
Arumi melihat Hera menatap ke arahnya dengan sangat tajam. Karena Arumi memang punya dendam kesumat pada Hera yang telah menghancurkan kisah asmara sahabatnya dulu, Arumi pun rasanya begitu senang kalau bisa membuat masalah dengan Hera.
Meskipun Sarah dan Alan sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan Sarah kini sudah mempunyai suami yang sudah mulai sangat mencintainya. Tapi dendam Arumi itu sama sekali belum hilang, apalagi saat dia mengetahui kalau Hera bahkan menggunakan yang yang di berikan oleh tuan Ari Ricardo yang seharusnya untuk anak-anak panti. Dan Hera menggunakan uang itu untuk kepentingan nya sendiri. Arumi bertambah geram lagi.
Rasanya kalau di negara ini tidak ada hukum, maka Arumi akan benar-benar menjadikan Hera kayu rempeyek.
Melihat Hera yang terus menatap ke arah mereka. Arumi pun tanpa aba-aba langsung menarik lengan Rendra. Rendra yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Arumi lantas menoleh ke arah Arumi.
"Ada apa?" tanya Rendra.
"Mas, kita kan sedang bersandiwara jadi pasangan. Bukankah seharusnya aku menggandeng tanganmu seperti ini?" tanya Arumi yang langsung mengaitkan tangan nya di lengan Rendra.
Rendra melihat tangan Arumi tersebut, sudah sangat lama. Sudah lima tahun tak ada wanita yang mengaitkan tangannya di lengan Rendra seperti itu. Tapi Rendra berpikir kalau Arumi benar, mereka sedang bersandiwara. Seharusnya memang seperti itu. Seharusnya, memang terlihat mesra di depan semua yang hadir.
Jangan tanya seperti apa ekspresi wajah Hera begitu melihat Arumi dan Rendra bergandengan seperti itu.
Hera bahkan mendengus kesal dan nampak mengepalkan tangannya karena kesal.
"Hera, itu Rendra datang dengan siapa? kelihatannya sangat mesra. Jangan-jangan kamu salah informasi, Rendra sudah punya kekasih?" tanya Ari Ricardo yang tampak terkejut melihat Rendra datang dengan seorang wanita dan mereka saling bergandengan tampak begitu mesra.
"Iya sayang, kalau dia punya kekasih. Kita tidak mungkin kan meneruskan rencana kita..!"
"Papa sama mama lanjutkan saja rencananya, aku yakin perempuan itu bukan siapa-siapanya mas Rendra. Dia itu gak berkelas, dia itu cuma anak kost yang kerja di perusahaan adiknya mas Rendra. Gak mungkin mereka punya hubungan!" kata Hera bersikeras.
__ADS_1
Hera masih yakin kalau Arumi itu tidak mungkin benar-benar adalah calon istrinya Rendra. Sebelum mengejar Rendra, Hera juga sudah mencari tahu banyak hal tentang Rendra. Dia bahkan menyewa seorang detektif, dan selama seminggu ini, Rendra sangat jarang bertemu dengan wanita. Juga bukan dengan Arumi. Entah bagaimana Arumi bisa datang pagi tadi, Hera pun tak tahu.
Tapi Hera yakin kalau detektif nya itu tidak salah, dia sudah bayar mahal dan kata temannya detektif itu sangat bagus.
Laporan dari detektif itu, malah mengatakan kalau satu-satunya wanita yang dekat dengan Rendra dan anaknya Kevin, malah Sarah Ranisa. Asik ipar Rendra yang juga adalah istri dari Tristan. Kalau hal itu, Hera pun tidak terkejut lagi. Karena wajar saja seorang Tante dekat dengan keponakannya.
Berpikir seperti itu, Hera pun malah berencana mengungkap sandiwara mereka tersebut. Hera yakin, kalau Arumi cuma numpang eksis saja, biar dia terlihat berkelas, menurut Hera dia cuma numpang undangan di acaranya itu supaya dia bisa bertemu dengan orang-orang penting lalu berkenalan dengan pria kaya untuk merubah ekonomi hidupnya.
