
Tristan masih memandangi rangkaian bunga di atas meja yang ukurannya cukup besar itu. Ternyata definisi asisten pribadi yang pengertian dan selalu paham apa maksud Tristan selama ini hanya bisa di sematkan pada Richard mengenai pekerjaan. Kalau urusan cinta, Richard benar-benar buta. Maklum saja, Richard kan masih jomblo.
Richard sama sekali tidak memikirkan, kalau rangkaian bunga yang di inginkan bosnya itu untuk Sarah. Richard malah berpikiran kalau bosnya ingin Richard memberikan rangkaian bunga untuk Tristan. Benar-benar pikiran orang jomblo itu susah di harapkan.
Sedangkan Sarah malah terus memuji Richard yang begitu perhatian pada Tristan.
"Bagaimana kamu kepikiran memberikan rangkaian bunga pada bosmu. Itu hal termanis yang pernah aku lihat antara asisten pribadi dengan bosnya?" tanya Sarah pada Richard.
"Oh, itu bos yang memintanya!" jawab Richard jujur.
Sarah lantas mengernyitkan keningnya. Dia kemudian melihat ke arah Tristan yang tengah duduk sambil melipat tangannya di depan dada di atas tempat tidurnya.
Lalu kembali pada Richard yang tengah menyusun satu persatu bunga di dalam vas besar di atas meja.
Sarah kemudian terkekeh. Dia kini bisa mengerti kenapa sejak mendapatkan bunga dari Richard, wajah Tristan terlihat kesal.
"Hei Richard, apa kamu tidak tanya pada bos mu. Untuk siapa rangkaian bunganya?" tanya Sarah.
Richard lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, aku pikir dia sedang ingin bunga!" jawab Richard dengan ekspresi bingung.
Sarah masih terkekeh pelan.
"Tidak apa-apa. Lanjutkan saja menyusun bunganya!" kata Sarah sambil melirik sekilas Tristan yang wajahnya masih terlihat masam.
Sarah sepertinya sudah mulai paham sedikit demi sedikit tentang Tristan. Sarah bahkan tahu, kalau sebenarnya Tristan minta Richard membawakan bunga untuknya.
***
Di sebuah kamar hotel yang begitu mewah, di negara yang begitu indah dengan pemandangan yang luar biasa. Maldives, surga untuk para pelepas lelah dan penat dari segala kesibukan yang ada. Juga surga bagi para pasangan pengantin baru yang ingin berbulan madu. Dengan view menghadap ke arah laut yang begitu menenangkan. Seorang wanita terlihat masuk ke dalam kamar hotel itu dengan bahagia. Wajahnya terlihat begitu excited ketika memasuki ruang kamar hotel mewah itu yang bisa di bilang salah satu hotel yang paling mahal di negara tersebut.
Sambil melepaskan kacamata hitamnya, dia berlari membuka pintu kaca yang mengarah ke balkon kamar tersebut. Dia terlihat melihat ke sekeliling sebelum berlari kembali masuk ke dalam kamar. Dimana seorang pria juga baru saja memberikan tips untuk petugas hotel yang mengantarkan koper mereka masuk ke dalam kamar tersebut.
__ADS_1
"Wah, ini luar biasa mas. Kamu benar-benar pintar memilih tempat untuk kita menghabiskan sepuluh hari untuk bulan madu kita mas Jerry!" seru Inka yang sangat senang karena Jerry mengajaknya bulan madu ke Maldives.
Inka langsung memeluk lengan Jerry Alando yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Namun wajah Inka yang tersenyum senang itu langsung berubah menjadi bingung ketika Jerry Alando menepis pelukan tangan Inka di lengannya.
Dengan wajah serius, Jerry bahkan menatap Inka dari atas sampai ke bawah. Membuat wanita yang tengah bahagia itu bertambah bingung dan tak mengerti.
"Kamu pikir aku mengajakmu ke sini untuk berbulan madu?" tanya Jerry dengan nada dingin pada Inka.
Inka tercengang.
"Mas, kamu... kamu mau mengerjai aku ya? jangan begitu mas. Aku benar-benar takut!" kata Inka yang memang orangnya sangat penakut.
Terbiasa hidup di manja oleh semua orang karena merupakan anak tunggal dari keluarga Adhikara. Membuat Inka memiliki mental yang lemah.
