Tega

Tega
Bab 145


__ADS_3

Hera masuk ke dalam rumah dengan sangat kesal. Bagaimana pun dia sudah merencanakan semuanya, agar dia bisa mengungkapkan isi hatinya pada Rendra malam ini. Dengan begitu Rendra pasti juga tidak akan menolaknya, karena mana mungkin itu terjadi. Jika Rendra menolak, maka artinya Rendra akan membuat papa angkatnya malu. Menurut Hera, Rendra tidak akan melakukan hal itu.


Tinggal bagaimana Hera nanti menaklukkan hati Rendra setelah semua jalan itu terbuka. Tapi sayang, wanita yang adalah teman Sarah itu membuat semuanya berantakan.


Hera begitu kesal, di hari dimana seharusnya dia menjadi wanita yang paling bahagia saat ini. Hera tidak sama sekali merasakan hal itu, di malah sangat kesal.


Acara pun di mulai, memang sangat ramai. Banyak pejabat dan pengusaha sukses yang hadir. Acara tiup lilin dan potong kue juga berlangsung sebagaimana mestinya. Karena memang Ari Ricardo terus mengawasi anak angkatnya tersebut.


Hera pun tak dapat berkutik, karena dia mengenal papa angkatnya itu. Apa yang dia katakan, itu yang akan dia lakukan.


Tapi mata Hera terus melihat ke arah Rendra Hutama yang sepertinya terlihat akrab dengan Arumi.


"Sepertinya aman, si buaya betina itu sepertinya tidak melakukan apapun yang membuat mu kesulitan mas!" kata Arumi yang sejak tadi juga memperhatikan gerak-gerik Hera.


"Kamu benar!" kata Rendra singkat padat dan jelas.


Tak lama kemudian, alunan musik romantis terdengar. Hera merasa kesal sekali, seharusnya saat ini dia bisa berdansa dengan Rendra berdua. Tapi gara-gara Arumi, dia malah hanya diam di dekat ibunya menerima ucapan para tamu yang memberinya selamat dan hadiah.


Sementara itu salah seorang kenalan Rendra menghampiri Rendra bersama dengan istrinya.


"Tuan Rendra, ternyata benar anda. Aku pikir salah, anda benar-benar tampak berbeda!" kata pria yang seumuran dengan Rendra itu.


Arumi memperhatikan Rendra dari ujung rambut sampai ujung kaki.


'Hah, apanya yang berbeda, yang lain benar-benar vintage, ini mas Rendra pakai jas biasa sama celana panjang biasa, warnanya saja yang hari ini sedikit beda dari biasanya yang hanya pakai hitam, putih, navy atau abu-abu. Darimana sangat berbeda?' tanya Arumi dalam hati.


"Anda bisa saja tuan Alif, anda juga tampak berbeda!" kata Rendra membalas pujian temannya itu.


"Oh iya, tuan Rendra. Kenalkan ini istri saya, Mona namanya, dia pendiri sanggar senam Sehat Bugar yang ada di jalan mangga!" kata pria yang bernama Alif itu.


'Oh, dia promo rupanya!' batin Arumi.


"Selamat malam, senang bertemu dengan anda, tuan Rendra!" kata wanita bernama Mona itu.


"Ini nyonya Rendra ya?" tanya Mona setelahnya.


"Mama, tuan Rendra ini duda!" sela suaminya.


"Aduh, maaf!"


Tapi Rendra malah menanggapinya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, nyonya Mona juga tidak salah. Ini Arumi, calon istri saya!" kata Rendra.


Ucapan Rendra itu sontak saja membuat Arumi langsung menoleh kaget ke arah Rendra. Arumi pikir, mereka hanya akan bersandiwara di depan Hera. Arumi tidak menyangka, Rendra begitu mendalami peran sampai pada kedua pasangan suami istri di depan mereka ini, Rendra juga mengakui Arumi sebagai calon istrinya.


"Wah, kabar yang menggembirakan ini. Saya menanti undangannya loh Tian Rendra!" kata Alif dengan senang.


Rendra pun baru sadar kalau sepertinya dia terlalu berlebihan bicara seperti itu pada Alif. Benar kata Arumi, sepertinya Rendra terbawa suasana dan terlalu mendalami karakternya sebagai calon suami Arumi.


Begitu pasangan itu pergi, Rendra langsung menghadap ke arah Arumi.


"Arumi, tadi itu...!"


"Tidak apa-apa mas, aku tahu. Kamu terbawa suasana kan?" tanya Arumi membuat Rendra pun mengangguk malu.


Tak berapa lama kemudian, ada lagi teman Rendra yang datang menghampiri Rendra dan Arumi. Mereka bahkan mengajak Arumi dan Rendra berdansa.


