Tega

Tega
Bab 42


__ADS_3

Bukan Tristan namanya kalau dia tidak membuat ulah. Meskipun sudah berangkat ke butik, dan sekarang pria tampan nan arogan itu juga sudah ada di butik bersama dengan Sarah dan Rendra.Tapi tetap ada saja yang dia lakukan yang membuat Rendra geleng-geleng kepala.


Dari meminta tema yang tidak sesuai dengan yang sudah di bicarakan sebelumnya. Bahkan ingin kan model yang berbeda antara gaun pengantin wanita dan pakaian jas untuk dirinya. Tentu saja hal itu membuat designer yang sudah lama menjadi designer khusus keluarga mereka itu hanya bisa tertegun.


Meskipun Ester sudah lama menjadi designer acara-acara penting keluarga Hutama. Tapi biasanya tuan muda kedua itu tidak seribet dan serewel ini kalau mau buat pakaian. Ester hanya mengira karena ini adalah pakaian khusus yang akan di pakai di pernikahan Tristan, maka dia lebih banyak kemauan untuk jas pernikahan nya.


"Bagaimana mungkin kalian pakai pakaian dengan model yang berbeda Tristan, kalian bukan akan pergi ke acara penting orang lain, kalian akan menikah. Ini acara penting kalian sendiri. Pengiring pengantin saja bajunya seragam, jangan mengada-ada Tristan!" kesal Rendra yang jelas tidak setuju dengan apa yang adiknya itu inginkan.


Tristan malah terlihat senang dengan penolakan Rendra untuk pakaian pengantin yang dia inginkan.


"Ya sudah, kalau tidak mau seperti itu tidak usah ada pernikahan sekalian!" seru Tristan dengan wajah tanpa rasa bersalah.


Ekspresi wajah Ester langsung terkejut, dia bahkan membelalakkan matanya lebih lebar dari Rendra.


"Bagaimana mungkin hanya karena pakaian pengantin, kamu berkata seperti itu!" bentak Rendra yang sudah sangat jengah dengan kelakuan sang adik.


Rendra tahu kalau Tristan memang hanya sengaja mencari gara-gara. Namun dia tidak mengira Tristan akan mengatakan hal itu di depan Ester dan dua orang asisten Ester yang ada bersama mereka di ruangan itu.


"Keterlaluan juga ada batasnya Tristan!" bentak Rendra lagi pada Tristan yang masih diam tak bersuara dan hanya melihat tidak senang ke arah Rendra.


"Maaf tuan... tuan! ini bisa di bicarakan baik-baik kan ya, aduh... gimana sih ini? kok malah pada ribut sih?" tanya Richard berusaha melerai perdebatan dan tatapan saling menusuk di antara kakak beradik itu.


Richard berada di tengah antara Rendra dan juga Tristan. Tapi keduanya malah menatap kesal pada Richard. Alhasil pria melambai itu pun memilih mundur dan berdiri di belakang tempat duduk Sarah.

__ADS_1


"Nona Sarah, bagaimana ini?" tanya Richard bingung.


Dan Sarah hanya menghela nafas panjang, dia juga tidak tahu harus bilang apa. Sarah sudah cukup bisa memahami watak dari calon suaminya itu. Tristan itu model orang yang kalau semakin di lawan maka akan semakin cari masalah. Jadi menurut Sarah, cara yang paling tepat berhadapan dengan Tristan adalah membiarkannya bicara sendiri, marah-marah sendiri dan pergi menjauh saat dia sedang ingin bertengkar.


Rendra lalu melihat ke arah Sarah karena dia sudah bosan melihat wajah adiknya yang begitu arogan bahkan terhadap dirinya yang adalah kakak kandungnya sendiri.


"Sarah, menurut mu bagaimana?" tanya Rendra meminta pendapat Sarah.


Suasana benar-benar semakin teg4ng, karena ketika Rendra mengucapkan pertanyaan itu pada Sarah. Arah tatapan tajam menusuk dari Tristan itu beralih dari Rendra ke arah Sarah. Namun Sarah tidak menyadari hal itu karena dia tengah fokus bicara dengan Rendra.


