Tega

Tega
Bab 190


__ADS_3

Yumi dan seorang perawat menemani Mulya di ruang donor darah. Tangis Mulya tak berhenti.


"Maaf Bu, tolong berhenti menangis ya. Ibu bisa kena hipotensi atau malah bisa hipertensi nanti. Tolong ya Bu, kalau mau donor darah kondisi ini harus tenang!" kata perawat itu mengingatkan.


Yumi uang ada di samping Mulya juga berusaha menasehati Mulya.


"Bi Mulya, tenang. Atau bibi tidak akan bisa menolong nona Inka!" kata Yumi.


"Bagaimana semuanya itu bisa terjadi, Yumi? waktu bibi pergi ke pasar tadi, ndoro putri masih baik-baik saja. Dia masih tersenyum saat bibi sapa. Bagaimana bisa begini Yumi?" tanya Mulya penasaran.


Yumi lantas terdiam, dia bahkan tidak tega menceritakan semua yang dia lihat di rumah keluarga Kusuma Wijaya tadi pagi. Saat Jerry Alando mengusir Inka dari rumah meski nyonya Anika sampai mengancam dan bersikap tak kalah keras pada Jerry Alando.


Melihat Yumi terdiam, Mulya menjadi semakin tidak tenang.


"Yumi, tolong ceritakan pada bibi. Tidak mungkin kan Inka di usir tanpa alasan oleh nak Jerry?" tanya Mulya yang merasa sangat penasaran.


"Huh.. sebenarnya aku juga tidak tahu bagaimana pastinya bi, tapi tadi pagi terjadi keributan besar. Setelah beberapa anak buah tuan Jerry datang, tuan Jerry langsung menarik-narik nona Inka keluar dari dalam kamar, nona Inka menangis dan meminta ampun, bahkan memohon-mohon pada tuan Jerry. Tapi tuan Jerry seperti tak mendengarkan permohonan dan Isak tangis nona...!" Yumi menjeda kalimatnya karena dia menyeka air matanya.


Air mata Yumi mengalir begitu saja ketika mengingat apa yang dia lihat dan dengar tadi pagi. Apalagi untuk menceritakan nya kembali. Hati Yumi benar-benar sangat sedih dan tidak tega. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat nona yang dia ikuti sejak kecil, yang tidak pernah marah padanya di perlakukan seperti seorang pelayan. Bahkan lebih dari itu. Jerry Alando menariknya, menyeretnya, dan mendorongnya sampai jatuh bangun. Inka benar-benar sampai jatuh bangun mencoba menahan setiap perlakuan kasar Jerry.


Melihat air mata Yumi, Mulya kembali menangis.


'Kasihan sekali kamu nak, kenapa kamu bisa jatuh cinta pada pria yang begitu kejam seperti Jerry Alando itu nak. Kenapa?' batin Mulya benar-benar ikut menangis.

__ADS_1


"Bahkan ketika sampai di depan pintu, tuan Jerry memberi talak pada nona Inka. Aku sudah berusaha memohon pada tuan Jerry, agar jangan melukai nona Inka. Tapi tuan Jerry malah menyuruh anak buahnya menampar dan menahan ku, Bi" Yumi kembali terisak.


"Talak?" lirih Mulya.


"Iya Bi, nona di talak. Nona menangis memohon agar tuan Jerry tidak melakukan itu, tapi tuan Jerry benar-benar tidak perduli. Dia menendang nona Inka sampai jatuh tersungkur!" Yumi semakin emosi ketika menceritakan semua yang dia lihat itu.


Mulya sampai memejamkan matanya, karena hatinya sangat perih mendengar semua yang terjadi pada putrinya. Mulya bisa membayangkan seperti apa sakit hati dan sakitnya tubuh Inka saat itu terjadi. Ibu mana yang kuat dan tidak merasakan sakit hati dan sedih, ketika mengetahui anaknya mengalami semua tindakan kasar seperti itu. Sampai dia ingat pada ibu mertua anaknya itu, Mulya lantas bertanya pada Yumi.


