Tega

Tega
Bab 191


__ADS_3

Widya tak mampu menjawab pertanyaan Inka. Bahkan semua yang ada di ruangan tersebut diam. Mereka sama sekali tak bisa berkata apapun.


Melihat semuanya diam, Inka lantas berteriak histeris.


"Anakku.. tidak!!!! aku mau anakku... Anakku!!"


Inka terus berteriak histeris. Membuat Mulya merasa sangat sedih di dalam hatinya. Mulya menangis, Yumi juga Widya pun sama.


Damar Adhikara langsung memanggil dokter. Inka baru tenang, saat dokter memberinya obat penen4ng. Widya masih terus menangis, tapi Damar hanya diam. Damar masih terus melihat ke arah Mulya dan Inka. Damar sedang membandingkan wajah mereka, yang kalau di lihat dengan seksama, ada kemiripan. Bahkan lebih mirip daripada Inka dengan Widya.


'Ya Tuhan, kalau benar Inka bukan anakku. Artinya yang hilang di taman wisata itu, Tari adalah anakku. Tari... dimana kamu nak?' batin Damar yang sudah semakin yakin kalau Inka bukan anak kandungnya meskipun tes DNA itu hasilnya belum keluar.


***


Hari sudah menjelang malam, Tristan terus mengajak Sarah untuk pulang ketika mereka sudah selesai makan malam bersama.


"Sayang, ayo kita pulang. Besok kita harus pergi bekerja!" kata Tristan sambil memainkan rambut Sarah yang masih mendengarkan penjelasan tuan Arya Hutama, tentang masa lalunya dengan Chandra Wijaya pada Arumi yang memang tadi bertanya pada ayah mertuanya itu.


Arumi begitu penasaran apa yang membuat papinya begitu membenci ayah mertuanya. Karena itu Arumi bertanya pada Arya Hutama setelah makan malam, ketika mereka sedang duduk bersama di ruang tengah kediaman Hutama.


"Tristan, sebentar. Aku mau dengar bagaimana ayah dan papinya Arumi bisa berselisih sampai sekarang!" kata Sarah menginterupsi keinginan Tristan.


Tapi Tristan sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan apa yang ingin istrinya itu ketahui.


"Sayang, sejak kapan kamu suka gosip. Sudahlah, mau apa saja alasannya, kamu tahu ayah kan? sudah pasti bukan ayah atau ibu yang cari masalah duluan pasti! Lihat saja cetakannya di depan mu itu! kakak ipar mu yang tomboi, dan urakan seperti itu. Pasti kecebong papinya yang membentuk Arumi jadi seperti itu, wanita bar bar iya kan?" tanya Tristan yang langsung mendapatkan cubitan manis dan pedih dari Sarah di perutnya.


"Aduh sayang, jangan cubit di situ. Agak kebawah sedikit!"


Sarah langsung melotot ke arah Tristan saat suaminya itu bicara seperti itu. Untung saja suara mereka bicara memang kecil, nyaris seperti berbisik. Jika tidak apa yang di katakan Tristan itu pasti bisa di dengar oleh yang lain.


"Tristan hentikan, aku mau dengar dulu ayah cerita!" kata Sarah tegas.

__ADS_1


"Baiklah, tapi nanti malam jatahku dobel ya!"


"Tristan!"


Saat Sarah bersuara tegas namun tetap dalam suara pelan. Tristan malah terkekeh.


"Jadi begitulah ceritanya, aku sebenarnya sudah berusaha melupakan masalah itu. Masalah lama yang bahkan sekarang jabatan itu sudah di ganti belasan orang. Tapi mungkin hal itu sangat membekas di hati tuan Chandra Wijaya ya, jadi dia belum bisa melupakannya!" jelas tuan Arya Hutama.


Sarah terdiam, sepertinya gara-gara dia sibuk dengan Tristan. Dia jadi tak tahu awal ceritanya.


"Tuh kan, gara-gara kamu aku tidak dengar tadi apa yang ayah katakan di awal!" keluh Sarah pada Tristan.


"Sayang, untuk apa mendengarkan semua itu. Kita tidak ada urusannya dengan keluarga Wijaya!"


"Tristan, Arumi kakak ipar kita. Chandra Wijaya, papinya. Bagaimana tidak ada hubungannya?" tanya Sarah tak habis pikir bagaimana cara pikir Tristan.


