Tega

Tega
Bab 248


__ADS_3

Arumi baru saja selesai melakukan olahraga paginya dengan Rendra. Ketika dia mendapatkan notifikasi berita tentang Hera Ricardo yang di tahan dan di tetapkan sebagai tersangka atas penyebaran video tidak beretika itu.


Mata Arumi melebar, terus terang saja dia sangat terkejut.


"Ya ampun, ih.. bikin malu saja. Aduh, muka tuan Ari Ricardo mau ditaruh dimana coba. Benar-benar gak tahu di untung. Sudah di angkat anak, hidupnya di muliakan. Malah begini balasannya pada orang tua angkatnya!" gerutu Arumi yang kesal sendiri mendengar berita yang ada di ponselnya.


Rendra yang baru keluar dari dalam kamar mandi lantas menegur Arumi yang sedang asik menggerutu.


"Ada apa sayang? apa yang membuat bibirmu terus menggoda ku begitu?" tanya Rendra meletakkan dagunya di atas bahu Arumi dan duduk sambil memeluk istrinya itu dari belakang.


"Nah, mas lihat ini! untung saja kamu tidak terjebak dengan wanita ini dulu. Kalau tidak, kamu pasti malu. Dia bermain dengan empat pria sekaligus dan menyiarkannya secara langsung. Benar-benar tidak waras!" kata Arumi masih dengan nada kesal.


Rendra lantas terdiam, dia memikirkan tuan Ari Ricardo dan perusahaannya. Pasti berita ini akan berimbas besar bagi perusahaannya yang sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan Ricardo company.


Sebenarnya bukan hanya masalah perusahaan saja, Rendra juga mencemaskan dua orang tua yang baik itu. Ari Ricardo dan Fitria, bagaimana keduanya akan menghadapi akibat dari perbuatan Hera ini.


"Wah, tidak hanya itu mas. Dia juga positif pemakai. Astaga, Hera benar-benar tidak tertolong!" kata Arumi lagi.


"Mas, bukannya dia sedang kerja sama dengan perusahaan? pasti akan banyak wartawan nanti di perusahaan?" tanya Arumi.


Rendra pun mengangguk setuju.


"Kamu benar, tapi semoga saja tuan Ari Ricardo sudah melakukan klarifikasi. Karena kalau tidak, mungkin kita tidak bisa melakukan klarifikasi sebelum tuan Ari Ricardo. Pasti akan berdampak buruk pada mereka. Tapi apa mungkin Hera melakukan itu dengan sengaja. Aku pikir meskipun dia memang tidak waras, tapi bukankah tidak mungkin dia mempermalukan dirinya sendiri?" tanya Rendra pada Arumi.


Arumi lantas memutar bola matanya malas. Arumi yang memang sejak awal tidak senang pada Hera karena sifatnya yang licik itu tidak terkejut ada yang menjebaknya seperti itu.


"Mas, dia itu kan wanita ular, biaya betina, perusak hubungan orang. Wajarlah banyak yang benci sama dia, mungkin itu ulah salah satu orang yang punya dendam karena kelakuan licik Hera. Sudahlah, yang penting mas hubungi saja tuan Ari Ricardo. Minta dua klarifikasi, supaya gak ada masalah sama perusahaan!" kata Arumi sok bijak.


"Baiklah, tapi apa yang akan di lakukan istriku ini selama aku menghubungi tuan Ari Ricardo?" tanah Rendra mencium tengkuk Arumi dari belakang.

__ADS_1


"Ih mas, ya mandi lah. Memangnya mas gak cium bau asem karena kita habis olahraga pagi tadi?" tanya Arumi membuat Rendra terkekeh.


Istrinya itu memang ceplas-ceplos. Padahal Rendra baru saja menciumnya. Arumi malah


mengatakan hal yang membuat Rendra terlihat seperti orang bodoh.


Sementara itu di kantor polisi. Pengacara keluarga Ricardo sudah tiba dan bertemu dengan Hera.


"Kenapa kamu yang datang pak Nico, dimana papa sama mama?" tanya Hera kesal.