"Lalu apa yang dilakukan nyonya Anika, masak iya dia diam saja?" tanya Mulya tak habis pikir bagaimana putrinya bisa dapat perlakuan seperti itu.


"Nyonya Anika sudah berusaha mencegah apa yang tuan Jerry lakukan, dia sampai mengancam tuan Jerry, bahkan nyonya Anika bilang dia tidak akan menganggap tuan Jerry anak lagi kalau masih menyakiti nona Inka. Tapi tuan Jerry tidak perduli, dia bahkan minta anak buahnya juga menyiapkan mobil. Setelah memberi talak pada nona Inka, tuan Jerry meninggalkan kediaman Kusuma Wijaya. Nona Inka masih tidak mau pulang, tapi aku dan nyonya Anika yang meminta nona Inka untuk pulang, nyonya Anika takut kalau nona Inka akan di kasari lagi oleh tuan Jerry, sementara tuan Steven tidak ada!" kata Yumi panjang lebar.


"Benar-benar lelaki yang jahat. Beraninya dia menyakiti Inka seperti itu!" geram Mulya dengan mata memerah.


"Nona... nona sedang hamil bi!" kata Yumi yang memang tahu sejak awal kalau Inka hamil.


Inka dan Yumi sudah tahu, tapi Inka minta Yumi merahasiakannya dari siapapun. Yang di takutkan Inka adalah, Jerry Alando sejak awal tidak mau dia hamil. Jadi Inka takut, Jerry Alando akan minta Inka melenyapkan bayi tak berdosa itu.


Mata Mulya semakin deras mengalirkan air mata.


'Inka, ya Tuhan!' lirih Mulya dalam hatinya.


Setelah mendapatkan transfusi darah sebanyak dua kantong dan salah satunya dari Mulya. Dua jam kemudian, dokter yang menangani Inka keluar dari ruang operasi.

__ADS_1


Semua orang sudah berkumpul, bahkan Mulya dan Anika juga. Tapi Damar memang tidak mau membahas masalah golongan darah itu dulu, karena tadi dia sudah meminta dokter melakukan tes DNA antara dirinya dan Inka. Juga antara Mulya dan Inka secara diam-diam. Jadi selama hasil tes DNA itu belum keluar, kira-kira kata dokter butuh waktu paling cepat tiga hari. Damar akan tetap menjadi ayah Inka, dan percaya penuh pada apa yang selama ini memang dia percayai.


"Bagaimana dokter? bagaimana keadaan Inka?" tanya Mulya yang mendahului Widya.


Widya sampai terkejut karena Mulya tiba-tiba berada di depannya, menghalangi dirinya yang mau bertanya pada dokter. Damar juga menyaksikan hal itu, dia semakin menaruh curiga pada Mulya.


"Alhamdulillah, operasinya berhasil. Tapi kami mohon maaf, janin dalam kandungan pasien tidak dapat kami selamatkan. Kami harap pasien tidak di beritahu dulu, sampai kondisinya normal. Pasien sepertinya sangat tertekan, ada trauma di kepalanya. Tolong, jaga emosinya agar tetap stabil. Satu jam lagi kalian bisa menjenguk pasien di ruang rawat!" kata dokter itu menjelaskan secara rinci.


Anika terlihat sangat sedih, bagaimanapun semua ini juga karena ketidakmampuan dirinya mendidik Jerry Alando.


Tapi Damar dan Widya juga tak bisa menyalahkan Anika. Sebab semua ini keinginan Inka sendiri, dia bersikeras ingin menikah dengan Jerry. Bahkan setelah Jerry pergi selama empat tahun, Inka masih menunggu dan bersedia menerima Jerry Alando kembali. Damar dan Widya tak bisa menyalahkan Anika atau Steven untuk hal ini.


Satu jam kemudian, semuanya menemui Inka di ruang rawat. Ketika sadar, Inka pertama kali menyebut kata.


"Ibu...!"


Mulya yang berdiri di depan pintu lantas maju satu langkah. Sampai dia berhenti karena Widya sudah lebih dulu mendekati Inka.


"Ibu, anakku baik-baik saja kan?" tanya Inka.


Widya tak bisa menjawab, dia hanya diam dan memeluk Inka.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2