
Sarah pun terdiam, dia bahkan tidak pernah memikirkan tentang hal ini sebelumnya. Yang dikatakan Arumi itu benar sekali. Kenapa tuan Arya Hutama malah melamarnya untuk Tristan. Padahal menurut Sarah, Rendra memang lebih baik.
Tapi kemudian Sarah menghela nafas panjang, dia memang tidak bisa menentukan pilihan untuk hal itu. Semua sudah di sepakati dan di putuskan oleh tuan Arya Hutama dan bunda Tiara.
Sarah pun mengangkat bahunya sekilas.
"Sudahlah, mungkin sudah seharusnya begini!" ujar Sarah yang terkesan pasrah pada keadaan.
"Lalu bagaimana dengan rumah tangga kalian nanti?" Arumi masih terdengar khawatir.
Sarah pun mengernyitkan keningnya. Karena dia tidak memikirkan sampai sejauh itu.
"Maksudmu?" tanya Sarah pada Arumi.
"Ya ampun Sarah, makanya kamu tuh harus sering-sering deh baca novel online. Banyak novel yang menginspirasi!" lanjut Arumi.
"Kamu bukannya ARMY, suka baca novel juga?" tanya Sarah.
"Ya ampun, idolaku saja suka baca novel. Ih, bukan itu yang mau kita bahas, kamu gak takut kalau nanti kamu tuh bakalan di usilin, di kerjain tiap hari sama tuan Tristan?" tanya Arumi yang membuat Ella menaikkan kedua alisnya.
"Kamu bayangin aja, sekarang aja tuh dia terus terusan bikin kerjaan kamu susah. Kamu mikir gak sih, kalau mungkin saja itu karena dia hanya bisa bertemu kamu di kantor. Makanya dia terus membuat kamu susah dalam hal pekerjaan, terus kalau nanti kalian menikah, terus dia akan setiap detiknya mengerjai kamu, menyiks4 kamu? bagaimana? kalian tinggal satu rumah, iya kan?" tanya Arumi.
Pertanyaan Arumi itu benar-benar terdengar sangat horor di telinga Sarah. Sarah benar-benar tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Sekarang Sarah jadi sangat merinding dengan apa yang dikatakan Arumi yang pikirannya sudah jauh seperti meram4l ke depan tentang kehidupan rumah tangga Sarah dan Tristan.
"Pokoknya kamu harus bisa melawannya Sarah, jangan mau di tind4s sama suami sendiri!" tegas Arumi.
Sarah kini mengernyitkan keningnya heran mendengar Arumi bicara seolah dirinya sudah pernah menikah dan tahu banyak tentang kehidupan berumah tangga.
"Arumi, kata-kata mu terdengar mengerikan!" seru Sarah.
"Tapi itu benar Sarah, sekarang saja yang kamu bukan apa-apanya dia selalu menindas mu. Pokoknya kamu jangan mau di tindas Sarah, kamu jangan mau kalau di suruh berhenti kerja, nanti yang ada dia merasa sombong karena kamu makan saja dari dia, jangan mau juga kalau di suruh-suruh dengan cara yang tidak sopan, nanti dia ngelunjak!"
__ADS_1
Arumi terus bicara hal-hal yang terdengar mengerikan di telinga Sarah. Sarah sampai geleng-geleng kepala sendiri.
"Arumi, kamu tuh kebanyakan nonton sinetron tahu gak! semua orang akan takut berumah tangga kalau menceritakan hal-hal seperti itu pada mereka!" sahut Sarah sambil terkekeh kecil.
Sarah bukan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arumi. Namun dia juga sudah di beri nasehat oleh bunda Tiara.
"Itu kalau menikahnya dengan orang yang tepat yang kamu cintai dan mencintai kamu, tapi inikan kamu di jodohkan. Jelas-jelas yang akan menikahi mu itu orang yang selama ini selalu cari gara-gara denganmu, jangan sampai...!"
"Jangan sampai apa... ekhem!" sebuah suara membuat Arumi langsung menghentikan kalimat yang mau dia ucapkan kepada Sarah.
Sarah dan Arumi lantas menoleh ke arah orang tersebut.
