
Di apartemen Tristan, pria tampan itu seperti biasanya, dia sudah menghancurkan beberapa barang yang padahal baru dua hari lalu di ganti oleh Richard, karena perabotan di dalam apartemen itu yang lama sudah di hancurkan lebih dulu oleh Tristan.
Kenapa Tristan menghancurkan barang-barang lagi? jawabannya sangat mudah, dia sedang kesal dan perlu sesuatu untuk melampiaskan kekesalan nya itu. Dan hasilnya semua barang di ruang tamunya hancur. Kecuali sofa yang sangat sulit dia rusak. Sebenarnya kalau bisa di rusak, pasti dia juga akan merusaknya.
Richard hanya bisa memandang dari kejauhan saja. Dia mengambil jarak aman kira-kira sekitar lima meter dari Tristan berdiri.
Richard sudah tidak heran lagi dengan apa yang membuat Tristan marah.
'Kan nona Shanum juga sudah bilang sejak kemarin, kemarinnya, bahkan lusa kemarin kalau dia tidak bisa datang karena dia ada peragaan busana design nya. Tuan ini gimana sih?' tanya Richard dalam hati.
Besok adalah ulang tahun Tristan, dan Tristan sangat ingin sekali Shanum bisa datang. Barusan dia menghubungi Shanum, dan jawaban Shanum masih sama seperti kemarin dan beberapa hari yang lalu. Dia minta maaf karena tak akan bisa datang, sedangkan Tristan sudah di ultimatum oleh sang ayah, kalau Shanum tidak datang maka dia akan di nikahkan dengan wanita pilihan sang ayah. Namun ketika Tristan mengatakan apa yang dikatakan ayahnya itu pada Shanum, jawaban Shanum sungguh sangat mengejutkan.
Flashback On
"Jadi seperti itulah alasannya, kenapa aku ingin kamu datang Shanum, sekali ini saja tolong penuhi permintaan ku!" ucap Tristan pada Shanum.
"Tristan sayang, kamu sudah tahukan besok itu hari terpenting dalam hidupku. Kalau soal pernikahan mu dengan wanita pilihan ayahmu, aku sama sekali tidak keberatan. Aku percaya sekali pada cinta dan kesetiaan mu sayang. Hal kecil semacam itu tidak akan mengubah apapun tentang hubungan kita!" jawab Shanum begitu santai terdengar seperti tanpa beban sama sekali.
"Apa maksudmu?" tanya Tristan tak habis pikir dengan jawaban Shanum.
"Sayang, kita permudah saja ya. Aku benar-benar minta maaf karena tak bisa datang di hari ulangtahun mu. Mau bagaimana pun aku tidak bisa, acaraku juga besok sayang. Dan akan banyak sekali kerugian jika aku membatalkan nya, bayangkan berapa orang yang akan kehilangan pekerjaan, juga berapa orang yang akan kecewa karena harus menanggung kerugian akibat pembatasan proyek yang sudah di rencanakan selama satu tahun lebih ini?" tanya Shanum yang membuat Tristan terdiam.
"Aku percaya padamu Tristan sayang, ikuti saja mau ayahmu agar dia tidak sedih dan kecewa. Kamu menikah saja dengan wanita itu, buat saja surat perjanjian pra nikah dengan wanita itu. Dalam waktu tiga bulan, ceraikan saja dia. Katakan saja kamu sudah berusaha mencintai nya tapi tidak bisa. Setelah pekerjaan ku disini selesai, aku akan segera kembali padamu dan kita bisa menikah dan hidup bahagia seperti mimpi kita sejak lima tahun lalu sayang!" jelas Shanum panjang lebar pada Tristan.
Tristan tak lagi menjawab perkataan Shanum yang terdengar seperti sangat tidak perduli padanya itu. Tristan langsung membanting ponselnya ke atas meja kaca di ruang tamu, hingga membuat meja kaca itu pecah menjadi berkeping-keping. Tentu saja karena ponsel Tristan bukan ponsel sembarangan.
