Tega

Tega
Bab 117


__ADS_3

Saat makan siang tiba, Rendra dan tuan Arya Hutama membiarkan Sarah bersama dengan Tristan berdua saja di dalam kamar. Rendra juga harus menjemput Kevin, lalu Richard juga harus kembali ke kantor. Sedangkan tuan Arya Hutama sudah nampak sangat lega, karena kata dokter Alam, selain amnesianya. Kondisi semua organ tubuh Tristan sudah normal, hanya kakinya saja yang belum berfungsi dengan baik. Karena saat terjadi kecelakaan, memang benturan yang keras terjadi di lutut dan kaki Tristan. Hingga dia terpental dan kepalanya terbentur lumayan keras di aspal waktu itu.


Sarah masih terus menyuapi Tristan yang juga terus menatap ke arah Sarah.


"Hei, bisa tidak melihatnya biasa saja? sejak kamu sadar tingkahmu jadi aneh!" protes Sarah karena merasa tidak nyaman Tristan memandangnya seperti itu.


"Memangnya kenapa? kamu kan istriku. Masak suami memandang istri sambil melotot, apa kamu lebih senang seperti itu?" tanya Tristan.


Sarah pun langsung mengernyitkan keningnya.


'Apa orang amnesia memang seperti ini ya?' batin Sarah bingung.


Setelah makan siang selesai, Sarah pun memberikan beberapa obat yang harus Tristan minum padanya. Setelah itu Sarah ok ingin berjalan ke sofa, namun Tristan memanggilnya.


"Istriku mau kemana?" tanya Tristan.


Sarah langsung menghentikan langkah kakinya. Tapi dia malah agak merinding, mendengar Tristan memanggilnya dengan sebutan istriku.


'Kenapa rasanya aku malah merinding ya, ini bahkan lebih horor daripada aku nonton film Pengabdi set4n jilid 2. Ya ampun!' batin Sarah.


Tapi Sarah tidak bohong, saat dia melihat ke arah lengannya. Buku kuduknya memang berdiri semua.


"Tristan, aku mau duduk di sofa!" kata Sarah yang memang ingin merebahkan punggungnya yang pegal.


"Kenapa duduknya jauh-jauh? kata ayah, aku kan sudah koma berhari-hari. Kamu tidak rindu sama aku?" tanya Tristan.


Mata Sarah langsung melebar. Kalau ada Richard di sini, dia pasti sudah mencibir dan mengejek Tristan habis-habisan.


Kemana perginya bos nya yang angkuh, sombong dan arogan itu. Kenapa malah terdengar dan terlihat seperti suami yang begitu bucin pada istrinya.


Sarah saja butuh waktu beberapa detik untuk berpikir kalau semua ini memang nyata. Sarah kemudian memperhatikan Tristan dari tempatnya berdiri. Terbesit di dalam hati Sarah, kalau Tristan mungkin saja sedang berpura-pura. Mungkin saja dia tidak menemukan Shanum di Paris, dan karena dia takut ayahnya mencoret namanya dari kartu keluarga, maka Tristan pura-pura amnesia.


Tapi beberapa detik kemudian Sarah menggelengkan kepalanya dengan cepat berkali-kali.

__ADS_1


'Aih, tidak tidak. Masak iya begitu, mana mungkin seperti itu. Apa iya dia akan sengaja menabrakkan dirinya ke mobil yang sedang melaju kencang. Pasti tidak seperti itu!' batin Sarah menyangkal pemikirannya yang pertama.


Sementara di tempatnya duduk sambil bersandar di tempat tidur, Tristan juga sedang memperhatikan sikap Sarah yang lebih waspada padanya lebih dari biasanya.


'Pasti sangat sulit baginya percaya padaku, aku memang sudah sangat keterlaluan padanya. Menawarkan pertemanan, tapi aku malah menyuruhnya menjauh. Aku bahkan meninggalkannya. Aku harap aku masih punya kesempatan, sebelum Sarah tertarik pada duda tua itu!' batin Tristan yang mengatai kakaknya sendiri, Rendra sebagai duda tua.


Sarah pun berjalan mendekati Tristan, eh tapi bukan mendekati Tristan ya, hanya duduk dekat dengan Tristan. Di tempat dimana dia duduk saat menyuapi Tristan tadi.


"Apa hubungan kita sebelumnya tidak baik?" tanya Tristan pada Sarah setelah Sarah duduk.


