
Melihat Arumi jatuh terjengkang seperti itu, Rendra langsung buru-buru membantu Arumi. Dia maju dan mencoba menarik kedua tangan Arumi. Sambil kakinya menginjak salah satu kaki kursi agar kursinya bisa terlepas dari Arumi ketika Rendra menarik Arumi.
Dan ketika tangan Arumi di tarik oleh Rendra. Secara spontan Arumi juga berusaha untuk mengandalkan pegangan tangan Rendra tersebut untuk dia bisa berdiri.
Namun ternyata Rendra belum siap ketika Arumi menariknya.
Brukkk
Rendra pun akhirnya malah jatuh menimpa Arumi.
"Aduhh!" pekik Arumi yang merasa bok0ngnya merasakan sakit akibat terjatuh dua kali.
Rendra yang jatuh menimpa Arumi pun menjadi panik. Dia berusaha berpegangan pada apapun untuk bisa berdiri. Sialnya Rendra malah memegang salah satu pinggir meja yang terbuat dari besi yang biasanya dipakai untuk alas kalau ada dokumen yang akan di potong dan sebagainya.
Alhasil, Rendra malah mendesis menahan sakit. Arumi yang melihat wajah Rendra seperti sedang menari rasa sakit pun melihat ke arah tangannya, dan ternyata benar. Tangan Rendra mengeluarkan sedikit darah.
"Ya ampun, tuan Rendra. Mundur sedikit saja!" kata Arumi.
Rendra pun tidak jadi mendiri dan hanya sedikit mundur. Arumi lantas menggunakan kedua tangannya untuk tumpuan agar dia bangun.
'Ya ampun, drama lagi deh. Tadi pagi mau bantuin aku perutnya kena sikut. Sekarang mau bantuin aku berdiri malah tangannya kena besi. Ini cowok, keknya menderita banget ya kalau dekat sama aku!' batin Arumi mulai menjadi titisan mama Lauren mode on.
Setelah Rendra mundur, baru Arumi bangun dan menyingkirkan kursinya. Rendra sedikit terkejut dengan tindakan Arumi menyingkirkan kursi tersebut. Masalahnya wanita di hadapan itu menyingkirkan kursi dengan cara yang tidak biasa bukan mendorongnya menjauh tapi menendangnya dengan sangat kuat.
Arumi yang sudah menyingkirkan kursi pembuat masalah itu langsung membantu Rendra untuk bangun. Dia menarik kursi yang biasanya dipakai untuk Sarah duduk.
Arumi langsung meraih tangan Rendra dan meletakkan nya di atas meja.
"Ya ampun, berdarah tuan Rendra!" kata Arumi yang langsung meraih tissue di atas meja kerjanya dan mengusap darah yang ada di tangan Rendra.
"Arumi tidak apa-apa, ini hanya luka kecil!" kata Rendra yang tak mau merepotkan Arumi.
"Iya tuan, ini memang hanya luka kecil. Kalau lukanya besar anda sudah pasti berada di rumah sakit sekarang, bukan di sini ha ha!" ucap Arumi sambil terkekeh.
Sebenarnya niat Arumi itu hanya untuk menghibur Rendra, tapi karena wajah Rendra tetap datar, Arumi langsung menutup mulutnya rapat.
"Kamu sedang bercanda ya?" tanya Rendra yang melihat raut wajah Arumi sepertinya kecewa karena candaannya tidak di tanggapi Rendra.
__ADS_1
"Bukan tuan, saya sedang menambal ban!" kata Arumi datar.
"Ha ha ha!"
Rendra pun tertawa mendengar jawaban putus Arumi dan juga melihat raut wajahnya yang cemberut.
Arumi malah bingung kenapa sekarang pria di depannya itu yang tadinya berwajah serius malah terkekeh.
"Kamu sangat menghibur Arumi...!"
"Tentu saja tuan, cita-cita saya kan memang mau jadi badut!" kata Arumi santai.
Dia memang seperti itu, kalau Arumi sedang gugup maka dia akan berusaha menghilangkan kegugupannya itu dengan candaan.
Arumi sudah membersihkan noda darah di telapak tangan Rendra meskipun hanya luka kecil tapi tetap saja bisa infeksi kalau tidak segera diobati. Arumi lantas meraih tasnya dan mencari sesuatu.
