru saja Tristan akan protes pada apa yang dikatakan Sarah itu. Bel pintu apartemen Tristan tiba-tiba berbunyi. Tristan sudah sangat yakin kalau itu adalah Richard pun langsung meninggalkan dapur dan bergegas menuju ke arah pintu apartemennya.
Sarah yang melihat Tristan buru-buru membuka pintu pun hanya bisa mengangkat alisnya sekilas dan kembali melanjutkan acara memasaknya.
Ceklek
__ADS_1
"Bos...!"
Grepp
Baru juga Richard mau menyapa Tristan, tangan Tristan sudah bergerak dengan sangat cepat, secepat kilat meraih paper bag yang ada di tangan Richard.
"Oh emji bos! kaget aku!" kata Richard yang memang benar-benar terkejut karena gerakan tangan Tristan yang begitu lincah.
Tristan lantas memeriksa apa yang ada di dalam paper bag tersebut. Setelah itu, Tristan meraih pinggiran pintu dan berniat menutup pintu itu kembali.
"Eh, bos... aku gak di suruh masuk dulu, minum dulu gitu bos? haus nih bos abis meretelin itu bunga-bunga mawar!" kata Richard sambil memegang lehernya yang memang terasa haus.
"Gak usah, udah pulang sana!" kata Tristan yang langsung menutup pintu apartemennya.
Brakk
"Oh emji, kejam banget si bos! mana bau daging masakan nona Sarah enak banget kayaknya. Ah, makan daging juga deh di restoran!" kata Richard yang langsung meninggalkan apartemen menuju ke resto.
Sementara Richard berniat membawa paper bag dari Richard ke dalam kamarnya. Namun saat Tristan berjalan ke kamarnya, Sarah memanggilnya
"Tristan, siapa yang datang?" tanya Sarah.
"Oke!" jawab Sarah.
Tristan masuk ke dalam kamarnya, Tristan mulai menghias kamar dari tempat tidur. Isi paper bag yang di antar Richard tadi adalah kelopak bunga mawar yang jumlahnya sangat banyak. Tidak mungkin penjualnya menghitung dengan berapa kelopak, tapi hitungannya kiloan. Dan di dalam paper bag itu kira-kira ada tiga kilo kelopak bunga mawar.
Tristan dengan hati-hati membentuk ratusan kelopak bunga mawar menjadi bentuk love di atas tempat tidur. Di tengah tempat tidur itu, dengan sangat rapi.
Setelah itu Tristan juga menaburkan di sekitar bentuk love tersebut. Di tabur tipis-tipis begitu saja. Dan setelah itu Tristan, menaburkannya di sepanjang jalan arah ke pintu. Jadi dari tempat tidur ke arah pintu di tabur tipis-tipis berbentuk seperti sebuah jalan setapak.
Setelah itu, Tristan menyalakan beberapa lilin aromaterapi yang wanginya sangat harum. Begitu Tristan mematikan lampu kamar itu, kamar itu benar-benar terlihat sangat indah, wangi dan suasana yang begitu romantis.
Tristan tersenyum puas dengan hasil karyanya. Tinggal bagaimana dia membujuk Sarah nanti. Tristan berpikir mereka sudah menikah cukup lama, sudah berbulan-bulan, sepertinya sudah saatnya dia menjadikan Sarah miliknya seutuhnya.
"Tristan, makan malam sudah siap!" kata Sarah.
Tristan langsung menutup pintu, dan bergegas menuju ke ruang makan.
__ADS_1
"Wah, masakan istriku memang yang terbaik!" kata Tristan memuji Sarah padahal makan saja belum.
Tristan duduk di sebelah Sarah, dan mulai menyantap makan malam mereka.
"Tristan, saat aku kembali ke kantor tadi. Arumi belum kembali juga! Tristan aku khawatir pada Arumi!" kata Sarah coba untuk mencurahkan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini.
"Menurut mu apa yang membuat orang tua Arumi tiba-tiba meminta Arumi pulang? apa dia mau di nikahkan dengan orang lain?" Tanya Tristan menduga-duga.
Plakkk
Sebuah tamparan pelan mendarat di lengan Tristan.
"Tristan, jangan bilang begitu. Kamu ini bagaimana sih? Arumi kan sedang pacaran dengan kakakmu, bisa-bisanya kamu berpikir begitu?" tanya Sarah memprotes apa yang di pikirkan oleh Tristan.
"Sayang, coba kamu pikir. Kalau bukan untuk itu lantas kenapa orang tua Arumi menjemputnya dengan ancaman begitu?" tanya Tristan.
Sarah pun diam dan berpikir, menurutnya apa yang dikatakan Tristan itu bisa jadi juga. Apalagi sebelumnya Renata, kakaknya Arumi mendatangi Rendra dan marah-marah.
"Lalu bagaimana dengan kak Rendra kalau itu benar, ah... semoga saja pikiranmu itu tidak benar. Aku kasihan pada kak Rendra, baru juga dia jatuh cinta dan ingin menjalin hubungan lagi setelah sekian lama, masak iya harus kandas lagi. Padahal aku setuju sekali kalau kak Rendra sama Arumi, mereka pasangan yang serasi!" kata Sarah.
"Lalu bagaimana dengan kita?" tanya Tristan menarik tangan Sarah lalu menggenggam nya dengan erat.
"Loh, kita kenapa? bukannya kita baik-baik saja?" tanya Sarah tak mengerti kode dari Tristan.
Tristan terdiam sejenak, lalu dia kembali melihat ke arah Sarah.
"Makan malam kita sudah selesai kan?" tanya Tristan dan Sarah pun mengangguk.
"Kalau begitu, ikut aku! aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu!" kata Tristan.
"Tapi aku belum cuci piring...!"
"Aku yang akan lakukan itu besok pagi, sayang ikut aku ya!" kata Tristan penuh harap.
Sarah pun akhirnya mengikuti Tristan, dan saat mereka tiba di depan pintu kamar. Jantung Sarah sudah berdegup kencang.
'Astaga, apa yang mau di lakukan?' batin Sarah.
__ADS_1
***
Bersambung...