
Sarah dan Tristan masih tidur sambil berpelukan ketika bel pintu apartemen mereka terus berbunyi. Terus menerus bahkan tanpa jeda. Tristan yang merasa terganggu lantas melepaskan pelukannya dari Sarah.
Sarah masih tertidur lelap, sepertinya dia sudah sangat kelelahan akibat gangguan Tristan sampai jam satu malam. Bahkan sekarang Sarah belum pakai bajunya dengan benar karena sangat mengantuk dan kelelahan semalam.
Tristan lekas turun dari tempat tidur lalu memakai atasan piyama nya. Dia bergegas ke arah pintu.
"Awas saja kalau tidak penting!" kata Tristan kesal sambil berjalan dengan cepat ke arah pintu apartemennya.
Ceklek
"Bos gawattttt!"
Ternyata si pembuat ulah itu adalah Richard. Begitu Tristan membuka pintu, Tristan langsung melihat wajah aneh Richard dengan berkata ada sesuatu yang gawat yang sedang terjadi.
"Apa?" tanya Tristan sambil mengacak rambutnya.
"Bos, semua investor menarik investasi mereka. Ponsel bos pasti mati ya? Banyak pemegang saham yang menghubungi ku mengeluh karena bos tidak mengaktifkan ponsel padahal mereka sedang ribut, mereka juga mau menarik saham mereka. Aduh, bagaimana ini bos? kantor sangat kacau, para karyawan bahkan sudah mendengar desas-desus perusahaan akan tutup. Mereka mogok kerja bos. Mereka takut tidak di gaji!" jelas Richard sambil menunjukkan ekspresi wajah yang aneh di depan Tristan.
Tristan tentu saja terkejut bukan main.
"Bagaimana bisa? sampai kemarin sore perusahaan masih baik-baik saja, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tristan bingung.
"Ih... bos. Kan tadi aku sudah bilang. Para investor menarik investasi mereka, hanya tinggal pak Pramudya dan Pak Nirwan yang tidak. Apa yang harus aku lakukan? aku mau ke kantor takut babak belur di hajar para pemegang saham. Aku kabur ke sini saja!" kata Richard.
Tristan terdiam sejenak, lalu setelah berpikir beberapa detik kemudian dia berkata kepada Richard.
"Kamu tunggu di sini, aku mandi dan ganti pakaian dulu!" kata Tristan yang kembali menutup pintu apartemennya karena dari tadi memang mereka berbicara di depan pintu.
Brakk
"Oh emji... aku gak di suruh masuk gitu? kejamnya!" gerutu Richard yang melihat pintu di depannya dengan termenung.
Tristan langsung kembali ke dalam kamarnya kemudian mandi dan berganti pakaian tanpa membangunkan Sarah. Dia melakukan semua itu dengan cepat. Karena dia merasa ada yang tidak beres yang sedang terjadi dengan perusahaannya.
Tristan hanya meninggalkan secarik surat yang ditujukan untuk istrinya, mengatakan kalau dia ada pekerjaan jadi pergi duluan. Tristan minta pada Sarah untuk tidak ke kantor hari ini dan pergi ke rumah ayahnya saja menemani Arumi yang pasti bosan karena tidak kemana-mana, sebab kakinya sedang keseleo dan belum sembuh.
__ADS_1
Setelah meninggalkan pesan seperti itu untuk istrinya, Tristan membuka pintu apartemennya dan melihat Richard berjongkok di depan pintu.
"Ayo!" kata Tristan.
"Kemana bos?" tanya Richard.
"Menemui tuan Pram dan Nirwan. Aku ingin tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi!" jelas Tristan menjawab pertanyaan Richard.
"Tidak mau ke rumah tuan Arya Hutama saja bos?" tanya Richard lagi.
"Ini perusahaan ku Richard, aku tidak bisa sedikit sedikit minta bantuan ayah, kalau aku bisa selesaikan maka akan aku selesaikan sendiri...!"
"Kalau tidak bisa bos?" tanya Richard menyela kalimat yang begitu diplomatis dari Tristan.
"Ck... cerewet. Ayo cepat!" seru Tristan pada Richard.