"Kamu cari apa?" tanya Rendra penasaran.
"Yang jelas bukan cari pacar tuan ha ha, tidak mungkin ada pacar di dalam tas saya!" kata Arumi.
Arumi ternyata sedang mencari plester pembalut luka. Dia membuka penutup plester tersebut kemudian memasangnya di telapak tangan Rendra yang terluka.
Mata Rendra menatap lekat ke arah tangannya yang sedang di balut plester oleh Arumi. Wanita yang pernah melakukan hal itu dulu adalah mantan istrinya.
"Sudah tuan, oh ya tuan kesini cari saya?" tanya Arumi sambil menuju ke arah dirinya sendiri dengan jari telunjuk kanannya.
Rendra pun mengangguk.
"Iya, bisa kita bicara?" tanya Rendra.
Arumi malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Loh, tuan. Bukannya sejak tadi kita memang sedang bicara?" tanya Arumi.
Rendra yak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya menghela nafas di iringi kekehan kecil.
"Maksud saya, saya ingin mengajak kamu keluar. Kita bisa bicara di kafe atau restoran mungkin?" tanya Rendra lagi.
__ADS_1
Dan reaksi Arumi ketika Rendra berkata seperti itu adalah membelalakkan matanya lebar. Dan tak hanya itu, Arumi bahkan menelan salivanya dengan susah payah dia sudah berpikir yang tidak-tidak.
'Hah, aku mau di makan... eh mau di ajak makan? kenapa? tapi dari wajahnya dia tida terlihat marah. Sarah pasti sudah menjelaskan semuanya pada tuan Rendra. Lalu kenapa dia datang kesini dan mengajakku bicara?' tanya Arumi bingung dalam hatinya.
"Arumi, bagaimana? bisa kan?" tanya Rendra lagi karena tak kunjung mendapat tanggapan atas pertanyaannya tadi.
Arumi yang berpikir kalau Rendra ini tidak mungkin bertindak yang aneh-aneh pun akhirnya mengangguk setuju.
"Iya, bisa! saya save semua pekerjaan saya dulu ya tuan Rendra...!"
"Arumi, panggil saja Rendra. Tidak usah pakai tuan. Seperti aku memanggilmu dengan nama!" sela Rendra.
"Heh, iya tuan... eh iya Rendra, tapi kok kayaknya agak gimana gitu ya. Masalahnya kan usia tuan...!"
"Kalau begitu panggil saja mas Rendra, bagaimana?" tanya Rendra.
"Mas ya?..."
Arumi masih berpikir.
'Kenapa harus panggil mas, kenapa bukan kak Rendra? sama seperti Sarah?' batin Arumi.
Setelah selesai merapikan pekerjaannya, Rendra dan Arumi pun keluar dari ruangan divisi keuangan tersebut. Tapi saat di luar, Rendra baru menyadari kalau rambut Arumi agak acak-acakan. Tapi mau menegurnya dia merasa tidak enak hati. Karena dia mengerti, menegur penampilan seorang wanita itu adalah hal yang paling tidak boleh di lakukan oleh seorang pria.
Baru saat mereka masuk ke dalam lift. Arumi langsung membelalakkan matanya dengan lebar.
'Ya ampun, rambutku! kenapa kayak rambut singa begini. Huh, Hadi dari tadi mas Rendra lihat aku yang kayak singa begini. Astaga, rasanya aku pengen menghilang saja sekarang dari sini. Coba aku punya lampu ajaib. Ya ampun!' keluh Arumi dalam hatinya.
"Maaf mas, bisa berbalik sebentar?" tanya Arumi yang ingin merapikan rambutnya dengan sisir yang ada di dalam tas nya.
Rendra yang memang paham pun langsung mengangguk dan berbalik. Arumi meraih sisirnya dan merapikan rambutnya.
'Ya Tuhan, cowok mana juga bakalan ilfil lihat bentukan aku yang tadi. Ya ampun, apa ya? yang di pikirin mas Rendra? eh kenapa aku malah pusing sama apa yang dipikirin mas Rendra sih?' tanya Arumi dalam hatinya sambil terus merapikan rambutnya.
***
Bersambung...
__ADS_1