Sarah tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi saat pertama kali Sarah membuka pintu kamar rawat Tristan ini tadi. Hal yang dia pikirkan adalah, dirinya dan Tristan mungkin akan berpisah. Tapi ternyata, yang terjadi malah sama sekali jauh dari apa yang dia pikirkan itu. Tristan amnesia dan pasti sangat percaya pada apa yang ayahnya katakan. Sarah tidak tahu tuan Arya Hutama bicara apa saja tentang pernikahan Tristan dan Sarah.


"Hubungan kita.. baik-baik saja. Kamu juga lihat kan, kalau ayah dan kak Rendra sangat baik padaku. Itu artinya hubungan kita memang baik!" kata Sarah menjelaskan.


"Apakah ayah tidak mengatakan apapun padamu?" tanya Sarah mencoba mencari tahu apa saja yang kemungkinan tuan Arya Hutama ceritakan tentang pernikahannya dengan Tristan.


Semua itu Sarah lakukan agar tidak terjadi perbedaan antara kisah yang di ceritakan tuan Arya Hutama dengan kisah yang Sarah ceritakan.


Tapi mendengar pertanyaan dari Sarah itu, sebuah ide muncul di kepala Tristan.


"Ayah sudah cerita, hubungan kita baik sampai aku pergi ke Paris dan kecelakaan. Kata ayah aku ke Paris untuk urusan bisnis. Ayah juga bilang sebenarnya kita belum selesai bulan madu kan?" tanya Tristan yang langsung membuat Sarah terkejut.


Sarah membelalakkan matanya dan rahangnya juga nyaris jatuh mendengar apa yang Tristan katakan.


'Hah, yang benar saja? mana mungkin ayah bilang begitu?' tanya Sarah dalam hatinya.


Rasanya dia tak percaya, tapi tidak mungkin juga Tristan berbohong, untuk apa dia melakukannya. Dia kan sama sekali tidak suka pada Sarah. Itulah yang sedang Sarah pikirkan.


"Kenapa wajahmu? bukankah kita memang pengantin baru. Kata ayah kita baru menikah beberapa bulan. Bagaimana kalau setelah aku keluar dari rumah sakit, aku mengajakmu bulan madu...!"


Mendengar rencana Tristan itu, Sarah langsung melambaikan tangannya di depan Tristan. Bahkan sebelum Tristan selesai bicara.


"Ah, tidak perlu Tristan. Tidak usah. Kita sudah pernah liburan setelah pernikahan, dan itu... em.. itu sudah cukup!" kata Sarah sambil tersenyum canggung.

__ADS_1


"Benarkah? kenapa aku tidak ingat satu pun saat romantis kita kalau kita memang sudah pernah liburan bersama?" tanya Tristan sok polos.


"Oh, itu mungkin karena kamu kan sedang amnesia. Nanti kalau kamu sembuh kamu juga pasti ingat!" kata Sarah.


'Kalau kamu sembuh, kamu pasti ingat sudah menyuruh aku menjauh darimu dan urus urusan kita masing-masing!' omel Sarah dalam hatinya.


"Begitu ya?" tanya Tristan.


Dan Sarah pun mengangguk sambil terus berusaha tersenyum. Meski sebenarnya dia lebih ingin mengomel pada Tristan.


"Sarah... aku mencintaimu!"


Sarah yang tertunduk sekilas langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Tristan yang sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam dan menyesatkan.


Bibirnya mengulas sebuah senyum tipis, membuat Sarah dalam sekejap menjadi patung karena sangking terkejutnya.


"Kamu bilang apa!" tanya Sarah tak percaya.


Tristan lantas berusaha meraih tangan Sarah. Namun Sarah masih ragu-ragu untuk memberikan tangannya pada Tristan.


"Sarah, penyakit ku kan tidak menular. Kenapa kamu seperti takut untuk aku sentuh?" tanya Tristan.


(Oh my wow, akting Tristan amnesia bener-bener bikin Sarah panas dingin malahan).


Mendengar perkataan Tristan itu, Sarah hanya bisa nyengir dan menyerahkan tangan kanannya pada Tristan.


"Aku mencintaimu, mulai sekarang dan seterusnya. Hanya kamu yang akan ada di hatiku. Istriku!"


Sarah benar-benar terpaku di tempatnya. Tak bisa berkata apa-apa.


'Aku rasa dia bukan hanya amnesia, tapi jiwa seseorang aku yakin sudah berpindah ke tubuhnya. Ini tidak mungkin manusia batu kan?' batin Sarah tak percaya, benar-benar tak percaya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2