
Liburan anniversary Tami dan Hilman sudah berakhir. Di bandara, Jerry Alando yang memang sudah membuat janji dengan Hilman menunggu di ruang tunggu kedatangan luar negeri.
Jerry Alando dan Inka memang mempercepat bulan madu mereka. Alasan Alan pada keluarganya karena di Maldives sedang musim dingin. Dan kondisi Inka jadi tidak baik. Ayah dan ibu Alan yang melihat menantunya pucat kala itu juga langsung maklum dan malah menyuruh mereka berdua istirahat saja.
Tanpa ada yang tahu, kalau ternyata Inka pucat karena terus mendapatkan siksaan batin dari Alan. Parahnya, Alan kerap kali memaksa Inka berhubungan meskipun Inka masih sangat shock dengan kenyataan kalau Alan menikahi dirinya hanya demi harta.
Dan saat ini, di tempat inilah Jerry Alando. Menunggu kedatangan sahabat sekaligus pengacara terbaik di kotanya untuk membantunya mendapatkan semua yang Alan inginkan.
Tami terlihat tidak senang, saat dia keluar dengan Hilman di pintu kedatangan luar negri. Dia melihat Jerry Alando di sana sedang membuka kacamata dan menghampiri Tami dan Hilman.
"Sayang, kenapa di pembuat masalah itu menghampiri kita? jangan bilang kamu buat janji dengannya ya? haduh sayang, aku gak mau ikut-ikutan ya!" kata Tami yang sedikit banyak sudah tahu bagaimana teman sekolahnya itu dulu.
"Sayang, tenang saja. Aku ada proyek dengannya. Lumayan untuk persiapan ulang tahun anak kita Zhaky!" kata Hilman membujuk istrinya agar tidak marah karena Alan menjemput mereka di bandara.
"Ya sudah, aku akan bawa pulang barang-barang kita. Kamu hati-hati ya, kalau urusannya tidak benar, jangan mau!" Tami terus menasehati Hilman.
Tami tahu suaminya adalah pengacara, yang seharusnya memang membela kepentingan setiap klien yang datang padanya. Tapi Tami tetap ingin suaminya itu bekerja di jalan yang benar, membantu klien yang memang terdampak masalah, bukan penyebab masalah. Tami bahkan pernah meminta suaminya mengundurkan diri pada kasus yang tengah berjalan saat tahu kalau kliennya memang sengaja menghabisi nyawa istrinya demi asuransi. Meski harus membayar penalti ratusan juta, Tami rela menjual banyak perhiasannya. Asal suaminya tidak membela orang yang salah.
"Siap sayang!" balas Hilman.
Alan yang sudah dekat dengan keduanya lantas segera menghampiri dan melambaikan tangan pada Hilman dan Tami.
"Hai, Man, Tami!" sapa Alan.
Hilman terlihat mengangguk sambil tersenyum, tapi Tami memutar mata malas dan hanya menjawab.
"Hai!"
__ADS_1
Begitu singkat, padat dan jelas. Alan hanya terkekeh pelan, dia memang hafal betul karakter istri sahabatnya itu. Tapi karena memang dia membutuhkan bantuan Hilman. Dia tidak mau ambil panjang urusan sikap Tami barusan.
"Ya udah, sayang. Aku pulang duluan ya!" kata Tami yang kemudian mencium pipi suaminya itu.
Lalu Tami melihat ke arah Alan.
"Heh, biang rusuh. Jangan ajak suami aku yang enggak-enggak ya!" peringat Tami yang langsung berbalik dan berjala. meninggalkan mereka.
Hilman hanya bisa menepuk bahu Alan.
"Tuh kamu lihat sendiri kan bro, istriku tuh berhati malaikat banget. Gak tahu deh jadinya nanti kalau dia tahu aku bantuin kamu kuasai semua harta keluarga Adhikara. Bisa habis aku!" kata Hilman yang sebenarnya setengah hati membantu Alan.
