Tega

Tega
Bab 151


__ADS_3

Tuan Arya Hutama tampak begitu terpukul dengan apa yang dilakukan oleh Tristan. Dia tidak menyangka putra yang sangat dia sayangi, yang apapun keinginannya akan tuan Arya Hutama penuhi, yang sejak kecil selalu diperlakukan dengan baik, di ajari dengan baik. Di didik dengan baik, tapi sekarang malah membuat tuan Arya Hutama benar-benar kehilangan muka di depan menantunya, di depan bunda Tiara dan pastinya dia merasa sangat gagal mendidik Tristan dengan baik, dia sangat malu pada Melati, mendiang istrinya yang sebelum meninggal menitipkan Rendra dan Tristan dalam pengasuhan tuan Arya Hutama.


Rendra yang panik sang ayah masih terus terlihat merah wajahnya pun mengambilkan air minum untuk sang ayah setelah menuntun sang ayah untuk duduk di sofa yang ada di belakang nya.


"Ayah, ayah minum dulu agar lebih tenang ya!" kata Rendra yang sudah membawa segelas air minum di tangannya.


Namun tuan Arya Hutama malah menggelengkan kepalanya perlahan.


"Tidak Rendra, tolong hubungi Sarah. Katakan padanya untuk ke panti asuhan bunda Tiara sekarang. Kita harus selesaikan semua ini dengan cepat, Sarah berhak bahagia. Aku sudah terlalu lama menahannya untuk tidak bisa bahagia, karena berharap Tristan menyadari kalau Sarah lah yang pantas dia cintai. Tapi aku tidak menyangka, ternyata apa yang aku lakukan malah semakin membuat Sarah menderita! Anak bodoh itu benar-benar tidak tahu mana permata dan batu biasa!" sesal tuan Arya Hutama.


Niat awalnya mengangkat hidup Sarah, malah membuatnya menyesal. Karena akibat yang dia lakukan itu, Sarah pasti saat ini sangat terluka karena yang sudah Tristan lakukan padanya.


"Ayah, aku minta maaf. Bukan bermaksud ingin ikut campur. Tapi apakah tidak lebih baik kalau membiarkan Sarah dan Tristan berpisah sesuai prosesnya saja. Belakangan ini aku melihat Sarah sangat perhatian pada Tristan, aku pikir...!"


"Itu karena adikmu pura-pura amnesia Rendra. Sudah... jangan berpikir lagi. Semakin cepat kita melepaskan ikatan itu dari Sarah, Sarah bisa menyongsong masa depannya dengan baik. Ayah sangat merasa bersalah padanya!" kata tuan Arya Hutama bersi kukuh tak mau menuruti permintaan Tristan agar Tristan dan Sarah bercerai secara wajar.


Rendra pun tak bisa banyak bicara lagi. Niatnya untuk membantu sang adik tak bisa terlaksana. Rendra pun menghubungi Sarah.


"Halo kak!" sapa Sarah di ujung telepon.


"Halo Sarah, bisa kita bertemu makan siang ini di panti asuhan, maksud ku di rumah sewa sementara panti asuhan?" tanya Rendra langsung mengatakan apa tujuannya menghubungi Sarah.


"Bisa kak, ada apa ya?" tanya Sarah.


Meski Rendra sudah pasti tahu, kalau Sarah pasti juga sudah tahu tentang Tristan yang pura-pura amnesia. Tapi Rendra tak ingin banyak bicara di telepon. Apalagi dia melihat ke arah ayahnya, dan sanga ayah terlihat sangat emosional.

__ADS_1


"Nanti saja kita bicara di sana ya, sampai jumpa Sarah!"


"Sampai jumpa kak!" kata Sarah menyahut.


Setelah itu Rendra pun kembali pada sang ayah. Menemaninya, menjaganya kalau-kalau ada yang di butuhkan oleh sang ayah yang tengah emosional saat ini.


Sementara itu Tristan sudah sampai di apartemennya, dia membereskan semua pakaian yang kira-kira dia perlukan ke dalam satu buah koper. Dia bahkan meninggalkan kunci mobil di atas meja ruang tengah. Dia menatap apartemennya sebentar lalu pergi dari sana dengan menumpang sebuah taksi.


