
Sarah masih diam sambil menahan air matanya, entah kenapa dia juga sedih saat di peluk oleh wanita itu.
Widya terus menangis dan memeluk Sarah dengan erat. Damar Adhikara bahkan ikut menangis, dia berdiri dan berjalan perlahan menghampiri Widya dan Sarah.
"Nak, maafkan ayah. Selama ini kamu pasti sangat kesulitan!" kata Damar Adhikara mengusap lembut kepala Sarah.
Sarah yang bingung pun lantas melihat ke arah bunda Tiara yang juga sedang menangis. Meski beberapa kali dia berusaha menyeka tangisnya tapi tetap saja air matanya tidak mau berhenti mengalir.
"Bunda...!" ucap Sarah bingung.
Sarah lantas menarik dirinya dari pelukan Widya. Sarah lantas menghampiri bunda Tiara dan memeluk lengan bunda Tiara.
Damar dan Widya mengerti, pasti sulit bagi Sarah mengerti siapa mereka. Mengapa mereka datang-datang memeluk Sarah dan minta maaf.
"Sarah sayang, mereka adalah kedua orang tua kandung mu"
Deg
Sarah terkejut, jantungnya nyaris berhenti berdetak mendengar apa yang baru saja di katakan bunda Tiara itu.
"Ini ibu dan ayah, nak!" kata Widya di sela Isak tangisnya.
Sarah hanya menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. Sarah masih sulit percaya, kalau orang tua yang tak pernah menemuinya selama 24 tahun mendadak datang padanya.
"Kalian yang meninggalkan aku di sini?" tanya Sarah dengan suara lirih.
Widya langsung memejamkan matanya, tak hanya itu. Widya juga menekan dadanya yang rasanya sesak sekali. Rasanya sangat sesak sampai Widya tak bisa bernafas dengan baik. Rasa bersalahnya begitu menyakiti hatinya.
Bunda Tiara yang mendengar pertanyaan Sarah itu lantas memegang pundak Sarah dengan lembut.
"Sarah, duduklah. Bunda akan jelaskan semuanya!" kata bunda Tiara yang tak ingin Sarah salah paham.
Sebenarnya apa yang ada di kepala Sarah, dan dia ungkapkan tadi itu memang lumrah, sangat wajar. Dia sudah di tinggalkan sejak usianya dua tahun. Sekarang usianya 26 tahun. Dan selama ini sama sekali tidak ada yang mencarinya. Bukankah wajar kalau dia bertanya seperti itu pada kedua orang yang mengaku orang tua kandungnya yang baru datang sekarang itu.
__ADS_1
Sarah langsung menghela nafasnya panjang. Dia kemudian duduk seperti yang dikatakan oleh bunda Tiara.
Bunda Tiara juga mempersilahkan Widya dan Damar Adhikara duduk. Setelah itu bunda baru menceritakan semuanya, semua yang tadi Widya dan Damar Adhikara ceritakan pada bunda Tiara.
Sarah yang mendengar semua itu pun jadi menangis.
Bunda Tiara berbisik pelan pada Tiara.
"Lihat mereka nak, mereka sangat merindukan mu. Mereka tak berhenti meminta maaf padamu, tidaklah kamu merasa kamu beruntung nak, setidaknya meski butuh 24 tahun kamu masih bisa bertemu orang tua kandung kamu, setidak-tidaknya kamu masih di beri kesempatan berbakti pada orang tuamu nak, setidaknya kamu masih bisa memeluk mereka dan memanggil mereka ayah dan ibu!" bisik bunda Tiara pada Sarah.
Sarah langsung melihat ke arah Widya yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Ibu!" panggil Sarah pelan.
Widya yang mendengar itu langsung berdiri dan merentangkan kedua tangannya pada Sarah. Sarah juga bangun dan memeluk ibunya itu.
"Anakku!" lirih Widya.
Damar Adhikara juga bangkit dari duduknya, menunggu giliran di peluk sang anak kandung yang lama terpisah darinya.
Melihat Sarah bertemu kedua orang tuanya, bunda Tiara menangis. Tapi itu adalah tangisan bahagia.
'Alhamdulillah, Alhamdulillah... terimakasih ya Tuhan. Sarah anakku telah bertemu dengan kedua orang tua kandungnya!' kata bunda Tiara dalam hati.
