Tega

Tega
Bab 230


__ADS_3

Sarah, Tristan dan Widya kembali ke apartemen. Setelah mengantar Sarah dan ibu mertuanya ke apartemen. Tristan di hubungi Richard, dan dia harus ke kantor karena ada suatu hal yang penting.


Ketika Sarah dan Widya masuk ke dalam apartemen, dia melihat Tika sedang membersihkan tuang tamu.


"Selamat siang nyonya, nyonya besar!" kata Tika menyapa.


"Selamat siang Tika!" kata Sarah.


"Bagaimana nyonya, bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Tika yang begitu penasaran dengan genital bayi yang ada di dalam kandungan Sarah.


"Laki-laki Tika!" jawab Widya sangat antusias.


"Wah selamat ya nyonya, nyonya besar!" kata Tika.


"Terimakasih Tika!" kata Sarah singkat dan lansung kembali ke kamarnya.


Widya juga kembali ke kamarnya. Tika yang melihat nyonya dan nyonya besarnya masuk kamar melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai dia pun pergi ke dapur. Dan menghubungi Yumi. Dulu saat masih bekerja di kediaman Adhikara. Yumi dan Tika itu bersahabat baik.


Kemarin Yumi menghubungi Tika, meski awalnya hanya bertanya kabar namun lama-kelamaan mereka malah banyak bercerita tentang kegiatan mereka saya ini. Tika mengatakan ikut Widya ke rumah anak kandungnya yang sudah di temukan.


Tika menceritakan semuanya pada Yumi, kalau anak kandung dari tuan dan nyonya nya memang lebih baik dari Inka. Inka yang manja tidak pernah mengerjakan apapun pekerjaan di rumah. Sedangkan Sarah, meski sudah punya Tika yang mengerjakan semuanya, urusan mencuci pakaian Tristan juga dirinya dan memasak makanan untuk Tristan, Sarah selalu menanganinya sendiri.


Yumi berkata pada Tika, kalau Tika sangat beruntung. Tidak seperti dirinya sekarang yang bahkan harus ikut bekerja menjadi tukang pencuci pakaian para tetangga di rumah susun untuk membantu perekonomian Anika dan Inka. Karena Steven dan Raes sekarang benar-benar menjadi karyawan pabrik biasa.


Tika juga mengatakan kalau Sarah akan melakukan USG, karena itu Yumi juga penasaran akan hasilnya, dan ingin tahu anak dari mantan majikannya itu akan perempuan atau laki-laki. Karena itu Tika akan menghubungi Yumi untuk memberitahu tentang hal itu.


"Halo Tika!"


"Halo Yumi! apa kamu sedang sibuk sekarang?" tanya Tika yang takut kalau Tika menghubungi temannya itu di saat Yumi sedang sibuk.


Kalau Yumi sibuk, maka Tika akan menghubungi Yumi lain kali saja.

__ADS_1


"Tidak, saya baru selesai menjemur semua pakaian. Eh bagaimana? calon cucu nyonya Widya laki-laki atau perempuan?" tanya Yumi terdengar sangat penasaran.


"Laki-laki, Yumi. Nyonya terlihat sangat senang!" kata Tika menjawab pertanyaan Yumi.


"Wah, selamat ya. Aku ikut senang, kamu beruntung sekali masih bekerja sama dengan mereka. Aku benar-benar rindu pada nyonya dan segala kebaikannya!" kata Yumi terdengar sedih.


"Kenapa kamu tidak kembali saja dan bekerja lagi pada keluarga Adhikara? tuan dan nyonya pasti mau menerimamu. Kamu kan orang yang rajin dan setia Yumi?" tanya Tika pada Yumi.


"Bagaimana ya? terakhir tuan memberikan uang itu sudah habis untuk beli rumah susun dan biaya hidup beberapa bulan terakhir ini. Tuan Steven dan tuan Raes benar-benar kesulitan mencari pekerjaan, mereka di anggap tidak mampu. Kata orang-orang malah mereka bawa sial, hanya orang-orang baik saja yang mau kasih pekerjaan dan mau percaya untuk memberikan kami cucian. Aku kasihan pada nyonya Anika, dia bekerja sangat keras!" kata Yumi terdengar begitu sedih.


"Lho, kan nona Inka lulusan sarjana. Masak iya dia gak bisa cari pekerjaan yang baik?" tanya Tika bingung.