Tapi karena tawaran bayaran dari Alan begitu banyak angka nol di belakang angka satu. Hilman merasa kalau dia memang harus membantu Alan. Toh, meskipun begitu, keluarga Adhika juga tidak akan jatuh miskin karena memang Alan hanya mengambil apa yang menjadi bagian Inka saja. Tapi itu benar-benar sudah cukup, jika di gabungkan dengan saham miliknya di perusahaan milik ayahnya untuk membeli lima anak cabang perusahaan Arya Hutama grup.
Alan dan Hilman pun langsung bergegas ke firma hukum milik Hilman. Di sana, Hilman memberitahu Alan tentang apa saja dokumen yang harus dia siapkan. Dan tanda tangan siapa saja, yang pertama adalah tanda tangan Inka lalu tuan Damar Adhikara. Serta stempel yang hanya dimiliki oleh Damar Adhikara saja.
"Jika semua itu sudah berhasil kamu dapatkan, maka dua pabrik itu artinya milik kamu!" kata Hilman.
Alan terlihat mengangguk paham, dia benar-benar merasa sangat puas, meskipun belum resmi menjadi pemilik dua pabrik terbesar itu. Tapi Alan yakin dengan pasti, kalau dia akan mendapatkannya tidak lama lagi.
Setelah dari kantor Hilman. Alan segera pulang kerumahnya, setelah menikah Alan dan Inka memang tinggal di kediaman Kusuma Wijaya. Karena memang seperti itu tata cara dan adat istiadat keluarga Kusuma Wijaya. Inka pun sedikit merasa tenang karena tinggal bersama mertuanya, hingga Alan tidak terlalu menyiksa dan berkata kasar padanya.
Ketika dia dan Yumi, pelayan setianya yang ikut ke kediaman Kusuma Wijaya dari kediaman Adhikara sedang menyiram tanaman di kebun samping rumah besar itu. Alan datang dengan mobilnya dan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Alan yang tidak tahu Inka ada di kebun pun masuk ke dalam kamar mereka.
Tidak menemukan Inka di dalam kamar, Alan pun berteriak memanggil nama Inka.
"Inka!"
__ADS_1
"Inka!"
Anika, ibunya Alan yang mendengar Alan berteriak pun menghampiri anak laki-lakinya itu.
"Jerry, ada apa? kenapa berteriak di dalam rumah?" Tanya Anika yang merasa apa yang dilakukan oleh Jerry Alando itu bukanlah sebuah perbuatan yang benar.
"Ibu, dimana Inka?" tanya Alan yang tidak perduli pada apa yang dikatakan ibunya dan malah bertanya pada sang ibu dimana istrinya itu berada.
"Dia ada di kebun samping, ada apa?" tanya Anika lagi. Dia bicara dengan sangat lembut pada anaknya.
"Tidak apa-apa Bu, aku akan menemuinya dulu!" kata Alan lagi yang langsung meninggalkan Anika.
Anika pun tak mempermasalahkan hal itu, karena setiap Alan dan Inka duduk di meja makan, saat sarapan, makan siang ataupun saat makan malam. Keduanya tampak harmonis, Alan tak jarang bahkan menyuapi Inka di depan semua orang. Tentu saja Anika, tak akan menduga kalau ternyata rumah tangga anaknya itu penuh dengan kepalsuan dan sandiwara belaka.
Yang sebenarnya adalah, Alan selalu memperlakukan istrinya itu dengan buruk di belakang keluarganya. Inka yang kerap kali di ancam, dan di perlakukan kasar bahkan tak bisa mengatakan semua itu pada siapapun. Karena Alan tak pernah meninggalkan bekas yang bisa di lihat orang. Dia akan memberikan luka di tempat yang Inka akan sangat malu untuk memperlihatkannya pada orang lain, walaupun itu pada Yumi pelayannya yang setia.
"Inka!"
Alan kembali berteriak, alat penyiram tanaman yang di pegang Inka bahkan langsung terjatuh ketika Inka mendengar suara Alan yang berteriak memanggilnya.
"Ndoro putri, ada apa?" tanya Yumi kaget.
Inka lantas menggelengkan kepalanya, tapi kalau ada yang mengerti. Pasti bisa terbaca, dari sorot mata dan ekspresi wajah Inka. Dia takut, benar-benar takut ketika Alan menghampirinya.
***
Bersambung...
__ADS_1