
Sarah meletakkan piring Tristan di atas meja di hadapannya. Sarah juga menyiapkan makan malam untuk Tristan.
Anak-anak panti yang sudah selesai makan malam juga langsung berpamitan dan minta ijin untuk meninggalkan ruang makan terlebih dahulu. Beberapa dari mereka masih ada tugas dari sekolah yang harus di kerjakan. Beberapa yang lain yang lebih dewasa, bahkan harus menyiapkan berbagai macam barang dagangan untuk usaha dagang online mereka.
Tinggallah di meja makan itu bunda Tiara, Sarah, Tristan, Rendra dan Kevin.
"Kevin mau tambah sayang?" tanya Sarah yang melihat makanan di piring Kevin sudah habis tak bersisa.
"Tidak mama Sarah, aku sudah kenyang. Mungkin papa mau tambah!" kata Kevin kemudian.
Sarah pun cukup terkejut karena Kevin berkata seperti itu. Rendra dan Tristan juga sama terkejutnya dengan Sarah.
"Hei jagoan, lihat perut papamu sudah buncit. Itu tandanya dia sudah kenyang!" kata Tristan.
Rendra semakin senang saja dalam hatinya melihat Tristan yang begitu keki pada tingkah Kevin yang seperti ingin Sarah lebih dekat padanya.
Tapi beberapa detik kemudian, senyum Rendra itu menghilang dari wajahnya.
'Kevin begitu ingin aku dan Sarah dekat. Apa mungkin...?' batin Rendra yang langsung melihat ke arah Kevin.
Rendra langsung kembali melihat ke arah putranya yang masih terus adu mulut dengan Tristan.
'Tidak nak, meski kamu menyukai Tante Sarah. Biarkan dia menjadi tantemu saja, ibumu hanya akan ada satu dulu, sekarang dan selamanya. Tidak akan ada yang mampu menggantikan tempatnya nak!' batin Rendra lalu mengusap kepala Kevin dengan lembut.
Kevin yang di usap kepalanya oleh sang papa langsung menoleh ke arah Rendra.
"Ada apa papa?" tanya Kevin.
Rendra lantas tersenyum.
"Tidak apa-apa nak, jika sudah selesai makan. Mari ikut papa bersih-bersih dan gosok gigi dulu!" kata Rendra.
"Bunda, dimana Kevin bisa ganti pakaian dan bersih-bersih?" tanya Rendra sambil menganggukkan kepalanya pada bunda Tiara.
Bunda Tiara yang paham maksud Rendra juga langsung berdiri dari duduknya.
"Oh, mari sini bunda tunjukkan!" kata bunda Tiara berjalan meninggalkan ruang makan di ikuti oleh Rendra yang menggandeng tangan Kevin.
"Mama Sarah tinggi Kevin ya, kita akan tidur bersama malam ini!" kata Kevin sebelum benar-benar keluar dari ruang makan yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Sarah.
Sarah pun duduk di tempat dimana bunda Tiara tadi duduk. Karena dia harus membereskan meja makan, namun karena Tristan masih makan malam. Sarah pun menunggu sampai Tristan selesai, tidak sopan sekali jika membereskan meja sedangkan Tristan masih makan bukan.
Melihat Sarah yang diam saja, Tristan pun mulai membuka percakapan.
__ADS_1
"Aku juga akan tidur di sini malam ini!" kata Tristan.
Sarah masih terdiam, dia bukannya marah. Tapi memang tidak tahu harus berkata apa. Masalahnya memang tidak ada kamar lagi yang kosong. Rendra saja harus tidur di sofa.
Melihat Sarah hanya diam terus, Tristan meletakkan sendoknya di atas piring.
"Aku bicara padamu!" seru Tristan kemudian.
Sarah menghela nafas panjang dan melihat ke arah Tristan.
"Aku mendengar mu Tristan, tapi aku tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada lagi kamar kosong di rumah ini, kak Rendra saja dia nanti akan tidur si sofa. Kalau kamu mau tidur di sofa seperti kak Rendra ya silahkan!" kata Sarah menjelaskan.
Tristan pun terdiam, dia meninggalkan kasur empuknya di apartemen demi tidur di sofa. Tristan malah bingung kenapa dia melakukan ini.
"Mama Sarah, aku sudah ganti baju. Lihat piyama ku gambar Minion. Aku suka Minion!" kata Kevin yang langsung datang ke pangkuan Sarah.
Sarah juga langsung memangku Kevin dan melihat baju yang Kevin pakai.
"Wah, Kevin lucu sekali pakai piyama ini!" kata Sarah yang memang suka melihat Kevin memakai piyama kuning, dia semakin terlihat menggemaskan.