"Plis ya, jangan jadi kompor deh. Nona Sarah, tuan Tristan memanggilmu ke ruangannya!" ujar Richard dengan ekspresi wajah sewot ketika melihat ke arah Arumi yang langsung berbalik menuju meja kerjanya dengan segera.
Sarah langsung terdiam, dia punya firasat buruk tentang hal ini.
"Baiklah!" ucap Sarah lalu segera meninggalkan Richard dan Arumi.
Richard lalu kembali melipat tangannya dan berjalan mendekat ke arah meja kerja Arumi. Sedangkan Arumi yang sekarang lumayan malas berhadapan dengan Richard memilih pura-pura tidak menyadari kalau Richard mendekat ke mejanya. Arumi tidak takut, hanya saja. Dia malas membuat masalah dengan Richard yang merupakan asisten pribadi bos di kantor ini.
Arumi hanya diam sambil mengeraskan rahangnya, kalau saja Richard bukan asisten pribadi CEO perusahaan ini. Sudah sejak tadi Arumi menjejal mulut Richard yang seperti beo itu dengan Carolina reapers seperti yang di sebutkan Richard tadi.
Setelah mengatakan semua itu dan merasa menang karena Arumi tidak menjawab dan membalas dengan satu kata pun. Richard tersenyum bangga dan berjalan dengan dagu terangkat tinggi meninggalkan ruangan itu.
Setelah Arumi yakin Richard keluar dari ruangan itu dia baru merem4s-rem4s kertas yang ada di depannya.
"Dasar boneka tabung. Beruntung ini di kantor. Kalau ini di luar kantor. Habislah kamu boneka tabung berjoged!" gerutu Arumi sambil menginjak kertas yang sudah gepeng itu menjadi lebih gepeng lagi. Arumi melakukan itu sambil membayangkan kalau kertas yang di injaknya itu adalah Richard Meyer.
Sementara Sarah sudah ada di depan ruangan CEO. Artinya dia sedang berada di depan ruangan Tristan Maulana Hutama. Sebelum mengetuk pintu, Sarah menghirup udara dalam-dalam. Dia tidak tahu untuk apa manusia yang tampan tapi arogan itu memanggilnya ke ruangannya.
Setelah menyiapkan ment4lnya, Sarah pun mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok tok tok
Tidak ada sahutan dari dalam ruangan itu ketika Sarah sudah menjeda beberapa detik setelah mengetuk pintu.
Merasa tidak yakin kalau Tristan sedang ada di dalam ruangannya, Sarah kembali mengetuk pintu.
Tok tok tok
Tapi tak kunjung ada sahutan juga dari dalam ruangan. Sarah jadi ragu untuk masuk.
"Masuk tidak ya? dari dalam tidak ada sahutan, jangan-jangan si galak itu tidak ada di dalam. Tapi kalau aku pergi, nanti dia kembali bagaimana? nanti dia kira aku tidak menemuinya, bukan hanya aku yang akan di marahi, pasti tuan Richard juga!" gumam Sarah sambil berpikir.
Ketika Sarah tengah berpikir, dia harus bagaimana. Tiba-tiba Sarah terjingkat kaget sampai terhuyung ke belakang karena mendengar dari dalam ruangan Tristan berteriak.
"Tinggal masuk saja, apa aku harus bukakan pintunya untukmu?" tanya Tristan sambil berteriak.
Sarah langsung menghela nafas sambil mengusap dada.
"Ya ampun, aku kan sudah ketuk pintu beberapa kali dia tidak menyahut. Ini orang darah tinggi apa gimana sih, kenapa marah-marah terus!" gumam Sarah yang hanya bisa dia dengar sendiri.
Ceklek
Sarah pun membuka pintu. Karena dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi pria pemarah seperti Tristan, Sarah memilih berdiri di dekat pintu.
Tapi lagi-lagi sepertinya apa yang dia lakukan itu salah lagi di mata Tristan.
"Kenapa berdiri di situ, ingin aku bicara dengan berteriak padamu. Ingin tenggorokan ku sakit?" tanya Tristan dengan ketus.
Sarah hanya bisa kembali menghela nafasnya.
'Sepertinya apapun yang aku lakukan tidak ada yang benar di mata si galak ini!' batin Sarah.
__ADS_1
***
Bersambung...