Tristan dan Richard akhirnya pergi menemui dua investor yang masih bertahan itu. Tristan curiga kalau ada orang atau oknum sedang bermain cantik di belakangnya. Mengambil semua investornya dan ingin menghancurkan PT Arya Hutama. Tapi siapa orang itu, terus terang Tristan belum bisa menebaknya, kalau tidak orang yang sangat berkuasa, pasti orang yang punya banyak uang. Dia pikir tidak mungkin itu Chandra Wijaya, karena meskipun dia punya kuasa. Dia kurang punya uang.
Selama setengah jam lebih Tristan terus berpikir siapa orang itu. Sampai Richard berkata.
"Belum, dan aku tidak ada niat untuk melakukan itu!" kata Tristan yang sudah yakin akan banyak yang menghubungi nya. Dia perlu tenang dan berpikir jadi dia tidak mengaktifkan nya.
Sedangkan Richard, dia dari tadi terus mendapatkan panggilan telepon dan banyak pesan masuk.
Setibanya mereka di kediaman Pramudya. Tristan dan Richard di sambut hangat oleh pria paruh baya itu.
"Selamat pagi pak Pram, maaf karena pagi-pagi begini kamu sudah datang ke rumah pak Pram" ucap Tristan berbasa-basi alakadarnya.
Pramudya lantas tersenyum. Dia senang Tristan sudah bisa membedakan bagaimana bicara dengan orang tua dan orang yang seumuran dengannya. Dulu dia bicara dengan Pramudya seenak hatinya. Tapi setelah Tristan pulang dari Paris, dia benar-benar sudah berubah.
"Silahkan duduk nak Tristan, Richard. Aku mengerti, aku juga memakluminya. Perusahaan sedang genting kan?" tanya Pramudya.
Ketiganya lantas duduk di ruang tamu.
"Benar pak Pram, kalau aku boleh tahu siapa yang melakukan semua ini?" tanya Tristan yang mengira kalau orang itu pasti datang juga pada pak Pramudya.
__ADS_1
Pria paruh baya itu mengangguk beberapa kali.
"Ini semua ulah seorang pengusaha muda bernama Jerry Alando!"
"Jerry Alando!" kata Richard terkejut.
Tristan langsung menoleh ke arah Richard. Bukankah seharusnya dia yang pakai dialog itu.
"Kalian mengenalnya?" tanya pak Pramudya.
Tristan dan Richard sama-sama mengangguk. Bedanya Tristan mengangguk dengan lebih kharisma sedangkan Richard mengangguk seperti anak TK yang ingin di berikan permen.
"Siapa dia?" tanya Pramudya lagi.
"Mantan karyawan..!"
"Mantan kekasih nona Sarah!" kata Richard membuat kata-kata Tristan berhenti.
"Mantan karyawan di perusahaan!" kata Tristan melotot pada Richard.
"Ih bos, dia kan memang mantan kekasihnya nona Sarah!"
"Diam Richard!"
Richard pun langsung menutup rapat mulutnya.
"Oh, jadi begitu. Aku mengerti sekarang masalahnya. Tapi saranku padamu nak Tristan, harta memang sangat penting. Tapi keluarga lebih penting. Apapun keputusan mu untuk perusahaan nanti, aku akan selalu mendukung mu. Aku bukan apa-apa kalau bukan karena tuan Arya Hutama mengajakku bekerja sama dulu. Sama dengan Nirwan, hanya saja sekarang dia sedang berobat di luar negeri. Tapi dia sudah bilang padaku, dia akan selalu mendukung tuan Arya Hutama dan juga dirimu nak Tristan!" kata pak Pramudya sambil tersenyum.
Tristan begitu bahagia, ternyata masih ada orang-orang yang begitu ingat akan jasa baik ayah dan ibunya. Sampai mereka terancam bangkrut pun, mereka tidak mau pergi meninggalkan perusahaan.
"Pak Pramudya percaya padaku kan? maka aku akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan!" kata Tristan begitu meyakinkan.
Pramudya mengangguk, dia percaya pada Tristan. Karena putra Arya Hutama pasti sama persis seperti Arya Hutama, sebab buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya bukan?
***
__ADS_1
Bersambung...