Tega

Tega
Bab 130


__ADS_3

Tristan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tujuan mereka adalah menuju ke mall, Tristan ingin mengajak Sarah menghabiskan waktunya seharian ini dengannya.


Sepanjang perjalanan, Tristan tak berhenti melirik ke arah Sarah. Meski Sarah anggap hal itu karena Tristan hilang ingatan. Tapi bagaimanapun juga Sarah hanya manusia biasa, wanita biasa yang kalau di lirik seperti itu terus, merasa salah tingkah juga.


"Sarah, wajahmu yang malu-malu seperti itu sangat cantik!" ujar Tristan makin membuat wajah Sarah nge-blush.


Sarah tak merespon ucapan Tristan barusan, dia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain. Ke arah jendela, agar Tristan tidak bisa melihat wajahnya yang memerah karena apa yang di katakan Tristan barusan.


Sepanjang perjalanan sampai ke mall, Tristan benar-benar banyak menggombal. Sarah benar-benar yakin kalau Tristan memang amnesia. Sebab manusia batu yang dia kenal tidak akan pernah mengatakan kata-kata seperti itu padanya.


Sarah memang pernah mendengar Tristan bicara manis pada Shanum di telepon. Saat itu bahkan Sarah mengira Tristan itu punya dua kepribadian, alias orang yang punya kepribadian ganda.


Tapi kini Sarah mengerti, kalau Tristan memang sangat manis dan perhatian pada seseorang yang dia anggap spesial. Disini ketika Tristan sadar kan yang di anggap istri adalah Sarah. Maka Sarah menduga kalau Tristan pasti menganggapnya spesial.


Namun Sarah juga menyadari kalau semua ini hanya bersifat sementara. Seperti amnesia yang di alami Tristan. Kata dokter sifatnya hanya sementara, karena itu meskipun betapa manisnya kata-kata Tristan pada Sarah. Sarah tetap berusaha membentengi dirinya agar tidak jauh terlalu dalam dan terbawa perasaan. Karena jika Tristan ingat semuanya nanti, pasti orang yang pertama dia cari adalah Shanum.


Maka yang bisa Sarah lakukan saat ini hanya diam. Sambil menunggu kapan ingatan Tristan akan kembali.


Sampai di basemen mall terbesar di kota ini. Tristan mencari tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari lift. Setelah parkir, Tristan cepat-cepat membuka sabuk pengamannya. Lalu membuka pintu dengan cepat, dia keluar lalu berlari memutar ke arah pintu mobil bagian penumpang dimana Sarah baru saja selesai melepaskan sabuk pengamannya.


Tristan membukakan pintu mobil untuk Sarah, dan berkata.


"Silahkan nyonya Tristan Hutama!" kata Tristan dengan senyum di wajahnya.


Mata Sarah nyaris berkaca-kaca. Wanita manapun pasti terharu di perlukan seperti itu oleh suaminya. Tapi di sini Sarah justru merasa sedih, karena suaminya bersikap seperti itu saat suaminya hilang ingatan.


Sarah buru-buru mengalihkan pandangannya dan berpura-pura melihat ke sekeliling.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Tristan khawatir.


Sarah yang sudah sedikit tenang pun langsung mengangguk cepat dan tersenyum pada Tristan.


"Ah, iya. Aku baik. Tumben ya parkiran di sini sepi. Biasanya sangat ramai di hari kerja begini!" kata Sarah beralasan.


Mendengar ucapan Sarah yang sepertinya mengenal tempat ini, Tristan pun bertanya.


"Apa kamu sering kemari?" tanya Tristan.


Masalahnya dia tahu kalau sebelum menikah dengannya. Sarah masih terus di kejar-kejar oleh mantannya yang juga pernah bekerja di perusahaannya dulu. Tristan coba mencari tahu, apakah Sarah pernah nonton film dengan mantan kekasihnya itu di mall ini. Kalau itu benar, maka Tristan akan mengajak Sarah pergi saja dari tempat itu dan mencari bioskop di tempat lain saja.

__ADS_1


"Tidak juga, hanya kalau Arumi ingin mencari jaket mahal dan bermerek!" kata Sarah.


Tristan lantas mengangguk paham, dia lega mendengar jawaban Sarah. Setidaknya bukan dengan mantan kekasihnya itu dia sering ke mall ini.


Tristan pun langsung menyodorkan tangannya pada Sarah.


"Ayo!"


Sarah masih melihat ke arah tangan dan wajah Tristan secara bergantian.


"Ayo!" ucap Tristan yang menarik tangan Sarah dan merangkulkan nya di tangannya.


Sarah hanya bisa diam dan mengikuti langkah Tristan saja. Sampai mereka tiba di lantai yang ada bioskopnya.


Tristan meminta Sarah menunggu sebentar di sofa yang ada di dekat tempat pembelian karcis. Sarah melihat banyak poster besar di mall itu. Dan salah satu toko di dekat bioskop tersebut terlihat memajang poster yang besar sekali.