"Nona Hera, bukankah anda tahu tuan dan nyonya ada di Singapura. Nyonya Fitria sedang berobat. Apa yang ada di kepala anda sampai melakukan semua ini. Anda bukan hanya membuat tuan Ari Ricardo malu, tapi semua perusahaan, klien dan vendor yang bekerja sama dengan tuan juga komplain, bahkan ada yang membatalkan kerja sama. Apa yang sudah anda lakukan ini benar-benar membuat tuan dan nyonya kecewa!" jawab pak Nico pengacara Ari Ricardo.


Mendengar pengacaranya malah menceramahi dirinya. Hera terlihat tidak terima. Dia menatap pak Nico dengan angkuh.


"Heh pak Nico, gak usah ceramah ya. Sekarang kamu tuh harus cari cara buat bebasin aku dari sini. Aku sama sekali gak pernah bikin video kayak gitu. Apa kamu pikir aku sudah tidak waras?" tanya Hera kesal.


"Anda pemakai, bisa saja kan itu terjadi!"


Hera menggebrak meja. Membuat beberapa petugas yang mengawasi mereka berdua menoleh dengan tatapan tidak senang.


"Jangan keterlaluan ya, kamu di gaji memang untuk ini oleh papaku. Untuk membereskan masalah ini. Aku tidak tahu siapa pelakunya, tapi yang terakhir menghubungiku dan meminta aku datang adalah Brian Kim!" jelas Hera panjang lebar.


"Brian Kim?" tanya pak Nico.


"Iya, dia cek saja panggilan di ponselku. Polisi menahan semua barang ku!" kata Hera lagi.


Pak Nico yang memang di mandatkan oleh Ari Ricardo yang sedang dalam perjalanan pulang menuju ke Indonesia pun segera bicara pada para petugas. Dia meminta ijin untuk memeriksa ponsel itu bersama dengan para penyelidik. Namun sama sekali tidak di temukan nomer ponsel Brian Kim. Nama yang di tulis di ponsel Hera memang Brian. Tapi begitu dihubungi, nomer itu adalah nomer salah satu dari empat pria yang di tangkap basah bersama Hera.


Hera benar-benar tak percaya dengan penjelasan pak Nico.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, jelas-jelas itu nomer Brian Kim!" kata Hera yang sudah mulai frustasi.


"Tidak nona, itu nomer salah satu dari ke empat pria itu?" jawab pak Nico.


Hera lantas berpikir lagi.


"Yacht itu, itu milik Brian Kim!" kata Hera lagi.


"Tidak nona, itu milik dermaga. Dan laporan mengatakan kalau anda yang sudah menyewanya hari itu, untuk 24 jam!"


"Apa??"


"Benar nona, pembayaran di muka dengan aplikasi yang terdaftar atas nama anda!" jelas pak Nico.


Mata Hera sudah melotot dan merah berkaca-kaca.


"Siapa yang menjebakku sampai seperti ini. Kurang ajarrr, aku tidak terima!" pekik Hera benar-benar sudah frustasi.


"Nona sebaiknya nona mengakui segalanya, setidaknya itu akan mengurangi hukuman nona karena sudah kooperatif. Dan katakan siapa yang memasok obat itu untuk nona. Itu akan membantu supaya nona nanti di jadikan korban, atau pemakai dan bukan tersangka!" kata pak Nico yang sudah memastikan tidak bisa mengeluarkan Hera dari tahanan dengan jaminan karena bukti terlalu kuat dan sikap Hera yang terus mengelak bahkan membuat para petugas sudah menyatakan tidak bisa mengabulkan penangguhan penahanan, karena di khawatirkan Hera akan melarikan diri.


"Sialll! pak Nico bagaimana mungkin. Pasti ada cara lain kan?" tanya Hera yang masih berharap bisa keluar dari tahanan.


"Tidak ada nona, tuan dan nyonya sudah dalam perjalanan. Dengarkan aku nona, tuan dan nyonya Ricardo sudah begitu baik pada nona. Tapi terus terang saja, apa yang nona lakukan ini benar-benar sudah mempermalukan mereka!"


"Apa maksudmu, berani ya kamu bicara seperti itu padaku. Kamu di gaji oleh papa dan mamaku!" bentak Hera tak terima di nasehati oleh pak Nico.


"Tepat sekali, aku di gaji oleh tuan Ari Ricardo bukan anda!" kata pak Nico tegas membuat Hera melotot tajam tapi tak bisa membantah hal tersebut.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2