
Arista bersama dengan Arumi di toilet, Arumi terus mengusap punggung Arista. Arumi tahu Arista sangat trauma dengan darah. Dulu dia melihat sendiri bagaimana ayah kandung Raja dan Ratu di temukan dalam keadaan yang sangat mengerikan.
Kala itu Arumi juga melihat tangan Arista berlumuraan darah itu seperti itu saat di rumah sakit. Ayah kandung Raja dan Ratu juga meninggal saat itu.
Arumi tahu, Arista sangat panik dan trauma tentang hal seperti itu.
"Kak, tidak apa-apa. Richard pasti selamat. Dia akan baik-baik saja!" kata Arumi.
Arista hanya bisa mengamini apa yang yang di katakan oleh Arumi itu. Dia punya harapan yang sama, Arista tahu Richard orang baik, benar-benar baik. Jika tidak untuk apa dia mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan Raja.
"Aku sudah hubungi kak Renata, Raja dan Ratu juga sudah di urusnya dengan baik. Sekolah mereka di pulangkan lebih cepat karena peristiwa ini. Sekarang Raja dan Ratu sudah aman di rumah mami bersama dengan kak Renata!" kata Arumi menjelaskan tentang keberadaan anak-anaknya agar Arista tidak mengkhawatirkan tentang anak-anaknya.
"Sudah Arumi, sudah bersih. Kita kesana lagi, aku ingin tahu kondisi kak Richard!" kata Arista.
Arumi langsung mengangguk cepat dan menemani kakaknya kembali ke depan ruang UGD. Di sana dia melihat Tristan yang juga di tenangkan oleh Sarah. Sarah terlihat merangkul dan terus mengusap lengan suaminya yang terlihat sangat cemas itu.
Rendra yang melihat Arista datang langsung pergi mengambil air minum yang ada tak jauh dari mereka di dekat meja suster jaga.
Saat Arumi minta Arista untuk duduk di sampingnya. Rendra datang membawakan minuman untuk Arista.
"Kak, minum dulu!" kata Rendra.
Arista meraih gelas minuman itu dan mengucapkan terima kasih pada Rendra. Arista meminum air itu sangat sedikit, Arumi lantas meraih gelasnya dan meletakkannya di bawah kursinya.
Tak lama dokter pun keluar dari ruang UGD. Tristan orang pertama yang berdiri, dan menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana Richard, dokter?" tanya Tristan dengan cepat.
Tristan benar-benar sangat mencemaskan kondisi Richard.
Dokter itu terlihat melepaskan maskernya sebelum bicara pada Tristan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, pasien sudah berhasil di selamatkan. Luka serius di kepala dan kakinya butuh kami observasi dan beberapa tes juga Rontgen untuk memastikan apakah ada fungsi yang terganggu atau tidak. Tapi kami bisa katakan kalau pasien sudah merespon kami tadi, jadi dia akan di pindahkan ke ruang rawat sambil menunggu hasil labnya keluar. Kalian bisa menjenguknya saat pasien sudah di pindahkan ke ruang rawat!" jelas dokter itu yang langsung meninggalkan Tristan dan yang lain.
Bukan main leganya Tristan mendengar Richard sudah lewat dari masa kritis. Dan sudah bisa di jenguk setelah di pindahkan ke ruang rawat.
Hal yang sama juga di rasakan oleh Arista. Dia juga langsung memeluk Arumi sangking leganya mendengar Richard selamat.
Sarah juga tersenyum senang lantas memeluk Tristan.
"Syukurlah dia selamat sayang, aku lega sekali mendengarnya. Ayo kita ke ruang rawatnya!" kata Tristan mengajak Sarah ke ruang rawat Richard.
Padahal Richard sendiri masih di dalam ruang penanganan di UGD. Tapi Tristan yang sudah mereservasi ruangan rawat terbaik di rumah sakit ini langsung mengajak Sarah ke sana. Rendra juga lantas mengajak Arumi dan Arista ke sana juga.
Sementara itu di rumah Yuliana, Raja masih terus menangis karena ingat dan khawatir pada Richard.