Dengan taksi tersebut, Tristan ke kantornya. Dengan kemeja dan celana panjang, dia meminta agar supir taksi itu menunggunya. Karena dia juga tak mau menurunkan kopernya di jalan, atau membawanya masuk ke dalam kantor. Akan menimbulkan banyak pertanyaan dan akan jadi gosip yang tak berkesudahan nantinya. Tristan tidak mau membuat masalah semakin rumit.


Dengan langkah pasti, Tristan berjalan cepat menuju ruangan Sarah. Sisilia yang berpapasan dengan Tristan, menyapa bos nya itu. Tapi seperti biasanya. Tristan tak pernah menghiraukan orang-orang yang memang tidak dekat dengannya.


Melihat Tristan datang Arumi langsung emosi, dia berdiri bahkan sebelum Sarah menyadari Tristan datang.


Tapi Tristan berhenti tepat di depan Arumi dan berkata.


Sarah yang mendengar suara Tristan, lantas berdiri dan menarik lengan Arumi pelan.


"Biarkan saja!" kata Sarah.


Arumi masih kesal, tapi karena Sarah berkata begitu. Arumi pun hanya bisa mendengus kesal lalu meninggalkan Sarah dan Tristan berdua.


Arumi keluar dari blok meja kerjanya dan menghampiri Tano.


"Pinjem kursi dong, sekalian minta kertas gak kepakai!" kata Arumi.

__ADS_1


Tano yang memang sedang sibuk pun tak banyak bicara. Namun dia memberikan apa yang Arumi minta.


Arumi langsung merem4s kertas pemberian Tano sambil melihat ke arah Tristan dan Sarah yang terlihat hanya duduk diam bersebelahan.


"Kamu kenapa Arumi? jangan nyampah dong!" protes Tano karena Arumi merobek kertas yang sudah tak berbentuk itu lagi dan menginjak-injaknya.


"Bisa diem gak? mau aku jadiin Samsak hidup, atau mau gantiin nih kertas hah?" tanya Arumi mode sangar.


Tano yang sebentar lagi mau menikah tentu tidak mau sampai jadi samsak hidup bagi Arumi. Tano memilih memalingkan wajahnya meski dia kesal dengan apa yang dilakukan Arumi.


'Mau ngomong apa lagi tuh manusia batu, awas aja dia bikin Sarah nangis lagi. Biar kata dia anak Arya Hutama juga masa bodoh, aku bikin rempeyek dia!' kesal Arumi dalam hatinya.


Sementara itu, Tristan sedang mencoba memilih kalimat yang tepat yang bisa dia katakan pada Sarah. Meski dia tahu semuanya pasti salah di mata Sarah.


"Aku sudah meninggalkan apartemen dan kantor!"


Sarah langsung menoleh terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.


'Apa kak Rendra mau membicarakan hal ini? apa untuk ini dia menyuruh ku ke panti?' batin Sarah bertanya-tanya.


"Aku sudah jujur pada ayah, aku katakan semuanya. Amnesia pura-pura ku, tentang apa yang terjadi di Paris, dan tentang dokumen perjanjian pernikahan kita. Aku tahu aku salah Sarah. Aku sadar aku salah, aku menyesal, aku sangat menyesal. Tapi perasaan ku, aku yakin aku tidak salah mengerti kalau saat ini aku benar-benar hanya mencintai mu!"


Tristan menjeda sejenak kalimat yang mau dia katakan.


"Tapi aku sadar, aku memang egois seperti katamu. Dan seperti kata ayah, aku juga pengecut. Aku tahu tidak ada yang baik yang pernah aku lakukan dalam hidupku, tapi kalau boleh orang yang sangat egois dan pengecut ini minta sesuatu padamu, bolehkah jika perceraian kita, kita yang mengurusnya. Bisakah perceraian kita terjadi sesuai prosedur yang seharusnya?" tanya Tristan dengan mata berkaca-kaca yang membuat Sarah terdiam.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2