Tega

Tega
Bab 107


__ADS_3

Tuan Arya Hutama sudah pulang ke rumahnya, pagi ini dokter yang menangani tuan Arya Hutama sudah memperbolehkan tuan Arya Hutama untuk keluar dari rumah sakit.


Rendra juga sudah memastikan kalau kondisi sang ayah sudah membaik. Setelah mengantarkan ayah mertuanya pulang ke rumah. Sarah pun berpamitan pada tuan Arya Hutama untuk pergi ke kantor. Meskipun dia adalah istri dari pemilik perusahaan, tapi tetap saja statusnya di perusahaan hanyalah karyawan biasa, karyawan bagian divisi keuangan perusahaan tersebut.


Tuan Arya Hutama masih merasa tidak enak pada Sarah. Pada akhirnya Tristan sendiri yang memilih untuk kehidupannya akan dia bawa kemana.


Padahal tuan Arya Hutama sudah mengingatkan Tristan dengan tegas. Jika dia tetap menyusul Shanum ke Paris. Maka nama Tristan akan di coret dari kartu keluarga Hutama.


"Sarah...!"


Panggil tuan Arya Hutama pada Sarah yang mengulurkan tangannya ke arah tuan Arya Hutama karena ingin menyalami ayah mertuanya itu sebelum dia pergi.


"Iya ayah!"


Sarah pun menjawab.


Tuan Arya Hutama menjabat tangan Sarah, namun mengarahkan menantunya itu untuk duduk. Sarah pun duduk di kursi yang tadinya di tempati oleh Rendra. Kebetulan Rendra mendapatkan sebuah panggilan telepon dan dirinya pun keluar dari kamar ayahnya itu.


"Duduklah nak, ayah ingin bicara!" kata tuan Arya Hutama pelan.


Sarah yang mengerti kalau sang ayah mertua harus banyak istirahat pun berusaha untuk mengingatkan kembali tuan Arya Hutama tentang pesan dokter di rumah sakit tadi pada mereka. Jika untuk beberapa hari ke depan, tuan Arya Hutama harus lebih banyak istirahat dan tidak boleh memikirkan hal-hal yang berat.


"Ayah, ayah baru sembuh. Ayah baru saja keluar dari rumah sakit. Ayah harus banyak istirahat. Ayah tidak usah berpikir macam-macam. Aku tidak apa-apa!" kata Sarah yang mengatakan semua kalimat itu dengan senyuman terlukis di wajahnya.


Senyuman Sarah itu terlihat begitu tulus, tapi tuan Arya Hutama bisa melihat di kedua manik mata Sarah, kalau dirinya teramat sedih dan terluka.


"Nak, seperti kata ayah sebelum kamu dan Tristan menikah. Jika Tristan tetap mengejar wanita itu, maka ayah akan mencoretnya dari kartu keluarga. Ayah sungguh merasa bersalah padamu nak, hah...!"


Tuan Arya Hutama terlihat mengunjal nafasnya begitu berat. Dengan mata berkaca-kaca dia berkata.

__ADS_1


"Jika kamu ingin berpisah dengan Tristan, ayah iklhas!"


Sarah bisa mendengar dengan telinganya kalau bibir tuan Arya Hutama bicara kalau dia ikhlas. Tapi Sarah bisa melihat dengan matanya, kalau air mata sedang menggenang di pelupuk mata renta ayah mertuanya itu.


Sarah tahu betul, kalau tuan Arya Hutama sangat sayang pada Tristan dan ingin segala yang terbaik untuk Tristan. Sarah benar-benar sedang dalam keadaan yang sangat membingungkan saat ini. Dia merasa kalau memang sudah tak ada gunanya lagi dia mempertahankan hubungan pernikahannya dengan Tristan. Tapi di sisi lain, Sarah tidak tega melihat tuan Arya Hutama yang begitu terluka dan hancur harapannya jika dia benar-benar mundur.


Sarah tidak tahu nanti seperti apa Kevin jika dia memutuskan untuk benar-benar pergi dari keluarga Hutama.


Sarah pun menepuk punggung tangan ayah mertuanya yang sejak tadi juga menggenggam tangannya.


Ayah mertuanya itu bilang iklhas melepaskan Sarah dari status sebagai menantunya. Tapi sejak tadi dia tidak melepaskan tangannya dari Sarah. Tangan renta menggenggam tangan Sarah seolah mengatakan 'jangan pergi nak!'


Melihat Sarah menepuk punggung tangannya. Tuan Arya Hutama lantas menoleh ke arah Sarah, hingga matanya yang penuh genangan air mata itu pun tak bisa menahan air mata kesedihan pria tua baik hati itu untuk lolos dari kelopak matanya.


Sarah langsung ikut menangis melihat pertama kalinya tuan Arya Hutama menitihkan air mata. Air mata Sarah bahkan mengalir lebih banyak dan lebih deras dari tuan Arya Hutama.


"Aku sudah menganggap ayah, seperti ayahku sendiri. Ayah jangan sedih, meskipun aku bukan istri Tristan lagi nantinya. Aku masih tetap anak ayah!" lirih Sarah dengan isak tangisnya.


Rendra yang melihat pemandangan itu, dan mendengar percakapan antara ayahnya dan adik iparnya juga menitihkan air matanya. Dia belum pernah melihat ayahnya sesedih itu.


