
Wulan terlihat panik mendengar apa saja yang di katakan Renata pada Rani.
"Rani, jangan percaya padanya sayang. Dia itu calon ibu tirimu. Tentu saja dia akan bermulut manis di awal, setelah mendapatkan ayahmu. Baru sifat aslinya akan keluar, Rani percayalah. Hanya mama yang mencintai mu dengan tulus...!"
"Mana ada ibu yang tulus membiarkan anaknya melakukan banyak kesalahan demi mendapatkan uang? mana ada ibu yang menjual nama anaknya pada ayahnya sendiri demi hidup senang tanpa bekerja?" tanya Renata menyela ucapan Wulan.
Rani sudah menangis, dia baru menyadari kalau apa yang di ucapkan oleh Renata itu memang benar. Renata memang tidak pandai berkelahi, tapi kalau urusan mencari fakta, jangan abaikan keahliannya yang satu itu, anggap saja itu adalah sisi positif atau keuntungan menjadi anak Chandra Wijaya yang memang suka mencari tahu fakta tentang saingan bisnis mereka. Apa saja yang harus di cari tahu, dan bagaimana membuktikannya.
Renata sebenarnya berharap Rani sudah bisa terbuka matanya dengan semua yang dia katakan. Karena kalau Rani masih belum percaya, sebenarnya Renata akan meminta pengawalnya membawa pria bernama Bertrand itu ke hadapan Rani. Tapi sebenarnya Renata berharap dia tidak sampai melakukan semua itu.
Rani yang terisak lantas berjalan menghampiri mamanya. Dengan langkah pelan dan lemah Rani menyeka air matanya.
"Apa mama juga benar-benar menyiapkan r4cun untukku?" tanya Rani terisak lagi.
Renata begitu terkejut sampai tak bisa menutupi keterkejutannya itu dengan membuka lebar mulutnya. Tapi sedetik kemudian Renata sadar akan apa yang dia lakukan dan menutup mulutnya yang terbuka itu dengan tangannya sendiri. Namun meskipun begitu, Renata masih tidak percaya kalau akan ada seorang ibu yang akan benar-benar melakukan itu.
Wulan terkejut bukan main, karena memang dia menyediakan benda yang tadi di sebutkan oleh Rani. Namun karena takut Rani menjadi benci padanya karena sudah banyak tercerahkan oleh ucapan Renata. Dengan cepat Wulan menggelengkan kepalanya. Toh, Wulan berpikir kalau Rani juga tidak akan bisa menemukan dimana benda itu berada.
"Tidak nak, mana mungkin mama melakukan itu. Mama sangat menyayangi mu, itu hanya gertakan untuk papamu nak. Tidak mungkin mama benar-benar membeli r4cun untukmu!" kata Wulan terdengar seperti seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya.
Tapi Renata tentu saja tidak menyerah begitu saja.
"Rani, kalau kamu mau tahu kebenarannya. Maka bekerja samalah dengan ku. Berapa nomer ponsel mama kamu ini?" tanya Renata pada Rani.
"Untuk apa kamu ingin tahu nomer ponselku, Rani sayang jangan beritahu dia, wanita ini pasti punya rencana licik!" kata Wulan pada Rani.
"Aku atau kamu perempuan keriput yang punya rencana licik, kita akan segera mengetahuinya!" kata Renata.
"Ini, tulis nomer ponsel mama kamu di sini!" kata Renata menyerahkan ponselnya pada Rani.
__ADS_1
Meski ragu, namun pada akhirnya Rani tetap meraih ponsel yang ada di tangan Renata. Rani mengetik nomer ponsel mamanya dan setelah itu, Rani kembali memberikan ponsel Renata pada pemiliknya.
Renata lantas segera menghubungi nomer itu. Setelah mendengar suara dering telepon. Renata minta pada pengawalnya untuk jangan sampai melepaskan Wulan.
"Jangan sampai dia lepas ya!" kata Renata.
Renata lantas masuk ke dalam rumah dan langsung mencari keberadaan ponsel Wulan yang ada di atas meja ruang televisi. Rupanya tadi Rani meletakkan ponsel ibunya di atas meja televisi sebelum keluar.
