
Sarah sudah kembali ke kantor, saat dia tiba di lobby. Banyak sekali karyawan dan karyawati yang sedang berkerumun membicarakan sesuatu yang terdengar cukup keras. Tapi saat sarah berjalan mendekati mereka, mereka langsung diam dengan tetapan yang sama sekali tidak bersahabat pada Sarah.
Sarah cukup bingung, tapi dia juga tidak ingin terlalu memikirkan hal tersebut karena banyak pekerjaan yang menunggunya di ruang divisi keuangan.
Tapi baru Sarah sampai di depan ruang divisi keuangan, dia sudah melihat Arumi sahabatnya itu bertengkar dengan seorang karyawan lain dari divisi lain.
Arumi bahkan nyaris menjambak rambut wanita yang dia kenal sebagai salah satu karyawati yang biasanya suka cari perhatian pada Tristan, atau karyawan yang punya jabatan tinggi dan gaji besar.
Di sana, bukan hanya ada Arumi dan karyawati bernama Yanti itu saja. Tapi mereka semua yang ada di sana hanya menonton apa yang terjadi antara kedua wanita tersebut.
Sarah yang tak ingin sahabatnya terlibat dalam masalah pun segera menghampiri Arumi dan menariknya menjauh dari Yanti.
"Arumi, kamu kenapa? ada apa ini?" tanya Sarah penasaran.
"Sarah, bagus kamu datang. Katanya kamu kan sekarang yang punya perusahaan ini. Buruan pecat ni perempuan yang mulutnya bau bawang... eh mulutnya ember banget gak ada filternya!" geram Arumi yang langsung menoleh ke arah Sarah.
Sarah yang mendengar apa yang dikatakan Arumi tersebut jadi sangat bingung.
"Aku?" tanya Sarah sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Yang punya perusahaan ini? ya bukan lah? ayah Arya yang punya!" jawab Sarah kemudian.
"Tuh kamu dengar sendiri kan, dasar mulut bau bawang!" ketus Arumi pada Yanti.
"Iya, awalnya memang tuan Arya yang punya. Terus kamu nikahin anaknya, dan setelah itu kamu depak tuan Tristan dan ambil semua hartanya kan. Termasuk perusahaan ini, aku sih gak sudi ya, kerja sama perempuan licik kayak kamu Sarah. Tega banget sih kamu ambil semua harta tuan Tristan, dia sampai kerja di kafe loh dekat rumah sakit Medika yang ada di jalan Bawal itu. Terus tadi pagi tuan Richard kasih pengumuman kalau kamu yang jadi CEO baru perusahaan ini, apa namanya kalau kamu bukan pengeretan!" pekik Yanti yang begitu berapi-api.
Setelah mendengar penjelasan Yanti yang panjang lebar, luas dan segala macamnya itu. Karyawan lain yang ada di tempat itu tampak saling berbisik-bisik membicarakan Sarah. dan tatapan mereka jelas sangat tidak baik pada Sarah.
"Gak usah ngarang kamu ya! mana mungkin Tristan Hutama kerja di kafe. Ngarangnya pakai logika dong!"
Arumi yang memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hanya bisa terus membela Sarah. Karena menurut pemikirannya juga, tidak mungkin hal itu terjadi.
__ADS_1
"Aku gak ngarang, pagi tadi aku beli capuccino di cafe itu aku pikir aku salah lihat, tapi ternyata itu memang benar tuan Tristan, dia pakai pakaian pelayan terus dia pakai celemek terus di bawah nampan dia ngasih pesanan cappucino aku. Kalian bisa pergi ke sana kalau masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan!" kukuh Yanti.
Arumi tampak semakin gemas karena Yanti masih terus bicara seperti itu dan memojokkan Sarah.
"Hih, aku benar-benar sudah kehabisan kesabaran. Aku robek ya mulut kamu...!"
"Arumi!"