"Selamat malam tuan dan nyonya Ricardo. Selamat malam Hera, selamat ulang tahun!" kata Rendra begitu menghampiri Hera, dan kedua orang tua angkatnya.
"Selamat malam Rendra, tidak perlu formal. Ini bukan di kantor. Panggil saja om dan Tante!" kata tuan Ari Ricardo ramah.
"Selamat malam Rendra, oh ya.. siapa nona ini?" tanya Fitria Ricardo pada Rendra.
Mendengar apa yang dikatakan Rendra, Ari Ricardo dan Fitria pun saling pandang. Mereka juga langsung melihat ke arah Hera dengan tatapan bingung.
"Selamat malam om, Tante. Saya Arumi. Selamat ulang tahun untukmu bua... eh.. Hera, selamat ulang tahun Hera!" kata Arumi berusaha bersikap sopan.
Arumi bersikap sopan, karena tuan dan nyonya Ricardo juga sopan.
"Mas Rendra...!"
"Silahkan masuk ke dalam Rendra, Arumi. Silahkan!" kata Ari Ricardo menyela Hera yang akan mendekati Rendra.
__ADS_1
Rendra dan Arumi masuk ke dalam rumah, Ari Ricardo yang tadi menahan Hera langsung menunjukkan tatapan serius pada putri angkatnya itu.
"Hera, kamu dengar sendiri kan kalau Rendra bilang, wanita itu adalah calon istrinya. Papa minta kamu hentikan sikap konyol ku itu. Batalkan rencana mu untuk mengumumkan isi hatimu nanti setelah pemotongan kue, papa tidak mau terjadi keributan!" kata Ari Ricardo dengan tegas pada Hera.
"Tapi pa, aku yakin mereka bersandiwara!" bantah Hera yang masih tak terima.
"Jangan membuat papa malu, kalau kamu tahu mereka bersandiwara, seharusnya kamu tahu. Kenapa Rendra bersandiwara? alasannya hanya satu, dia tidak menyukaimu. Mengerti?" bentak Ari Ricardo pada Hera.
Melihat anak dan suaminya bertengkar. Fitria pun mencoba untuk menenangkan Ari Ricardo, suaminya itu.
"Pa, sudah pa. Di rumah kita banyak orang, banyak tamu, banyak yang dari kalangan terhormat, pejabat. Malu kalau bertengkar begini!" bujuk Fitria.
"Ma, kamu jelaskan pada anak angkat mu ini. Kalau seorang pria membawa wanita lain ke hadapannya dan mengenalkannya pada wanita tersebut sebagai calon istri, seharusnya dia paham, seharusnya dia Safar. Kalau pria itu sama sekali tidak perduli, tidak suka pada Hera. Jelaskan padanya! aku tidak mau sampai ada acara lain, selain yang sudah aku setujui. Tidak ada acara tambahan, kalau sampai terjadi, aku tidak akan berikan apapun yang dia minta lagi!" kata Ari Ricardo dengan tegas lalu masuk ke dalam rumah.
Ari Ricardo meninggalkan Hera dalam keadaan marah dan kesal. Sementara Fitria tampak mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Hera, mama minta tolong padamu ya nak. Kali ini turuti papa mu. Di dalam banyak orang penting, nama baik papamu akan jadi taruhannya kalau sampai terjadi hal yang tidak-tidak. Tolong ya Hera!"
"Tapi ma, aku yakin mas Rendra bersandiwara. Mana mungkin seleranya berubah begitu parah sampai dari Gisella Pricilla seorang model terkenal, cantik dan anggun. Dia menyukai wanita bar-bar gak berkelas macam Arumi itu. Gak mungkin ma!" Hera masih tetap bersikeras pada pendiriannya.
"Iya sayang, tapi masalah ini bisa kamu bahas dengan Rendra lain kali ya. Jangan di acara ini. Mama dan papa kan sudah mendukung mu, tapi kenyataannya Rendra datang dengan Arumi. Kita bisa apa lagi? masa iya kamu mau tetap mengutarakan isi hatimu pada Rendra, sementara di sampingnya ada calon istrinya. Apa kata orang nak?" tanya Fitria membuat Hera mendengus kesal.
***
__ADS_1
Bersambung...