
Bunda Tiara duduk di sebelah Sarah. Terus menggenggam tangan anak asuh kesayangannya itu. Bunda Tiara juga berperan besar pada apa yang terjadi, sebab Sarah setuju menikah dengan Tristan juga karena bunda Tiara yang setuju menerima lamaran tuan Arya Hutama kala itu.
Bunda Tiara juga tampak sangat sedih mendengar semua cerita dari Rendra. Termasuk surat perjanjian pernikahan yang di buat oleh Tristan. Kecewa? jelas itu juga di rasakan oleh bunda Tiara.
Bunda Tiara jelas kecewa pada pria yang dia harapkan bisa menjaga, membimbing dan melindungi Sarah sebagai seorang imam bagi Sarah itu. Sakit hati? itu sudah pasti. Tapi bunda Tiara tetap akan mendukung apapun keputusan Sarah.
Tuan Arya Hutama bahkan seperti tak sanggup bicara apapun lagi. Malu, kecewa, sedih dan terluka membaut pria tua itu tak sanggup memikirkan kalimat yang baik, yang bisa mengurangi rasa bersalahnya. Namun dia tak kunjung bisa melakukannya. Sejak tadi yang bicara dan menjelaskan adalah Rendra.
Sementara Samsudin, membantu menunjukkan bukti atau dokumen yang memang mereka bawa.
"Semua keputusan kami serahkan pada Sarah, kami tetap akan melanjutkan pembangunan panti asuhan yang belum selesai. Sarah, perusahaan milik Tristan itu juga telah ayah ubah atas nama kamu...!"
Sarah terlihat sangat terkejut, dia tidak pernah mengharapkan hal itu. Dia tampak tak setuju dengan hal itu. Rasanya seperti sudah mengambil apa yang bukan seharusnya menjadi miliknya.
"Ayah, kak Rendra... maaf. Tapi aku tidak membutuhkan hal itu, perusahaan itu begitu besar, tanggung jawab seperti itu. Aku tidak mampu, mohon maaf kalau aku menolaknya, ayah!" kata Sarah dengan suara pelan.
Tuan Arya Hutama kembali menghela nafasnya. Rasanya memang akan sangat sulit mengurangi rasa bersalahnya. Sarah memang bukan wanita matre yang bisa menerima apa saja untuk mengganti sakit hatinya.
"Sarah, itu milikmu. Jika kamu tidak mampu mengurusnya, maka kamu bisa mengangkat orang lain menjadi CEO. Sementara perusahaan itu akan di urus oleh Richard. Sampai kamu menemukan siapa yang bisa menjadi CEO nanti!" kata tuan Arya Hutama.
"Tapi ayah...!"
"Tolong jangan menolaknya nak, ayahmu ini sudah sangat malu...!"
Tuan Arya Hutama menundukkan kepalanya, hati Sarah sangat sakit melihat hal itu. Kenapa semua ini harus jadi begini? kenapa Tristan harus kembali dengan berpura-pura amnesia? hingga tuan Arya Hutama harus malu untuk yang kedua kalinya.
Sarah tak lagi bicara atau menolak. Dia benar-benar tak ingin melihat ayah mertuanya itu lebih sedih lagi dari ini.
__ADS_1
"Tuan!" kata Samsudin yang memberikan dokumen perpisahan pada Rendra.
Rendra menghela nafasnya panjang menerima dokumen itu dari Samsudin. Dia ingat kalau Tristan tadi menginginkan kalau mereka berpisah, Tristan ingin dirinya dan Sarah berpisah dengan jalur seharusnya. Ada proses-proses yang harus mereka jalani. Proses mediasi, sidang kemudian putusan. Tidak dengan cara seperti ini, yang tinggal tanda tangan saja dan semua akan langsung di urus oleh Samsudin. Keesokan harinya maka surat keputusan yang menyatakan mereka telah resmi berpisah akan keluar.
Rendra sudah menyanggupi permintaan Tristan itu, tapi melihat kondisi sang ayah dan bunda Tiara yang terlihat sangat lelah. Rendra pun bingung harus mulai mengatakan semuanya dari mana.
Tuan Arya Hutama yang melihat Rendra sudah menerima dokumen perpisahan namun belum juga memberikannya pada Sarah langsung berkata.
"Rendra, tunjukkan itu pada Sarah!" kata tuan Arya Hutama.