Setelah mendapatkan ponsel Wulan, Renata keluar dan menyerahkan ponsel itu pada Rani.
"Hubungi seseorang bernama Bertrand. Lalu diam dan jangan bicara apapun!" kata Renata pada Rani.
Wulan yang memang meletakkan benda berbahaya itu di rumah Bertrand lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Rani sayang, kamu percaya sama mama kan nak! jangan turuti perintah wanita itu nak. Mama tidak mungkin mencelakai kamu!" kata Wulan berusaha untuk membujuk Rani agar jangan mau melakukan apa yang di minta Renata.
"Hei, kenapa kamu diam saja. Dia berisik sekali. Tutup mulutnya agar diam!" kata Renata santai.
Wulan terus berusaha memberontak. Tapi itu percuma. Tenaga pengawal itu bahkan puluhan kali lebih kuat darinya yang sudah paruh baya itu.
Tangan Rani terlihat gemetar. Tapi pada akhirnya, dia pun menghubungi nomer yang bertuliskan Bertrand.
"Halo sayang, lama sekali kamu menghubungi ku. Jadi bagaimana? mau aku antarkan r4cun ini sekarang. Atau mantan suami kamu sudah menuruti permintaan mu lagi. Aku sudah tidak sabar untuk jalan-jalan bersamamu ke Maldives sayang!"
"Halo, Wulan... kamu dengar aku tidak?" tanya Bertrand di ujung panggilan telepon.
Sepertinya pria itu bingung karena dia di hubungi tapi Wulan malah tidak bicara. Wulan sudah panik, air matanya sudah berlinang. Kelicikannya sudah terbongkar. Dia pasti sudah tidak akan di percaya lagi oleh Rani. Dan Wulan akan kehilangan pohon uangnya.
Sementara Rani sudah menangis bahkan jatuh terduduk dengan tumpuan kedua lututnya. Tangannya yang lemas membuat ponsel mahal Wulan jatuh dan terlihat pecah layarnya.
__ADS_1
Rani tidak percaya dengan barusan yang dia dengar dari pria yang katanya selingkuhan, oh bukan. Pria itu bukan selingkuhan mamanya tapi pacar mamanya yang menyebabkan perceraian antara mama dan papanya terjadi.
Rani sangat kecewa pada mamanya, selama ini dia benar-benar sangat percaya pada apa yang dikatakan oleh mamanya. Selalu menuruti semua yang di katakan mamanya tanpa bertanya. Tapi kali ini dia mendengar kalau mamanya memanfaatkan dirinya untuk mendapat uang demi bersenang-senang dengan pria itu. Melarang papanya menikah dan bahagia karena tak mau kehilangan mesin ATM berjalannya. Hati Rani sangat sakit, semua yang dia lakukan karena h4sutan sang mama sudah membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Rani sangat terluka.
Melihat Rani yang sudah menyesali semua perbuatannya. Renata lantas mendekati calon anak sambungnya itu dan memegang bahunya lembut.
"Rani, semua belum terlambat. Minta maaflah pada semua orang yang telah kamu sakiti. Kembalikan kasih sayang mereka padamu!" kata Renata.
Rani langsung menatap Renata dengan mata yang berlinang air mata.
"Apa kamu juga akan memaafkan aku?" tanya Rani.
"Tentu saja, kenapa tidak!" kata Renata membuat Rani menyeka air matanya.
Rani baru akan berbalik, tapi Renata melarangnya.
"Hei, sudah. Jangan katakan sesuatu yang kasar atau buruk pada orang tuamu. Meski mama kamu sudah jahat padamu, dia tetap mama kamu. Jangan buat dirimu jadi anak durhaka. Sekarang kita temui papa kamu dan minta maaflah padanya. Dia pasti akan sangat senang!" kata Renata.
Rani pun mengangguk paham. Mereka lantas pergi dengan mobil Renata.
"Hei, pengawal. Lepaskan dia! Ayo pergi!" kata Renata.
Wulan terlihat sangat kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Rani tidak akan mudah untuk dia dekati lagi.
"Ck... sialll! bagaimana sekarang aku bisa dapatkan uang. Bertrand pasti akan pergi meninggalkan aku kalau aku tidak punya uang lagi. Hah...!"
***
Bersambung...
__ADS_1