Karena penasaran, Sarah pun berdiri dan berjalan ke dekat toko itu untuk melihat poster apa itu. Dan benar saja, gambar seorang wanita cantik, memakai scraft yang begitu indah. Di bawahnya tertulis namanya,


*Shanum Margaretha. Dapatkan segera design limited edition nya. Hanya di toko ini.


Sarah langsung melihat ke arah Tristan. Sarah berpikir jika dia membawa Tristan melihat gambar Shanum itu, apakah ingatan Tristan bisa kembali. Itulah yang di pertanyakan Sarah di dalam pikirannya.


Tapi karena Sarah sudah mulai resah dengan semua sikap manis dan perilaku Tristan yang benar-benar seperti seorang suami yang baik. Sarah merasa patut mencoba hal itu. Sebelum dia terbawa perasaan pada sikap Tristan itu.


"Tristan, masih lama tidak filmnya di putar?" tanya Sarah.


"Hei, kamu darimana? masih lima belas menit lagi. Mau ke toilet ya?" tanya Tristan menduga-duga.


Sarah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, di sana, di toko itu. Ada promosi scraft dari designer terkenal. Kita lihat-lihat kesana yuk!" ajak Sarah.


Tristan yang belum tahu apa tujuan Sarah, malah mengira Sarah memang ingin sebuah scraft. Tanpa ragu, Tristan pun langsung mengangguk setuju dan berjalan bersama Sarah ke arah toko tersebut.


Namun ketika mereka tiba di depan toko tersebut. Tristan menghentikan langkahnya melihat poster besar Shanum ada di depan toko tersebut. Tristan menghela nafasnya dan menoleh ke arah Sarah.


'Jadi ini maksudnya, Sarah... apa seharusnya aku jujur saja padamu. Kalau aku tidak lupa ingatan, dan aku juga sudah tidak mencintai wanita itu lagi. Tapi... jika aku melakukan itu sekarang, aku tidak yakin kamu masih mau bersamaku lagi! Sarah... jadi aku harus bagaimana meyakinkan mu?' batin Tristan sambil melihat ke arah Sarah yang juga sedang melihat ke arah Tristan.


'Dia berhenti, apakah dia sudah mulai ingat sesuatu tentang wanita yang sangat dia cintai ini?' batin Sarah.

__ADS_1


Kedua pasang mata saling bertemu, tapi keduanya masih diam dengan pemikiran masing-masing.


Sampai beberapa detik kemudian Tristan mendekati Sarah dan merangkulnya.


"Kenapa malah diam, ayo.. pilihlah mana scraft yang kamu suka!" ajak Tristan pada Sarah.


Namun saat Tristan mengajak Sarah masuk ke dalam toko. Sarah malah menahan Tristan.


"Tristan, lihat poster itu!" kata Sarah.


Sarah masih tak percaya, kalau setelah Tristan melihat foto Shanum, Tristan masih tidak bisa ingat apapun tentang Shanum. Padahal Shanum kan wanita yang paling Tristan cintai, Sarah masih tak percaya hal itu.


Tristan langsung menoleh ke arah poster itu, sebenarnya Tristan malas melihatnya. Tapi karena Sarah yang minta. Tristan pun melihat ke arah poster Shanum itu dalam beberapa detik.


"Ada apa dengan poster itu, Shanum Margaretha. Apa kamu mengenalnya?" tanya Tristan membuat Sarah tercengang.


"Tristan lihat lagi, dia Shanum. Shanum Margaretha!" kata Sarah.


"Lalu kenapa kalau dia Shanum Margaretha?" tanya Tristan terus berpura-pura.


Sarah benar-benar sudah tak tahan lagi. Dia benar-benar ingin Tristan mengingat semuanya. Dia tidak mau terus seperti ini.


"Tristan, aku katakan yang sebenarnya padamu ya. Shanum itu...!"


*Ponsel Sarah berdering


Sarah memutuskan untuk mengabaikan ponselnya karena merasa apa yang ingin dia katakan pada Tristan lebih penting.


"Tristan...!"


"Sarah, ponselmu berdering terus. Angkat dulu, siapa tahu penting!" kata Tristan yang sengaja ingin Sarah tidak mengatakan apapun tentang Shanum lagi.


Sarah pun berdecak kesal dan meraih ponselnya yang ada di dalam tasnya.


Ketika melihat yang memanggil adalah Arumi. Sarah pun menerima panggilan tersebut.


"Dari Arumi, sebentar ya!"


Sarah pun berbalik dan sedikit menjauh dari Tristan. Sementara Tristan malah menghela nafas lega, karena Sarah tidak jadi menyebutkan apa-apa lagi tentang Shanum. Karena Tristan memang sudah tidak mau lagi membahas tentang wanita itu lagi. Tapi untuk mengakui kalau dirinya sebenarnya tidak lupa ingatan, Tristan juga masih butuh waktu sampai dia meluluhkan hati Sarah. Karena dari hatinya yang paling dalam, Tristan benar-benar tidak mau berpisah dengan Sarah.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2