Rendra sangat enggan sebenarnya, karena dia juga sebenarnya berharap kalau Sarah akan tetap menjadi adik iparnya. Dia tidak bisa bayangkan bagaimana keluarga Hutama setelah ini. Sanga ayah yang akan terus marah pada Tristan, Rendra tak tahu bagaimana keluarga ini ke depannya setelah perpisahan Sarah dengan Tristan.
"Rendra!"
Tuan Arya Hutama bicara lagi untuk kedua kalinya. Rendra yang tak pernah bisa menolak apapun keinginan sang ayah langsung membuka dokumen itu dan meletakkan nya di atas meja, tepat di hadapan Sarah dan bunda Tiara.
Rendra menunjuk ke tempat, dimana Sarah bisa menandatangani surat tersebut.
Sarah membaca dokumen itu, dari atas sampai tempat dimana dia harus tanda tangan.
Sarah menelan salivanya dengan susah payah, sangat susah payah. Dia ingat ketika Tristan pertama kali bertemu dengannya, sebuah tamparan yang begitu keras dia dapatkan di pipi Tristan. Lalu tiba-tiba mereka menikah, entah bagaimana itu terjadi Sarah masih tak bisa menyangka akan seperti itu.
Lalu mereka yang mulai dekat, Tristan yang menawarkan pertemanan pada Sarah. Tristan bahkan menyelamatkan nyawa Sarah yang nyaris akan tenggelam di pulau saat itu. Sarah juga bisa melihat betapa Tristan berusaha berlari secepat yang dia bisa saat Sarah di culik oleh sepupu tiri Tristan waktu itu. Lalu Tristan yang datang padanya dan mengaku kalau dia amnesia, tapi selama itu, setiap waktu Tristan selalu mengatakan kalau dia mencintai Sarah.
Tristan berusaha membahagiakan Sarah, membelikannya banyak barang yang tak mungkin Tristan Hutama yang dulu lakukan. Lalu memasak makanan untuk Sarah. Mengajaknya nonton film dan semua perhatian lainnya.
Sampai Tristan mengaku kalau dia pura-pura amnesia. Dia mengaku pada ayahnya juga pada kakaknya. Sampai dia kehilangan semuanya. Dan hanya satu yang Tristan minta pada Sarah. Dia ingin mereka bercerai bukan dengan cara seperti ini.
__ADS_1
Sarah mengangkat kepalanya, dia melihat ke arah tuan Arya Hutama dan berkata.
"Ayah, apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Sarah pada tuan Arya Hutama.
Rendra dan tuan Arya Hutama langsung menegakkan kepala mereka. Terlihat sangat antusias mendengar Sarah berkata meminta sesuatu pada tuan Arya Hutama.
Tanpa berpikir lama, tuan Arya Hutama langsung berkata.
"Apa yang kamu inginkan nak? katakan saja! ayah pasti akan memberikannya padamu!" kata tuan Arya Hutama sangat antusias.
Rendra juga terlihat penasaran, sangat penasaran. Dia bahkan tak memalingkan wajahnya dari Sarah.
"Aku... aku ingin perceraian ku dan Tristan, kami saja yang mengurusnya, apakah boleh?" tanya Sarah dengan sopan.
Rendra terlihat sangat terkejut, tapi kemudian dia sangat lega mendengar apa yang Sarah katakan. Sebaliknya, tuan Arya Hutama terlihat bingung dan heran.
"Kenapa nak?" tanya tuan Arya Hutama.
"Sewaktu di pulau itu, aku nyaris tenggelam. Dan Tristan yang telah menyelamatkan aku. Tadi siang, dia datang ke kantor. Dia akan pergi, tapi dia punya satu permintaan. Dia ingin perpisahan kami, kami yang mengurusnya. Aku pikir, sebelum kami benar-benar menjadi orang asing. Aku bisa berikan apa yang Tristan inginkan itu, untuk yang terakhir kalinya!" jelas Sarah dengan mata berkaca-kaca.
Nada suara Sarah bergetar, bunda Tiara langsung merangkul Sarah. Karena bunda Tiara tahu, kalau Sarah sedang sangat sedih.
Rendra dan tuan Arya Hutama tak sanggup berkata apa-apa lagi. Sarah memang tak pernah ingin berhutang budi pada orang lain. Tapi itu membuat Rendra terus berharap, akan ada keajaiban sampai waktu itu tiba. Akan ada hal baik sampai waktu itu habis.
***
Bersambung...
__ADS_1