Ratu sengaja di ajak main oleh asisten rumah tangganya agar tak mendengar cerita Raja yang terus bicara tentang kepala Richard yang berdarah.
"Sayang, tenanglah. Paman Richard akan baik-baik saja. Dia orang baik, Tuhan akan melindunginya!" kata Yuliana berusaha menenangkan cucunya.
Renata juga sudah berusaha menenangkan Raja. Tapi anak itu terlihat sangat cemas dan khawatir. Bagaimana pun peristiwa itu terjadi di depan matanya. Ketika Richard jatuh terpental karena di tabrak mobil itu, Raja jelas melihatnya. Jadi dia sangat takut.
"Sayang, nanti aunty telepon mommy ya. Raja mau lihat paman Richard?" tanya Renata.
Raja langsung mengangguk cepat.
"Renata, memangnya boleh anak kecil menjenguk pasien korban kecelakaan? setahu mami...!"
"Mami!" sela Renata
"Aku yakin pasti boleh. Mereka keluarga Hutama mi. Aku akan hubungi Arumi saja, Arista pasti masih panik. Aku lihat dia sangat panik ketika naik ambulans tadi, tangannya bahkan gemetar!" kata Renata yang di angguki oleh Yuliana.
Renata lantas menghubungi Arumi.
__ADS_1
"Halo kak!" kata Arumi setelah menerima panggilan telepon dari Renata.
"Arumi, Raja sangat cemas dengan kondisi Richard. Dia terus menangis, bisakah aku membawanya menjenguk Richard?" tanya Renata.
"Kasihan Raja, bawa saja dia kesini kak. Aku akan minta pada mas Rendra mengurus ijin untuk Raja. Kalau sudah sampai di rumah sakit, hubungi aku lagi ya. Aku akan menunggu di lobi rumah sakit!" kata Arumi.
"Baiklah!" kata Renata.
Setelah menghubungi Arumi, Renata lalu mengajak Raja pergi ke rumah sakit.
Sementara itu Richard sudah di pindahkan ke ruang rawat. Tapi dia belum sadarkan diri. kata dokter itu karena pengaruh obat yang tadi mereka berikan saat menjahit luka di kepala dan kaki Richard.
Sejak pertama kali Richard di masukkan ke ruang rawat. Tristan yang terus berada di samping Richard.
Arumi dan Rendra yang ada di dekat jendela, lantas saling pandang dan berbisik.
"Mas, apa saat kamu sakit Tristan juga seperti itu?" tanya Arumi yang sejak tadi memperhatikan kalau Tristan itu sangat khawatir, benar-benar khawatir pada Richard.
Rendra tersenyum mendengar pertanyaan Arumi.
"Sayang, jika pada asisten pribadinya saja dia begitu. Menurutmu bagaimana pada kakaknya?" tanya Rendra balik, dia merasa pertanyaan istrinya itu sebenarnya tidak butuh jawaban.
"Aku tidak sangka loh, dia itu di luar terlihat seperti kulkas tiga pintu. Tapi sebenarnya hatinya sangat lembut. Aku rasa dia benar-benar adik kandungmu!" kata Arumi membuat Rendra terkekeh.
Sementara Arista terlihat melihat terus ke arah Richard. Dia benar-benar ingin mengucapkan terimakasih pada pria yang telah menyelamatkan anaknya itu. Raja dan Ratu adalah yang paling berharga bagi kehidupan Arista. Mereka berdua adalah alasan kenapa Arista tetap hidup setelah orang yang sangat dia cintai, yaitu ayah kandung Raja dan Ratu tiada karena ulah Chandra Wijaya dulu. Raja dan Ratu juga adalah alasan Arista mau menjadi istri kedua Gabriel.
Bagi Arista, luka yang dia terima tidak akan terasa. Tapi jika Raja dan Ratu yang terluka itu akan sangat menyakitkan baginya. Sungguh tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, betapa dia sangat berterima kasih dan berhutang pada Richard.
***
Bersambung...
__ADS_1