Tega

Tega
Bab 252


__ADS_3

Brian Kim di sebut kurir buah oleh Arumi. Sepertinya usahanya membayar dokter klinik operasi plastik di korea sia-sia belaka di depan Arumi.


Bagaimana mungkin plastik mahal yang bisa membeli sebuah Alphard itu bisa di kira kurir buah oleh Arumi. Istri Rendra itu memang ajaib.


Satu-satunya pria tampan menurutnya memang hanya Rendra saja. The one and only.


Jangan bayangkan wajah Brian Kim seperti apa saat ini. Ibaratnya orang yang sedang menahan sesuatu yang benar-benar sudah ingin keluar. Menahan emosinya yang sudah mau meledak.


Tapi bibirnya tetap berusaha membuat garis lengkung ke arah atas meski tidak terlalu lengkung, karena suasana hatinya memang sedang panas 39,9 derajat.


"Bukan nona! aku Brian Kim!" kata Brian Kim memperkenalkan dirinya pada Arumi.


"Oh, kamu Brian Kim tetangga Sarah yang katanya artis itu?" tanya Arumi yang membuat Brian Kim sedikit bangga dan sedikit mengurangi emosinya karena di kira kurir buah oleh Arumi tadi.


"Tapi kok aku gak tahu ya, artinya kamu gak terkenal-terkenal banget kan?" tanya Arumi lagi yang lantas membuat senyuman di wajah Brian Kim punah, sirna, hilang seketika.


Ibarat orang sudah di angkat tinggi, karena di bilang artis. Tapi langsung di banting lagi dengan cepat karena di bilang Arumi tidak kenal, jadi masih di anggap artis yang tidak terkenal. Padahal satu kali endorse saja, bayaran Brian Kim sudah seharga sebuah satu buah mobil. Masih di bilang artis tidak terkenal. Rasanya kepala Brian Kim kalau bisa mengeluarkan asap, asap karena kesal di kepalanya pasti sudah mengepul keluar.


Tapi demi semua rencananya, Brian Kim tetap berusaha untuk bersabar.


"Iya nona, memang saya belum begitu terkenal. Saya sedang berusaha untuk bisa terkenal, bekerja sebaik mungkin!" kata Brian Kim yang ingin membuat kesan baik pada Arumi.


Tapi hal itu sama sekali tidak mempan pada wanita yang memang acuh sekali pada orang yang baru dia kenal itu.


"Sepertinya susah, banyak tuh muka yang original yang lain baik. Tapi kalau kamu mau terus usaha, ya usaha saja terus!" kata Arumi yang secara tidak langsung begitu menyindir Brian Kim tentang wajahnya yang tidak asli karena di operasi plastik.


"Maaf, tapi Sarah nya ada tidak?" tanya Brian Kim yang sudah mulai malas menghadapi Arumi.


Tadinya dia berusaha memberikan, menciptakan kesan baik untuk Arumi. Tapi setelah dia pikir lagi, itu adalah hal mustahil. Arumi itu wanita yang ajaib, tidak akan mudah terlihat baik di depannya. Isi kepalanya hanya hal yang negatif saja sepertinya, itulah yang ada di pikiran Brian Kim. Hingga dia kemudian mengalihkan pembicaraan denhan menanyakan keberadaan Sarah.

__ADS_1


"Tunggu, kenapa kamu menanyakan Sarah? kan ini apartemennya Tristan?" tanya Arumi lagi.


Brian Kim benar-benar sudah hampir meledak.


"Iya kan kalau siang begini biasanya Tristan bekerja, jadi aku pikir pasti yang ada di rumah kan Sarah, istrinya!" jawab Brian Kim berusaha untuk menjawab pertanyaan Arumi itu dengan santai.


"Nah kan, sudah tahu suaminya bekerja kalau siang hari. Kenapa malah datang kemari, bagaimana kalau di rumah ini Sarah sedang sendirian, tidak ada aku, tidak ada ibunya. Kan nanti jadi fitnah timbulnya, kenapa tidak datang malam hari saja, saat Tristan pulang kerja?" tanya Arumi lagi.


