Tega

Tega
Bab 196


__ADS_3

Melihat Widya yang terduduk lemas di lantai sambil terisak, lalu Damar Adhikara yang terlihat sangat marah pada Mulya. Inka perlahan bangun dari posisi tidurnya. Dengan wajah pucat, wanita muda itu lantas menyibak selimut pasiennya yang menutupi sebatas dada lalu berusaha untuk duduk dan bertanya pada ayahnya.


"Ayah... ada apa ini?" tanya Inka bingung.


"Jelaskan pada anakmu ini Mulya! apa yang sudah kamu lakukan padanya dan anak kandungku?" bentak Damar lagi.


Widya hanya bisa menjaga, dia tidak bisa membayangkan apa yang sudah terjadi pada putri kandungnya. 2 Tahun Tari hidup bersama mereka, tapi Widya bahkan mengajari Tari saat itu memanggilnya nyonya.


Tangis Widya pecah, ketika dia ingat saat Tari menginginkan makanan milik Inka, Widya bahkan hanya memberinya satu suap saja, agar Inka tidak kurang.


Bahkan Widya ingat saat bayi, Widya memberikan pada Tari baju bekas pakai Inka.


Widya langsung bangun dan mendorong Mulya yang sejak tadi hanya berdiri mematung di tempatnya.


"Jahat kamu Mulya, kenapa kamu melakukan semua ini? apa salah kami padamu. Dimana anakku??" pekik Widya histeris.


"Ibu... aku di sini!" lirih Inka yang masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Damar Adhikara menoleh ke arah Inka. Anak yang sudah dia manjakan, dia perlakukan selayaknya putri raja. Ternyata anak itu menggantikan tempat anak kandungnya.


"Kamu bukan anak kandung kami Inka, ibu mu yang kejam ini telah menelantarkan anak kami. Katakan dimana Tari, Mulya!" tegas Damar Adhikara. Bukan seperti bertanya, tapi sudah seperti memerintahkan kepada Mulya untuk segera memberitahu di mana ada kandung mereka.


"Katakan, dimana Tari!" kata Widya lirih.


"Ta.. tari di culik nyonya, di taman bermain itu!" kata Mulya yang masih terus berbohong menutupi keberadaan anak kandung Damar Adhikara yang sebenarnya.

__ADS_1


"Pembohong, kamu pasti tahu dimana Tari kan, keterangan yang kamu berikan pada polisi waktu itu juga pasti bohong kan?" tanya Widya terus mendorong Mulya.


"Ibu...!" lirih Inka yang sedih melihat Widya histeris seperti itu.


"Be.. benar tuan. Tari di culik!" kata Mulya tetap bersikukuh.


Damar yang merasa akan percuma saja bicara pada manusia tidak punya hati di depannya itu lantas menghubungi polisi. Damar juga sudah menghubungi pengacaranya dan meminta kasus ini di usut tuntas.


Beberapa saat kemudian polisi datang, dan menjemput Mulya untuk di bawa ke kantor polisi atas tuntutan penipuan dan penculikan.


Inka terus melihat ke arah Mulya yang di bawa paksa dua petugas polisi wanita.


"Ibu, ayah! kenapa bini Mulya di bawa polisi?" tanya Inka lagi.


Inka yang sudah mengerti masalah sebenarnya pun hanya bisa menangis. Mengetahui kalau dirinya adalah anak kandung Mulya, pembantu yang selama ini merawatnya membuat Inka tak bisa menerima hal itu.


Inka terus menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak... tidak mungkin. Aku bukan anak bibi Mulya. Tidak mungkin, aku anak ayah dan ibu!" teriak Inka histeris.


Widya yang memang juga terlanjur sayang pada Inka, terlihat sedih melihat Inka histeris seperti itu. Tapi Damar Adhikara langsung mengajaknya untuk keluar dari ruangan rawat Inka ketika pada perawat sudah datang.


"Ayah, kasihan Inka!" lirih Widya.


"Dia tidak tahu apapun, dia juga pasti tidak ingin...!"

__ADS_1


"Kamu sudah memberikan seluruh kebahagiaan yang bisa kamu berikan pada Inka, yang seharusnya milik putri kandung kita. Coba kamu pikirkan sekarang bagaimana nasib putri kandung kita, aku bahkan tidak yakin dia benar-benar di culik oleh orang dengan ciri-ciri yang di sebutkan oleh Mulya itu. Aku bahkan berpikir Mulya sudah membuangnya, bisa kamu bayangkan seperti apa putri kita, bisa kamu bayangkan bagaimana kehidupannya di jalan, sendirian, apakah dia masih hidup atau bahkan sudah...!" Damar Adhikara tak bisa melanjutkan perkataannya.


Damar Adhikara benar-benar emosi. Dia tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Mulya. Bahkan seekor 4njing pun akan setia pada majikan yang memberinya makan. Mulya bahkan sudah di beri makan, di beri pekerjaan, di beri rumah di beri kepercayaan di anggap seperti keluarga, di perlakukan seperti keluarga. Tapi malah melakukan hal yang begitu kejam dan tega pada keluarga Damar Adhikara.


Widya memejamkan matanya, membuat air mata semakin deras mengalir ke seluruh wajahnya.


"Tari, nak... dimana kamu nak!" lirih Widya sangat sedih.


"Kita ke kantor polisi saja sekarang Bu!" kata Damar Adhikara yang ingin pergi ke kantin polisi. Damar khawatir, kalau dia yang mengintrogasi Mulya sendiri, dia akan hilang kesabaran dan lepas kendali.


Widya langsung menyeka air matanya dan mengangguk. Dia juga sangat ingin Mulya mengakui semuanya. Dia ingin bertemu dan memeluk putri kandungnya. 2 tahun bersama namun dia malah menomorduakan anak kandungnya sendiri. Lalu 24 tahun dia malah memberikan kasih sayang yang seharusnya milik Tari pada anak Mulya. Widya benar-benar sangat sedih dan begitu merasa bersalah.


Sementara itu di kantor polisi, Mulya tak juga mau mengatakan yang sebenarnya. Dia tetap bersikeras dengan keterangan yang sebelumnya dia berikan pada polisi, pada kasus 24 tahun lalu tentang laporan kehilangan putrinya di taman bermain di Jakarta.


Bahkan benar-benar sama persis. Keterangan pria yang di sebutkan juga sama persis.


"Sebaiknya anda jujur pada kami nyonya Mulya, bukti tes DNA itu sudah cukup mengerat anda mendekam di penjara sampai usia senja anda. Kooperatif lah, katakan yang sejujurnya, dimana and tinggalkan Tari, maka mungkin saja tuan dan nyonya Adhikara akan meringankan tuntutan mereka terhadap anda!" kata salah satu petugas polisi wanita yang sudah mendapatkan semua keterangan dari pengacara Damar Adhikara.


"Sa... saya sudah katakan yang sebenarnya. Tari memang bukan anak saya, tapi dia benar-benar di culik waktu itu. Sa... ya tidak tahu siapa yang menculiknya!" kata Mulya sama persis dengan apa yang dia katakan sebelumnya meskipun petugas polisi wanita sudah bolak-balik bertanya hal yang sama meski dengan kalimat yang berbeda.


'Sampai matipun, aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Semua orang tahunya Inka Prastiwi lah anak tunggal Damar Adhikara dan Widya. Kalau anak kandung mereka tidak ketemu, Inka tetap akan menikmati semuanya. Aku tidak akan pernah mengaku!' batin Mulya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2