Rendra kemudian teringat sejak pertama kali ayahnya mengatakan ada seorang wanita baik yang dia sangat inginkan menjadi menantunya. Rendra mengingat ketika ayahnya begitu bahagia, begitu senang ketika menceritakan tentang Sarah padanya.


Rendra juga tidak lupa, ketika sang ayah sampai mengadakan rapat khusus untuk memutuskan dekrit perusahaan kalau keuntungan sebanyak 0,5 persen setiap bulannya akan langsung di transfer ke rekening panti asuhan bunda Tiara.


Rendra bisa mengingat semua hal itu, betapa ayahnya sangat ingin Sarah menjadi menantunya. Menjadi istri yang mampu mencintai Tristan dengan tulus. Bukan hanya sayang pada Tristan saja, tapi pada seluruh anggota keluarga Hutama. Dan Sarah memang wanita yang seperti itu saat Rendra bertemu dengannya. Wanita yang tulus, apa adanya. Mampu berbagi kebahagiaan dengan orang lain tapi tidak dengan kesedihannya.


Rendra masih ingat kalau Sarah selalu bilang dirinya baik-baik saja padahal Rendra tahu yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Sarah memang adalah wanita yang baik, yang bisa berbagi kebahagiaan tapi tidak mau membagi rasa sakit hati, dan rasa sedihnya pada orang lain. Sarah adalah wanita yang memilih untuk tersenyum ketika seseorang bertanya apakah dia baik-baik saja.


Rendra mengusap wajahnya ketika dia memang harus masuk ke dalam kamar tersebut untuk menyampaikan sesuatu pada Sarah dan ayahnya.

__ADS_1


"Ayah, Sarah...!"


Sarah yang memang sudah kembali duduk di kursinya langsung menyeka air matanya kerika mendengar suara Rendra. Setelah dia yakin kalau air matanya sudah tidak ada lagi. Sarah baru menoleh ke arah belakang. Menoleh ke arah Rendra.


"Iya kak!"


"Sarah, ayah. Pak Sam sudah menyiapkan semuanya. Tapi aku belum bisa menghubungi Tristan. Richard juga sedang berusaha menghubungi hotel yang di pesan oleh Tristan. Tapi kata Richard, Tristan pergi sejak malam dan sampai sekarang belum kembali ke hotel!" jelas Rendra.


Sarah yang sudah tahu apa yang dimaksud oleh Rendra dengan 'Pak Sam sudah menyiapkan semuanya!' pun hanya bisa tertunduk diam. Dia tahu kalau yang pak Sam siapkan itu adalah surat perceraian Sarah dengan Tristan. Dan tentu saja juga mengenai keputusan ayah mertuanya yang akan mencoret nama Tristan dari kartu keluarga bahkan dari perusahaan. Tristan benar-benar akan meninggalkan keluarga Hutama setelah ini.


Tuan Arya Hutama masih terlihat diam, Sarah bisa melihat dengan jelas kesedihan seorang ayah yang terpaksa mengambil keputusan tegas karena sang anak tidak mendengarkan apa yang dia katakan. Tidak mengindahkan peringatan yang sudah berkali-kali di berikan pada sang anak. Tuan Arya Hutama terlihat benar-benar terluka atas apa yang Tristan lakukan. Menentangnya, bahkan pergi begitu saja tanpa pamit menyusul wanita lain sedangkan dia punya istri sah.


"Ayah!" panggil Rendra karena sedari tadi melihat sang ayah hanya terdiam.


Tuan Arya Hutama menyeka air matanya dengan tangan renta nya.


"Baiklah, seperti itu juga sudah bagus. Tristan sudah mengambil keputusannya. Maka kita juga harus mengambil keputusan kita!" kata tuan Arya Hutama.


Ucapan tuan Arya Hutama begitu menyedihkan. Rendra sebagai seorang kakak sebenarnya sangat kecewa pada Tristan. Namun setelah semua ini, dia juga merasa sangat kasihan pada Tristan. Rendra masih memikirkan, apakah Tristan yang seumur hidupnya sampai kini terbiasa dengan segala fasilitas yang luar biasa menyenangkan dan segalanya serba mudah. Harus keluar dari keluarga Hutama begitu saja dan memulai segalanya dari nol.


Meski Rendra berpikir dia akan memulai semuanya dengan Shanum, karena Rendra memang tidak mengetahui tentang apa yang sudah terjadi antara Tristan dan Shanum di Paris. Tapi tetap saja, Rendra merasa kalau semuanya itu pasti akan sangat sulit bagi adiknya tersebut.


Tristan pasti tidak akan bisa memulai usaha di kota ini, karena jika semua fasilitas Tristan di cabut. Otomatis dia tidak akan lagi bisa menyandang nama Hutama lagi di belakang namanya. Rendra benar-benar tidak bisa membayangkan hal tersebut.


Belum lagi orang-orang yang memang menyimpan dendam pada Tristan, karena sikap arogan Tristan di masa lalu. Rendra baru memikirkan hal itu saja sudah ngeri sendiri, bagaimana adiknya itu akan menghadapi mereka semua. Pasti sangat sulit.


Tapi begitu Rendra melihat wajah sedih ayahnya dan wajah terluka Sarah. Rendra hanya bisa menghela nafasnya panjang.


'Semua ini pilihan mu sendiri Tristan!' keluh Rendra dalam hatinya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2