Baru saja Arumi akan maju dan menarik Yanti, Sarah menghentikan Arumi dengan menarik tangan Arumi.
"Eh Sarah kenapa di tahan sih, aku mau sumpel mulut ember nih orang! dia fitnah kamu loh, dia bilang Tristan jadi pelayan kafe" kata Arumi geram.
"Arumi ikut aku!" kata Sarah yang mengajak Arumi pergi ke ruangan Richard.
Setelah kepergian Arumi dan Sarah, banyak karyawan yang saling berbincang membicarakan apa yang di katakan Yanti tadi.
"Ya ampun, gak nyangka ya Sarah yang kayaknya baik banget gitu, sekarang gila harta. Dia sampai rebut perusahaan milik suaminya sendiri, ih gak tahu diri banget ya, sudah di angkat dari hidup susah di panti. Malah bikin suaminya sendiri hidup susah, sampai harus jadi pelayan cafe!" kata salah seorang yang sejak tadi mendengarkan pertengkaran Arumi dan Yanti.
"Yang gak punya hati tuh ya sih Sarah, benar-benar deh tuh orang. Kok jahat banget sih jadi orang!" kata Yanti menambahkan bumbu pada ketidaksukaan pada karyawan pada Sarah.
Arumi yang mengikuti langkah Sarah, sudah tak sabar untuk bicara pada Sarah.
"Sarah, ini gimana sih? kenapa kamu larang aku marah sama si Yanti, yang mulutnya bau bawang itu sih?" tanya Arumi.
"Karena apa yang di bilang itu benar Arumi!" kata Sarah.
Arumi langsung menarik tangannya yang di pegang oleh Sarah.
"Benar gimana? kamu benar-benar rebut semua harta Tristan, itu gak mungkin kan? mau kamu sendiri yang bilang begitu juga aku gak bakalan percaya!" kata Arumi tegas, wajahnya terlihat sangat serius.
Sarah menghela nafas lega. Memang tidak ada yang mengerti Sarah dengan baik selain Arumi. Begitu pula sebaliknya.
__ADS_1
"Aku memang tidak ambil apapun dari Tristan, tapi Tristan memang kerja di cafe!" kata Sarah menjelaskan.
Arumi tak bisa untuk tidak terkejut mendengar hal itu.
"Hah, cubit aku coba. Aku yakin aku mimpi. Tristan jadi pelayan cafe? wah, jangan-jangan dia mau nyaingin my bias ini. Gak bisa, pokoknya aku gak percaya kalau gak lihat pakai ini mata yang masih nempel di kepala aku ini!" kata Arumi bersikukuh.
"Oke, nanti kamu bakalan aku ajak kesana. Tapi aku harus bicara dulu sama Richard!" kata Sarah.
Sarah lantas mengetuk pintu ruang kerja Richard, lalu dia masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Arumi.
"Nona Sarah!"
"Richard, aku sudah bilang kan! aku tidak mau jadi pemimpin perusahaan ini. Aku tidak mampu!" kata Sarah pada Richard.
"Tapi nona, ini adalah perintah tuan besar. Mana aku berani membantah...!"
"Itu kalau Sarah-nya mau, ini kan enggak. Kok maksa sih. Lagian kamu tahu gak boneka tabung joget, gara-gara pengumuman kamu tadi pagi, terus gara-gara si cewek bau bawang itu lihat Tristan jadi pelayan cafe. Nama Sarah yang jelek pada akhirnya, sana kamu keluar supaya kamu tahu kalau Sarah di cap jadi perebut harta Tristan!" kesal Arumi.
Wajah Richard benar-benar sangat terkejut.
"Oh emji... yang bener?"
Plak
Sebuah tamparan cantik lantas mendarat sempurna di lengan Richard. Pelaku nya tentu saj adalah Arumi.
"Oh emji... oh emji... sekali lagi bilang oh emji... aku geprek nih!" gertak Arumi membuat Richard meringis ketakutan.
***
Bersambung...
__ADS_1