Brian Kim menutup rapat mulutnya. Tensi darah Brian Kim benar-benar bisa di buat naik kalau begini terus.


"Ada tamu ya Arumi?" tanya Widya yang kebetulan lewat dan melihat Arumi seperti bicara dengan seseorang di depan pintu.


Setelah Widya mendekat ternyata itu adalah Brian Kim.


"Eh nak Brian, mari masuk nak!" kata Widya.


Begitu Widya mempersilahkan Brian Kim masuk, Arumi pun menyingkir dari hadapan Brian Kim. Tapi kemudian dia menghampiri Widya dan membisikkan sesuatu di telinga ibu kandung Sarah itu.


"Arumi, gak boleh negatif thinking begitu!" balas Widya dengan suara pelan.


"Gimana dong Bu, mukanya tuh gak meyakinkan kalau dia benar-benar orang baik. Dia kan artis Bu, jago akting. Mungkin sekarang dia juga lagi akting kan? bisa jadi kan?" tanya Arumi lagi yang sengaja membesarkan sedikit volume suaranya supaya Brian Kim mendengarnya.


'Wanita ini, Arumi sejak dulu kamu memang menyebalkan!' pekik Brian Kim dalam hatinya.


"Sudah.. sudah.. gak boleh suudzon ya nak!" kata Widya pada Arumi.


Arumi hanya mengangkat bahunya sekilas dan pergi meninggalkan Brian Kim dan Widya.


"Maafkan Arumi ya nak, dia memang begitu. Suka ceplas-ceplos. Tapi hatinya sangat baik, dia sahabatnya Sarah yang paling baik. Sekarang mereka malah jadi saudara ipar!" kata Widya yang tidak enak hati pada Brian Kim.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Tante. Oh ya, ini ada buah buat Tante dan Sarah. Ini di kirim dari Jepang, aku pikir ini pasti sangat baik untuk wanita yang sedang hamil. Aku juga tidak tahu kenapa di kirim padaku, aku pikir lebih baik untuk Sarah saja!" kata Brian Kim.


Widya terlihat sangat senang karena Brian Kim begitu memikirkan kehamilan Sarah, maksudnya perduli pada Sarah dan anaknya. Padahal hanya tetangga saja. Tapi Widya berpikir mungkin karena Brian Kim memang tinggal sendirian, dan tidak punya siapa-siapa lagi seperti katanya. Makanya dia menganggap tetangga seperti saudara.


"Wah terima kasih banyak ya! masuk dulu nak!" kata Widya.


Brian Kim tadinya memang mau menjadikan buah itu alasan datang ke apartemen Tristan untuk menemui Sarah dan mengobrol dengannya. Karena hari ini dia memang tidak ada jadwal syuting. Tapi berhubung ada Arumi di apartemen ini. Brian Kim jadi sangat malas untuk melakukan itu, yang ada dia akan benar-benar terkena hipertensi kalau bicara dengan Arumi.


"Maaf Tante, saya cuma mau antar ini saja! soalnya masih ada urusan. Saya permisi ya Tante!" kata Brian Kim setelah menyerah parcel buah itu pada Widya.


Widya lantas menutup pintu ketika Brian Kim sudah pergi.


"Wah melon!" kata Kevin yang baru keluar dari kamar Sarah dan memang sangat suka dengan buah melon.


"Kevin mau?" tanya Widya.


Kevin mengangguk cepat.


"Mau nenek!" kata Kevin.


"Ayo kita ke dapur. Nenek akan kupas dan potongkan untuk kevin!" ajak Widya.


Widya dan Kevin lantas memakan buah melon itu bersama di meja makan.


Bersamaan dengan itu Sarah dan Arumi pergi ke dapur.


"Mama Sarah, mau melon, ini sangat manis. Sini Kevin suapi?" tanya Kevin pada Sarah.


"Sarah kalau kamu terima tawaran Kevin, fix kamu dan aku end!" ancam Arumi membuat Sarah terkekeh.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2