
Arumi sampai garuk-garuk kepalanya yang baru saja dia shampoo dan cuci bersih karena penolakan Kevin memanggilnya mama.
"Kevin, kamu ini bagaimana sih? kenapa kamu panggil Tristan dengan uncle, tapi Sarah dengan mama?" tanya Arumi yang belum menyerah.
Arumi lantas berjongkok di depan Kevin dan coba memegang kedua pundak Kevin dengan lembut.
"Seharusnya kalau kamu panggil Tristan uncle, panggil Sarah aunty dong sayang. Terus panggil aku, mama. Ya sayang!" kata Arumi berusaha membujuk Kevin.
"No!" jawab Kevin tegas.
Arumi yang masih tak putus harapan pun berpikir sejenak.
"Panggil aku mama, aku akan bawa kamu jalan-jalan ke taman bermain!"
"Tidak mau, besok Kevin sekolah Tante!"
"Bagaimana kalau eskrim setiap hari Sabtu?" tanya Arumi lagi.
"Tante pelit sekali, nanny beri aku eskrim dia hari sekali!"
Wajah Arumi lantas menjadi tidak senang.
'Hah, berapa gaji nanny nya Kevin, kenapa dia punya begitu banyak uang sampai bisa membelikan Kevin eskrim dua hari sekali!' batin Arumi.
Sementara Arumi masih membujuk Kevin, Tristan sejak tadi sudah menggoda Sarah. Berulang kali dia menusuk-nusuk pinggang Sarah dengan jari telunjuknya. Serta sesekali memainkan rambut Sarah dan sengaja membuat Sarah merasa tidak nyaman di perlakukan seperti itu di depan Arumi dan Kevin.
"Mas!" protes Sarah dengan suara pelan.
"Sayang, tidakkah seharusnya kita pulang saja. Jika kita tidak ke kantor bukankah seharusnya kita berusaha memberikan teman bermain untuk Kevin, kalau dia punya adik sepupu kan...!"
"Tristan, Sarah, kalian sudah kembali?" tanya Rendra membuat Kevin menghentikan apa yang mau dia katakan pada Sarah.
"Ck... mengganggu saja!" decak Tristan kesal karena Rendra mengganggunya yang sedang merayu Sarah.
Melihat Tristan kesal seperti itu, Sarah malah tersenyum kecil tapi langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Agar Tristan tidak tersinggung.
Arumi yang tak bisa membujuk Kevin pun mengadu pada Rendra.
__ADS_1
"Mas, lihat Kevin! dia tidak mau panggil aku mama, mami juga tidak mau. Dia malah panggil aku tante, mas bujuk Kevin!" kata Arumi yang bersikap manja pada Rendra.
Arumi merangkul lengan Rendra dan menempelkan dirinya pada Rendra. Tapi ketika wajahnya berada di samping Rendra. Arumi lantas menjulurk4n lidahnya ke arah Kevin. Seolah mengejeknya dan berkata.
'Wek, papamu akan menuruti semua maumu!'
Tapi bukannya menunjukkan raut wajah khawatir, Kevin malah menggelengkan kepalanya perlahan.
"Ck.. ck... ck.. papa, sepertinya kamu menikahi seorang nenek lampir!" kata Kevin santai dan langsung bergegas menuju ke kamarnya untuk ganti pakaian.
Arumi terkejut dengan kepintaran anak sambungnya itu.
"Astaga, anak itu. Dia bilang apa tadi? nenek lampir. Tidak akan ku biarkan! Kevin!" pekik Arumi dan langsung mengejar Kevin.
Sementara Kevin juga berlari dan langsung menutup pintu kamarnya dengan cepat sambil sebelumnya menarik salah satu kelopak matanya ke bawah dan menjulurk4n lidahnya sama seperti yang di lakukan Arumi tadi padanya.
Rendra yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sementara Sarah terkekeh, dan Tristan tampak tak perduli dan tetap merangkul pinggang Sarah.
***
Sementara itu Chandra Wijaya sedang sibuk mencari keberadaan Arumi.
Karena perseteruan antara keluarga Hutama dan keluarga Wijaya. Maka mereka pihak pemerintah setempat membagi wilayah mereka menjadi dua. Keluarga Hutama tak boleh ke wilayah keluarga Wijaya dan sebaliknya. Bisnis pun di batasi sesuai kesepakatan bersama.