Setelah melepas rindu, Widya yang terus memegang Sarah dan tak mau duduk jauh dari anaknya bertanya banyak hal tentang Sarah pada bunda Tiara. Bunda Tiara juga menunjukkan foto-foto Sarah sejak usianya 2 tahun sampai saat Sarah berusia 26 tahun. Bahkan foto pernikahan nya.
Rasa sedih dan bersalah kembali menyelimuti hati Damar dan Widya, karena mereka tak ada di samping Sarah ketika itu terjadi.
Karena Damar Adhikara dan Widya juga tak suka nama Tari yang di berikan Mulya. Maka Damar Adhikara dan Widya memanggil Sarah dengan namanya yang di berikan oleh bunda Tiara.
"Bunda, terimakasih banyak. Bunda telah memberi anak kamu nama yang begitu indah. Mengurusnya dengan sangat baik. Mungkin semua yang kami miliki tak akan cukup untuk membalas semua kebaikan bunda, terima kasih banyak bunda Tiara!" ucap Widya.
Bunda Tiara menganggukkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
"Aku yang merasa beruntung karena sudah bertemu dengan Sarah. Kalian tidak tahu berapa Sarah bekerja keras untuk kami semua di panti. Kami yang beruntung tuan, nyonya!" kata bunda Tiara.
Setalah banyak bercerita, Sarah juga menunjukkan kalung yang memang menjadi satu-satunya petunjuk siapa dirinya dimasa lalu. Tapi meskipun tanpa kalung itu, Damar sekali lihat saja sudah tahu kalau Sarah anak mereka, Sarah benar-benar bagai pinang di belah dua dengan Widya waktu muda. Seandainya Mulya tidak membuang Sarah saat kecil, saat tumbuh besar, Damar Adhikara dan Widya pasti juga bisa mengenali Sarah sebagai anak kandungnya.
"Sekarang kamu tinggal dimana nak?" tanya Damar Adhikara.
"Di apartemen suami ku ayah!" jawab Sarah yang masih agak canggung.
Damar lantas tersenyum dan kembali mengusap kepala Sarah dengan lembut. Sebenarnya Damar ingin sekali mengajak Sarah ke kota kelahirannya. Tapi Damar sadar, kalau dia sudah bersuami. Dan harus tinggal bersama suaminya.
Damar Adhikara dan Widya terus bertanya banyak hal pada Sarah. Bagaimana dia sekolah, bagaimana dia di sekolah dulu. Bagaimana dia menjalani hari-harinya selama di panti. Senyum kadang menghiasi wajah Widya dan Damar jika Sarah bercerita tentang kebahagiaan di hidupnya. Tapi raut wajah sedih juga tergambar jelas di wajah Damar Adhikara dan Widya ketika Sarah mengisahkan perjuangannya untuk panti dan adik-adik pantinya.
Damar Adhikara dan Widya semakin bangga pada Sarah. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya, Sarah memang punya sifat mandiri, jujur, pekerja keras dan lantang menyerah seperti Damar dan Widya. Berbeda dengan Inka yang keras kepala, manja dan keras hati. Jika sudah punya kemauan, maka dia akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkannya tapi bukan dengan berusaha, melainkan dengan merengek.
Namun baru saja mereka sedang berbincang. Ponsel Sarah tiba-tiba saja berdering. Dan nama pemanggil nya adalah Richard.
"Ha...!"
"Nona cepat datang ke kantor nona, bos sedang gelut dengan mantan pacar... eh. Maksudku mantan karyawan bos dulu yang di pecat tidak hormat itu!" kata Richard terdengar sangat panik.
Richard bahkan langsung menyela ucapan Sarah tadi.
"Tristan berkelahi? kenapa?" tanya Sarah.
"Nona datang saja, perusahaan sedang di ujung tanduk ini. Perusahaan mau di rebut orang, cepat nona!" kata Richard lantas menutup panggilan teleponnya.
Sarah langsung menyimpan kembali ponselnya.
"Ayah, ibu, bunda. Maaf aku harus pergi. Tristan dalam masalah!" kata Sarah.
"Kami ikut nak!" kata Widya.
"Benar nak, siapa tahu kamu bisa membantu!" kata Damar yang tidak ingin lagi jauh-jauh dari anaknya yang sudah lama terpisah darinya.
__ADS_1
***
Bersambung...