Arumi dan Rendra akhirnya turun ke lantai dansa dan berdansa berdua. Rendra terlihat terkejut, karena Arumi bisa berdansa dengan baik. Bahkan saat musik tak lagi slow, dan pasangan yang lain melakukan dansa Rumba. Arumi bahkan bisa langsung bergerak dengan baik. Tanpa menginjak sepatu Rendra seperti beberapa pasangan yang lain yang akhirnya memilih berhenti.


"Kamu pintar berdansa Arumi!" puji Rendra.


"Oh, iya mas. Aku suka lihat di Yutup!" kata Arumi memberikan alasan.


Rendra pun mengangguk paham. Sementara dari tempatnya berdiri, Hera benar-benar sudah tidak tahan lagi melihat Arumi dan Rendra yang dia sangat yakin kalau mereka bersandiwara.


Ketika Rendra dan Arumi keluar, Hera bergegas mengejar mereka. Namun Ari Ricardo menarik tangan Hera.


"Hera, mau apa kamu? sudah cukup papa bilang!" tegas Ari Ricardo.


"Aku masih harus membuktikan sesuatu pa, kalau kali ini aku salah. Aku janji tidak akan mengganggu mereka lagi!" kata Hera.


Fitria yang melihat beberapa orang mulai memandang ke arah mereka lalu menepuk bahu suaminya dengan lembut.


"Pa, lepaskan Hera. Banyak yang melihat kita!"


Mendengar sang istri bicara seperti itu, Ari Ricardo langsung melepaskan tangan Hera. Dan Hera pun langsung menyusul Arumi dan Rendra.


"Ma, anak itu semakin lama semakin tidak tahu aturan. Aku tidak pernah menyesal mengikuti apapun kemauan mu selama ini. Tapi aku benar-benar menyesal, mengikuti kemauan mu yang satu itu. Mengadopsi Hera dari panti, adalah kesalahan besar yang sudah kita lakukan!" kata Ari Ricardo marah lalu meninggalkan Fitria yang sangat sedih saat ini.


Sementara Hera memanggil Rendra dan Arumi yang akan menuju ke tempat parkir.


"Arumi, tunggu!" panggil Hera dengan suara keras.

__ADS_1


Arumi menghentikan langkahnya tapi dia mendengus kesal.


"Huh, mau apa lagi si buaya betina?" gerutunya kesal.


Ketika Arumi dan Rendra berbalik. Hera terlihat memandang ke arah tangan mereka yang sudah terlepas.


"Tuh, apa aku bilang. Kalian hanya pura-pura. Buktinya kalian sudah tidak bergandengan tangan lagi?" tanya Hera pada Arumi dengan wajah yang tonjokable.


"Hello!" kata Arumi.


"Memangnya harus gitu kita nunjukkin kalau kita ini mesra dengan gandengan tangan terus, plis deh mesra juga gak harus di umbar kali!" kata Arumi santai.


Rendra hanya tersenyum menanggapi Arumi yang begitu santai.


"Kalau gitu aku gak akan pernah berhenti mengejar mas Rendra, kamu tahu apa yang aku lakukan pada Alan kan, pria manapun juga..!"


Arumi langsung emosi begitu mendengar Hera mengucapkan nama Alan. Dia langsung mendorong Hera.


"Arumi!" ucap Rendra yang menahan kedua lengan Arumi karena sudah banyak yang memperhatikan mereka.


"Mas Rendra ini calon suami aku, kamu ganggu dia lagi. Habis kamu sama aku!" gertak Arumi sambil melotot pada Hera.


"Kalau begitu tunjukkan kalian gak cuma sandiwara!" pekik Hera membuat beberapa orang mulai mendekat.


"Nih buaya betina kalau gak di sumpel mulutnya gak bisa diem ya!" geram Arumi.


"Kalian itu cuma sandiwara kan, aku tuh sudah cari tahu tentang mas Rendra dan dia sama sekali gak ada hubungan sama kamu!"


"Diam kamu!" kata Rendra.


"Kenapa kalian takut ketahuan kalian sandiwara...!"


Arumi yang sudah naik pitam pun merasa kalau hanya bicara tidak akan membuat Hera diam. Tapi kalau dia memukul Hera juga akan jadi masalah. Jadi wanita lulusan terbaik Oxford university itu pun memilih jalan yang praktis.


"Kamu mau lihat buktinya? lihat pakai mata kamu ya!" ucap Arumi.


Rendra bingung, apa maksud Arumi, sampai Arumi berbalik menghadap ke arah Rendra lalu menangkup kedua pipi Rendra dengan tangannya dan...


Cup


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2