Apalagi meskipun Chandra Wijaya yakin Arumi lari menemui Rendra Hutama, tapi Chandra Wijaya juga tak bisa asal menuduh tanpa bukti.
"Arista, datang ke keluarga itu dan cari tahu apa Arumi ada di sana atau tidak. Kalau dia ada di sana, lakukan apapun untuk membawanya kembali!" kata Chandra Wijaya pada Arista.
Arista yang mendapat perintah itu sudah pasti tahu kalau dia tidak akan bisa membawa Arumi pulang. Arumi sudah menikah dengan Rendra, itu pasti. Melihat wajah Arista yang ragu, Renata maju beberapa langkah ke depan mendekati sang papi.
"Pi, aku juga ingin ikut Arista!" kata Renata tegas.
Chandra Wijaya yang memang lebih percaya pada Renata daripada Arista langsung mengangguk setuju pada usulan Renata. Sementara Yuliana hanya terdiam, sepertinya dia sudah tahu kalau Arumi tak akan kembali. Keluarga Hutama juga punya kuasa di wilayahnya, sangat mudah bagi mereka melaksanakan pernikahan hanya dalam beberapa jam saja.
Keduanya lantas pergi ke kediaman Hutama, butuh waktu beberapa jam sampai di kediaman Hutama.
Sementara itu di rumah besar kediaman Hutama, dua menantu keluarga Hutama sedang menyiapkan makan siang bersama.
__ADS_1
"Nona, biar saya saja yang memotong dagingnya!" kata asisten rumah tangga yang terlihat was-was ketika melihat Arumi memegang pis4u daging dengan cara yang terlihat mengerikan.
Arumi bukan seperti mau memotong daging. Tapi seperti mau membant4i daging yang ada di depannya itu.
Sarah yang sedang memotong sayuran di seberang meja Arumi sesekali memperhatikan sahabat yang hari ini sudah resmi menjadi iparnya itu. Tapi jika Arumi melakukan sesuatu yang di luar nalar, Sarah hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya saja.
"Hei, hanya potong daging saja aku bisa. Kamu tahu tidak, aku dulu waktu kuliah di luar negeri, aku masak sendiri, dan daging adalah masakan yang sering aku masak. Pokonya kamu duduk, di sana! dan lihat saja hasil masakanku!" kata Arumi yang malah memerintahkan agar si asisten rumah tangga yang ingin membantunya untuk duduk dengan tenang di kursi yang ada di dapur tersebut.
"Tapi nyonya...!"
"Sssttt.. jangan ganggu aku, sudah duduk diam di sana!" kata Arumi yang tak mungkin di bantah lagi oleh asisten rumah tangga kediaman Hutama tersebut.
Tapi bukannya memotong daging dengan benar, Arumi malah mencincang daging itu lumayan tak berbentuk.
Asisten rumah tangga itu hanya bisa diam sambil menghela nafas. Niatnya membuat sup daging sepertinya harus berubah menjadi pasta dengan saus daging cincang saja.
"Sudah beres kan? selanjutnya aku harus apa?" tanya Arumi pada asisten rumah tangga di kediaman Hutama yang tugasnya memasak itu.
"Tuang ke dalam bowl itu nyonya, lalu di bumbui!" kata asisten rumah tangga itu dengan sangat jelas.
"Oke baiklah, apa saja bumbunya?" tanya Arumi lagi.
"Lada hitam...!"
Tapi yang arumi ambil malah kapulaga bubuk.
"Nyonya, bukan yang itu!" kata asisten rumah tangga itu dengan cepat.
"Oh, bukan yang ini. Yang mana?" tanya Arumi lagi.
"Yang tutupnya hitam nyonya!" kata asisten rumah tangga itu masih berusaha untuk bersabar.
Dan setelah Arumi meraih botol yang benar, dia menuangkan semuanya ke dalam bowl.
"Ya Tuhan, kenapa di tuang semuanya nyonya?" ucap asisten rumah tangga itu memang kepalanya yang berdenyut karena ulah Arumi.
***
__ADS_1
Bersambung...