"Mama Sarah, aku tampan tidak?" tanya Kevin membuat Rendra lumayan terkejut mendengarnya.
Bunda Tiara yang berjalan di belakang Rendra bahkan sampai terkekeh pelan.
"Darimana Kevin dapatkan kata itu?" tanya Sarah.
Sarah pun langsung mengangguk paham. Sambil mencium pipi Kevin Sarah berkata.
"Kevin sangat tampan, Kevin adalah keponakan mama Sarah yang paling tampan!" kata Sarah membuat Kevin tertawa senang.
"Kalau papa? tampan tidak mama Sarah?" tanya Kevin yang membuat Tristan berdiri dan meninggalkan ruang makan tanpa bicara sepatah kata pun.
Semua orang melihat ke arah Tristan. Termasuk Kevin dan bunda Tiara.
"Mama Sarah, uncle kenapa?" tanya Kevin yang melihat pamannya pergi dengan raut wajah tidak sedap di pandang.
Sarah pun mengangkat bahunya sekilas.
"Tidak tahu, mungkin uncle Tristan hanya ingin cari udara segar di luar!" jawab Sarah.
Rendra pun segera menyusul Tristan keluar. Bunda Tiara yang merasa ada yang tidak benar pun duduk dan bicara pada Sarah.
"Nak, sebenarnya ada apa?" tanya bunda Tiara.
__ADS_1
Sarah tidak langsung menjawab pertanyaan bunda Tiara. Sarah hanya melihat ke arah Kevin yang terus memperhatikannya.
"Kevin ikut nonton tv dulu saja sama yang lain ya. Mama Sarah mau membereskan meja makan dulu, ya!"
Mendengar perkataan Sarah Kevin pun langsung turun dari pangkuan Sarah dan langsung berlari ke arah ruang televisi.
Setelah Kevin pergi, Sarah pun mulai merapikan meja makan sambil berkata.
"Tidak ada apa-apa bunda. Bunda jangan cemas ya. Semuanya baik-baik saja!" ucap Sarah sambil tersenyum.
Bunda Tiara hanya diam sambil memperhatikan Sarah yang terus merapikan meja makan.
'Kamu memang berkata tidak ada apa-apa nak, tapi bunda tahu. Kamu sedang sedih saat ini!' kata bunda Tiara dalam hati.
Sementara itu di luar ruang sewa sementara panti asuhan bunda Tiara. Tristan sedang berdiri sambil berkacak pinggang dan terus mondar-mandir ke sana kemari di depan teras.
"Kenapa?" tanya Rendra lalu duduk di salah satu kursi yang ada di teras.
Tristan langsung menoleh begitu mendengar suara Rendra.
"Kak, apa-apaan sih. Kenapa kalian harus menginap di sini. Lihat kamar yang akan di tempati Kevin, apa Kevin bisa tidur di tempat itu? kakak juga, apa kakak bisa tidur di sofa di ruangan yang terbuka? kenapa kakak melakukan semua ini? untuk apa?" tanya Tristan.
"Kevin yang menginginkan semua ini, Kevin yang ingin menginap di sini...!"
"Apa jika Kevin minta kakak menikahi Sarah, kakak juga akan melakukannya?" tanya Tristan yang terlihat kesal.
Rendra langsung memasang wajah serius.
"Pertanyaan macam apa itu Tristan?" tanya Rendra tak senang dengan pertanyaan Tristan itu.
"Itu maksudku kak! tidak semua keinginan Kevin itu harus kakak penuhi kan? sebagai orang tua harusnya kakak tahu kan mana yang boleh dan tidak boleh, mana yang benar dan tidak benar. Harusnya kakak jelaskan itu pada Kevin!"
Dari semua perkataan Tristan, Rendra benar-benar bisa menangkap kalau Tristan benar-benar tidak suka dengan semua ucapan Kevin yang seakan terus mendekatkan Rendra dengan Sarah.
Rendra langsung berdiri begitu mendengar semua yang Tristan katakan.
"Bagus kalau kamu paham Tristan, tidak semua keinginan anak harus di turuti oleh orang tuanya. Orang tua tahu yang terbaik bagi anaknya, itu yang sedang ayah lakukan untukmu. Ayah tahu yang terbaik untukmu. Ingat Tristan, feeling orang tua tidak pernah salah!" terang Rendra.
"Kenapa malah kesitu sih, aku bicara tentang Kevin!" protes Tristan.
"Tapi secara tidak langsung kamu sedang membicarakan dirimu sendiri, coba pikirkan baik-baik!"
Rendra langsung masuk ke dalam rumah setelah berkata seperti itu pada Tristan. Membuat Tristan memukulkan tangannya ke udara kosong karena kesal.
__ADS_1
***
Bersambung...