Tapi mendengar istrinya bicara seperti itu, Alan malah terkekeh.
"Bagus kalau kamu takut. Itu memang tujuanku. Lantas kamu pikir untuk apa aku menyuruhmu meninggalkan ponselmu di Indonesia? apa kamu pikir karena aku tidak ingin liburan kita ini di ganggu oleh siapapun?" tanya Alan yang membuat Inka benar-benar semakin takut.
"Kalau itu yang kamu pikirkan, kamu salah besar. Aku sengaja membawamu kesini untuk menjelaskan kalau kamu...!"
Jerry Alando maju mendekati Inka, bahkan mendorong salah satu bahu Inka dengan telunjuknya. Membuat Inka yang tak pernah mendapatkan perlakuan kasar seperti itu menjadi sangat terkejut. Bahkan matanya sudah tampak berkaca-kaca.
Jerry Alando mendorong Inka hingga punggung wanita cantik itu menabrak dinding di belakangnya.
"Kamu sama sekali tidak pernah aku anggap ada dalam hidupku. Semua ini karena mu. Karena kamu, aku terpaksa pergi meninggalkan rumah. Kamu pikir kamu siapa? gara-gara kamu aku harus mengubur impian ku kuliah di luar negeri. Kamu ini wanita yang paling menyebalkan yang pernah ada di dunia ini, kamu tahu itu?" pekik Jerry Alando yang membuat air mata Inka mengalir deras tanpa dia sadari.
Inka bahkan sudah terisak. Dia tidak menyangka kalau Jerry Alando akan mengatakan kata-kata yang begitu menyakitkan ini padanya.
"Mas, hiks... hiks... tapi kalau mas Jerry tidak mencintai ku. Kenapa mas Jerry setuju menikah denganku? kenapa mas Jerry membawaku kemari?" tanya Inka sambil terisak.
Jerry Alando malah tampak semakin kesal ketika melihat Inka menangis seperti itu.
"Masih bertanya? karena kamu anak kesayangan orang tuamu, yang banyak berjasa untuk ayah dan ibuku. Maka aku harus mengikuti kemauan mu. Kenapa juga kamu memilih menikah denganku, hah... aku sudah bilang aku tidak pernah menyukai mu kan! Kenapa??" tanya Jerry dengan suara yang makin lama makin meninggi.
__ADS_1
Tatapan mata Inka benar-benar seperti seorang yang sangat terluka. Tapi dia masih berkata.
"Karena aku mencintaimu mas, sejak kecil aku mencintaimu...!"
Brakkkkk
Jerry Alando memukul dinding di samping Inka dengan tangan kirinya.
"Karena itu hidupku menderita, paham!! gara-gara cintamu itu aku tidak bisa menjangkau impianku....!"
"Mas... mas mau kuliah di luar negeri? aku akan meminta pada ayah dan ibu...!"
"Diam!!"
Pekik Jerry Alando membuat Inka langsung menutup matanya dan mulutnya dengan rapat.
Suara tinggi Jerry Alando benar-benar membuat jantung Inka nyaris mencelos keluar dari tempatnya.
Seumur hidupnya, belum ada yang pernah membentak Inka seperti itu. Inka memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Inka terus menangis, dia tidak tahu kalau pernikahan yang dia impikan malah jadi seperti ini. Dia tidak menyangka pria yang paling dia dambakan malah orang pertama yang membentaknya dan berkata kasar padanya seperti ini. Hati Inka benar-benar hancur berkeping-keping.
"Kamu pikir itu tujuanku? kamu salah! aku bahkan sudah tidak membutuhkan gelar itu lagi!"
"Mas... tolong jangan seperti ini. Kita baru menikah...!"
"Lalu aku harus bagaimana? memanjakan mu seperti kedua orang tuamu. Menyayangi mu seperti Raes? mimpi saja kamu!!" pekik Jerry Alando yang langsung meninggalkan kamar hotel itu.
Meninggalkan Inka yang menangis terduduk di lantai dan bersandar pada dinginnya dinding hotel.
"Ibu, ayah... semua tidak sesuai impianku. Hiks... mas Jerry, kenapa kamu bersikap seperti ini padaku... hiks!" lirih Inka sambil menangis pilu.
***
Bersambung...
__ADS_1