__ADS_1
Flashback Off
Sejak satu jam setelah menghubungi Shanum, Tristan masih terus menghancurkan barang-barang karena kesal. Hingga akhirnya dia terlihat kelelahan, dan Tristan pun lalu duduk di sofa dengan kedua tangan memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Tak hanya sakit di kepala, tapi hatinya juga merasa sedikit pilu mendengar penolakan Shanum pada permintaan nya itu. Juga jawaban wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama lima tahun itu tentang kesulitannya yang harus menikahi wanita lain.
'Shanum, aku belum pernah meminta apapun padamu. Hanya satu hal kecil kamu bilang? ini masalah pernikahan! dan kamu bilang ini hanya hal kecil? kenapa Shanum, kenapa kamu begitu egois?' tanya Tristan dalam benaknya.
Di tengah sang bos yang sedang meratapi kekasihnya yang tak mau mengerti dirinya dan memprioritaskan dirinya satu kali ini saja. Richard malah sudah terlihat sangat jenuh, dia sudah beberapa kali menguap karena dia sangat lelah. Saat dia menoleh ke arah jam di dinding ruangan itu. Jam di sana sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih. Rasanya Richard ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk pertama kalinya, maksudnya menjadi orang pertama yang mengucap selamat ulang tahun untuk Tristan. Namun wajah garang Tristan membuatnya mengurungkan niatnya.
Richard masih berada di sana karena memastikan bosnya tidak bertingkah macam-macam, seperti mabuk atau semacamnya. Karena besok dia juga harus kerja, ada meeting penting dengan perusahaan jasa terbesar di kota yang akan bergabung dengan Arya Hutama Grup.
Saat Tristan akan mendekat ke ruang mini bar. Richard langsung pasang badan berdiri di depan ruangan itu.
"Bos, perintah tuan besar. Anda tidak boleh minum!" seru Richard dengan mata yang sudah merah menahan kantuk.
"Kamu ini anak buah ku atau anak buah ayahku?" tanya Tristan dengan nada tinggi, dia pasti bisa mengalahkan nada tinggi Min Yoongi dengan mudah.
Richard bahkan sampai memejamkan matanya mendengar teriakan Tristan.
"Bos, aku ini asisten pribadi mu. Tapi yang menggajiku kan ayahmu. Jadi...!"
Brakkk
Tristan tak bicara, tapi dia menendang pintu ke ruang mini bar dengan kencang. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya.
'Tuh kan, ada untungnya aku gak jantungan. Hem... bos masuk ke dalam kamar. Artinya aman dong. Aku sungguh rindu tempat tidur ku yang nyaman di rumah!' gumam Richard dalam hatinya.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Arya Hutama yang memang tinggal bersama dengan Rendra Hutama karena ingin sang ayah ikut mengurus Kevin sedang berkumpul dengan ayah dan juga anaknya di meja makan untuk sarapan pagi.
Tapi ketika mereka sudah setengah menghabiskan makanan mereka. Arya Hutama tiba-tiba berkata.
"Hari ini temani ayah ya Rendra!" ajak Arya Hutama pada sang putra sulung.
"Baik ayah, ayah mau kemana? ke tempat acara ulang tahun Tristan. Tapi semua sudah di urus pak Samsudin kan?" tanya Rendra.
"Ayah ingin menemui calon adik iparnya!" ucap Arya Hutama yang sukses membuat Rendra menghentikan aktivitas sarapan nya.
"Ayah mau temui Shanum, bukannya ayah tidak suka jika...!"
"No, Rendra!" sela Arya Hutama pada Rendra.
Mendengar jawaban seperti itu, Rendra malah semakin heran.
"No, lalu?" tanya Rendra penasaran.
"Seorang wanita yang ayah rasa bisa menandingi keras kepala dan sikap arogan Tristan. Kamu akan tahu nanti setelah kita tiba di sana!" jelas Arya Hutama yang bukannya membuat Rendra merasa puas dengan jawaban sang ayah, tapi malah makin penasaran.
***
Bersambung...
__ADS_1