"Kamu yang bagaimana? sayang, jelas-jelas kak Rendra menikah dengan Arumi. Bukan dengan ayahnya? kenapa kita pusing dengan ayahnya, mereka saling mencintai kan? itu sudah cukup? yang mau menjalin rumah tangga mereka, kenapa pusing soal papinya?" tanya Tristan yang berpikir sangat praktis.


"Sudahlah Tristan, aku lelah bicara padamu!"


Tristan malah menggunakan ucapan Sarah tadi sebagai alasan pulang.


"Apa sayang? kamu lelah?" tanya Tristan dengan suara keras. Tristan sengaja mengatakannya dengan suara lantang agar semua orang mendengarnya.


Sontak saja Sarah, bahkan semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Tristan. Padahal pembicara antara tuan Arya Hutama, Arumi dan Rendra sedang sangat serius.


"Tristan, apa sih?" tanya Sarah protes.


"Sarah, Tristan. Ini juga sudah malam, kalian istirahat saja. Apa jalan mau menginap, nanti ayah suruh bibi menyiapkan kamar Tristan?" tanya tuan Arya Hutama.


"Tidak usah ayah, kami akan pulang saja. Tidak enak merepotkan ayah!" kata Tristan membuat tuan Arya Hutama dan Rendra terkekeh kecil.

__ADS_1


Sarah yang merasa tidak enak langsung menghampiri tuan Arya Hutama dan bersalaman. Sarah juga pamit pulang pada Arumi.


Begitu sampai di dalam mobil Tristan, Sarah langsung memukul lengan Tristan.


Plakkk


"Kamu tuh ya bener-bener...!" Sarah tak bisa berkata-kata lagi.


Sarah heran kenapa sejak dulu sampai sekarang, ketika semua sikap arogan Tristan perlahan hilang berganti dengan yang lebih baik, masih saja ada yang tidak mau hilang. Tristan yang suka bikin darah tinggi, sifat itu tidak bisa hilang dari Tristan sepertinya.


Tapi ketika Sarah marah seperti itu, Tristan malah terkekeh dan segera menyalakan mesin mobilnya, mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah ayahnya.


Di dalam kediaman Hutama, tuan Arya Hutama juga pergi beristirahat. Sementara Arumi dan Rendra juga sudah masuk ke dalam kamar mereka.


Setelah bersih-bersih, Arumi terlihat duduk di tepi tempat tidur sambil tertunduk sedih.


Rendra yang baru ganti piyama langsung duduk di sebelah Arumi.


"Kamu sedih dengar cerita ayah tadi?" tanya Rendra yang mengira Arumi sedih mengetahui seperti apa papinya sebenarnya.


Padahal Arumi diam juga bukan karena hal itu. Arumi justru tahu betul seperti apa sang papi. Sikapnya yang arogan, mau menang sendiri, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Arumi tahu semua itu. Dia justru tidak enak pada tuan Arya Hutama, ayah mertuanya itu karena sudah banyak mengalami kesulitan akibat obsesi papinya.


"Aku sudah kenal papi sejak lama, aku tahu seperti apa papi itu. Yang aku pikir malah, ayah baik sekali ya mas. Sudah tahu aku ini anak dari orang yang sudah banyak membuatnya mengalami kesulitan. Tapi ayah bahkan tak pikir dia kali merestui hubungan kita. Bahkan membantu Arista mengatur semuanya!" kata Arumi.


"Seperti itulah ayah, dia bukan orang yang suka menyimpan dendam!" kata Rendra yang mulai membelai lembut wajah Arumi.


Rendra juga mulai merangkul pinggang Arumi. Merasa Rendra akan meminta haknya sebagai suami malam ini. Arumi masih sangat trauma pada rasa sakit yang dia rasakan tadi siang, Arumi lansung menguap lebar. Padahal dia belum mengantuk.


"Hoaaammmm! ya ampun mas, kok aku ngantuk banget ya. Tidur yuk mas! besok pagi aku akan antar Kevin!" kata Arumi yang langsung memposisikan dirinya berbaring dan menarik selimut sebatas lehernya membuat Rendra hanya bisa garuk-garuk kepala atas kelakuan istrinya itu.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2