'Kenapa selalu pendapatnya saja yang di tanyakan, ini benar-benar menyebalkan!' keluh Tristan dalam hatinya sambil terus menatap tajam ke arah Sarah.


Ester dan kedua asistennya hanya bisa memaklumi apa yang terjadi di hadapan mereka. Mau bagaimana lagi, pelanggan adalah raja. Mereka hanya bisa menghela nafas menunggu keputusan apa yang akan di ambil oleh ketiga orang yang ada di hadapan mereka itu. Mereka bahkan sampai meng-close butik mereka ini sementara sampai keluarga Hutama ini selesai dengan urusan mereka di butik ini.


Tapi jawaban itu justru semakin membuat Tristan kesal. Karena di mata Tristan, Sarah melakukan itu agar tetap bisa menikah dengan dirinya apapun yang terjadi. Tristan semakin kesal dan emosi pada Sarah. Bahkan Tristan saat ini sedang mengepalkan tangannya dengan kuat sampai buku-buku tangannya menjadi putih.


Sarah dan Rendra tidak menyadari hal itu, tapi Richard yang berdiri di belakang Sarah bisa melihat bosnya melakukan hal itu. Dan ekspresi wajah Richard tentu saja bergidik ngeri.


'Aduh, kelihatannya nona Sarah salah bicara lagi. Kenapa bos jadi emosi jiwa begitu? Kalau begini terus mereka benar-benar akan jadi tom and jerry terus. Gimana ya kalau mereka sudah nikah nanti terus tinggal satu rumah, wah... cakar-cakaran gak ya mereka?' batin Richard yang sudah berpikiran begitu jauh ke depan tentang hubungan Sarah dan Tristan.


Rendra pun akhirnya mengalah, dan merubah tema menjadi seperti apa yang Tristan mau. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Tristan bukannya senang. Tapi wajahnya semakin kusut saja.


Setelah tema di tentukan mereka pun di perlihatkan sebuah katalog yang berisi beberapa design sesuai tema yang Tristan pilih. Tapi lagi-lagi Tristan membuat masalah. Tristan melemparkan katalog itu ke atas meja dengan sangat tidak sopan.

__ADS_1


Brakk


Otomatis mata Rendra pun langsung melotot ke arah Tristan. Rendra sebagai kakak kandung Tristan benar-benar di buat jengah dengan segala kelakuan Tristan di butik ini, di hadapannya ini.


Sedangkan Ester malah was-was takut kalau sampai dia yang melakukan kesalahan.


"Apa lagi?" tanya Rendra dengan nada suara yang kian meninggi karena benar-benar hampir kehabisan kesabarannya terhadap semua tingkah konyol dan kekanak-kanakan adiknya yang usianya bahkan satu tahun lagi sudah masuk kepala tiga.


"Apa-apaan itu? apa iya aku harus pakai pakaian pengantin yang modelnya sudah pernah di pakai orang lain?" tanya Tristan dengan mengangkat sedikit dagunya ke arah Rendra.


Kedua asisten Ester saling pandang karena benar-benar tak percaya mereka akan dapatkan klien yang begitu ribet dan menyebalkan seperti Tristan.


Ester juga langsung menghela nafasnya berat, setelah itu dia mencoba untuk tetap tersenyum dan berkata.


"Kamu minta maaf ya tuan Tristan, kalau begitu kami akan segera gambarkan beberapa design yang sesuai dengan tema yang tuan Tristan minta. Mohon beri kamu waktu sepuluh menit. Bagaimana?" tanya Ester dengan sangat ramah.


Rendra awalnya sangat kesal, ingin sekali dia menarik Tristan keluar dari butik dan memberi adiknya itu sedikit pelajaran agar dia mengingat ajaran ayah mereka tentang sopan santun pada orang lain. Tapi karena menghargai Ester dan Sarah yang ada di ruangan itu, Rendra masih berusaha tetap tenang dan menahan emosinya lalu mengangguk pada Ester.


"Baiklah, Silahkan!" jawab Rendra sopan.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2