"Iya, nona Inka memang lulusan sarjana. Tapi kamu tahu dia kan? dia gak pernah kerja, apa-apa dulu kan tinggal minta, kemarin saja dia bantu menyetrika, kami malah harus mengganti pakaian pelanggan yang bajunya dia buat bolong kena setrikaan. Nona Inka benar-benar gak bisa apa-apa. Setiap hari bertengkar dengan tuan Raes, setiap hari nona Inka menangis, padahal mereka baru menikah. Anak-anak tuan Steven yang lain malah tidak bisa di hubungi. Mereka seperti tidak mau tahu kesulitan orang tuanya. Aku tidak bisa meninggalkan nyonya Anika dalam keadaan seperti ini. Aku titip salam saja pada tuan dan nyonya besar. Aku juga mengucapkan selamat pada nona muda, rasanya setelah mendengar semua cerita mu tentang nona Sarah, aku jadi ingin bertemu dengannya. Dia pasti sangat baik ya? sama seperti nyonya besar?" tanya Yumi setelah bercerita panjang lebar pada Tika.


"Iya kamu benar, nyonya muda memang sama persis seperti nyonya besar dan tuan besar. Sangat baik dan pengertian!" kata Tika.


***


Sementara itu, Samsudin juga sedang mengantarkan tuan Arya Hutama untuk pulang ke kediaman Hutama.


Di perjalanan menuju ke perumahan, tiba-tiba saja mobil yang di tumpangi oleh Tuan Arya Hutama dan Samsudin di hadang oleh beberapa pengendara sepeda motor yang menggunakan helm Full face.


Samsudin menghentikan mobilnya itu. Samsudin sudah bersiap dengan meregangkan otot tangannya, meski usianya sudah paruh baya. Tapi Samsudin masih sangat lihai dengan ilmu beladiri nya.


"Sam, mengalah saja. Kalau mereka mau uang, berikan saja. Tidak usah di lawan. Kita tidak tahu mereka bawa senjata atau tidak!" kata tuan Arya Hutama.


"Baik tuan!" kata Samsudin. Tapi dia sudah mengirim pesan pada anak buahnya yang berjaga di kediaman Hutama. Lima belas menit paling lama, mereka akan tiba di tempat ini.


Samsudin pikir, dia ingin memberikan sedikit pelajaran pada para preman yang tak tahu alasannya kenapa menghadang mobil tuannya itu.


Brakk Brakk Brakk

__ADS_1


Salah satu dari mereka lantas mengetuk dengan keras kaca mobil Samsudin.


"Buka!" pekik salah satunya lagi.


Samsudin kemudian membuka pintu mobil dan keluar, setelah mengatakan pada tuan Arya Hutama untuk tetap di dalam.


"Mau apa kalian?" tanya Samsudin waspada.


"Banyak omong!"


Dan tanpa basa-basi lagi, dua orang tadi langsung menyerang Samsudin.


Karena Samsudin juga sudah waspada, tendangan dari salah satunya tidak sampai mengenai Samsudin, dan malah meleset mengenai badan mobil.


Yang lain ikut menyerbu, tuan Arya Hutama sudah panik. Tapi tiba-tiba saja, ada seorang pria dengan tongkat golf datang dan membantu memukuli para preman yang menyerang Samsudin.


"Aku laporkan kalian pada polisi ya! pergi sana!" teriak pria dengan setelan celana dan pakaian golf itu.


Para preman kalah, Samsudin juga terus menghajar mereka. Melihat para preman sudah kabur satu persatu, lantas tuan Arya Hutama keluar dari dalam mobil dan menghampiri pemuda tersebut.


"Nak, terimakasih sudah membantu kami!" kata tuan Arya Hutama sopan.


"Oh iya tuan, kebetulan saya lewat, saya habis bermain golf bersama Tuan Cakra!" kata pemuda itu.


Tuan Arya Hutama pun mengangguk. Dia memang kenal tuan Cakra, salah satu pengusaha yang tinggal di kawasan itu.


"Oh ya, siapa namamu. Mampir ke rumah ku dulu bagaimana? minum teh atau makan siang mungkin?" tanya tuan Arya Hutama yang ingin membalas kebaikan pemuda itu.


"Wah terimakasih banyak tuan, kebetulan saya juga belum makan siang!" kata pemuda itu sambil tersenyum.


"Oh ya, saya Brian Kim!"

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2