
"Tidak mau memelukku?" tanya Tristan yang merentangkan kedua tangannya lebar pada Sarah.
Sarah yang memang sangat cemas pada suaminya langsung memeluk Tristan. Tapi tetap dengan hati-hati. Karena seperti pesan dokter tadi, kalau Tristan masih belum bisa banyak bergerak karena operasi yang di jalani tadi.
"Jangan seperti itu lagi ya mas, ingat kamu itu mau jadi ayah. Aku sangat takut mendengar kamu tertembak tadi!" kata Sarah meluapkan apa yang ada di dalam hatinya.
Kecemasannya terhadap keselamatan Tristan saat dia mendengar kalau suaminya itu tertembak dan dalam keadaan kritis. Kalau Sarah tidak ingat dia sedang mengandung. Mungkin saja Sarah akan menjadi sangat histeris saat itu.
Tristan lantas mengusap wajah Sarah dengan lembut.
"Tidak akan terjadi lagi sayang, karena si muka plastik itu tidak akan lagi mengganggu kita lagi. Dia sudah di amankan di kantor polisi, dan aku yakin dia akan mendekam di sana dalam waktu yang lama. Dan dia benar-benar pantas mendapatkannya. Kamu tahu tidak, apa reaksinya ketika aku katakan tentang ibunya yang hidup menderita di rumah susun?" tanya Tristan pada Sarah.
Sarah yang tak lagi mengerti kenapa Alan sampai terus berbuat nekat dan tak tertolong pun menggelengkan kepalanya. Dulu Alan tidak seperti itu, tapi siapa yang bisa memastikan seseorang itu tidak akan berubah atau tidak karuan suatu hal yang terjadi di hidupnya.
Sarah dulu memang mengenal Alan sebagai pribadi yang baik dan pekerja keras, kalau soal perhatian, tidak perlu lagi di ragukan seperti apa perhatiannya Alan dulu. Tapi semakin kesini, Sarah sungguh tak mengenali Alan yang dulu lagi. Tak bisa menebak apa isi kepala dan isi hati pria yang empat tahun itu menjadi kekasihnya dulu.
"Aku dari kecil tidak merasakan kasih sayang seorang ibu, setelah aku mendengar apa yang terjadi pada ibunya si muka plastik itu. Aku yang bukan anaknya saja menjadi sedih. Tapi yang aku heran, saat aku menceritakan semuanya tentang ibunya pada si muka plastik, tentang ibunya yang terpaksa tinggal di rumah susun dan hidup susah. Bahkan untuk melanjutkan hidupnya, ibunya itu harus bekerja sebagai pencuci pakaian para tetangga. Dan itu karena ulahnya, dia malah terkesan tidak perduli dan mengatakan itu bukan urusanku. Aku pikir orang itu benar-benar sudah tak punya hati!" kata Tristan yang masih ingat dengan ucapan Jerry Alando dan dia masih sangat kesal saat mengingat apa yang di katakan oleh Jerry Alando itu.
Terus terang saja Sarah ikut merasa sedih mendengar cerita dari Tristan. Bukan simpati dan merasa sedih untuk Alan. Tapi Sarah kasihan pada ibunya Alan. Sudah tua, harus hidup susah karena perbuatan anak yang dia rawat dan kasihi sejak kecil. Apalagi setelah mendengar cerita dari Tika. Lalu Yumi juga pernah mengatakan pada Tika, kalau anak-anak Steven dan Anika yang lain juga terkesan lepas tangan dan tak mau tahu kehidupan kedua orang tuanya yang sedang susah.
Padahal saat Steven dan Anika kaya raya, semua anaknya juga hidup senang. Tapi seperti itulah sifat manusia. Ada yang terbiasa hidup susah, maka ketika dia menemukan sedikit kebahagiaan dia bahkan cenderung ingin berbagi dengan yang lain yang juga hidup susah. Tapi ada beberapa orang yang meski hidupnya selalu senang, tapi tidak ingat pada yang hidupnya susah. Apalagi harus membantu yang mengalami kesulitan, ada beberapa dari orang-orang itu menganggap nasib sial bisa menular. Jangankan membantu, melihat untuk sekedar bersimpati saja tidak mau. Padahal kan masih ada ikatan keluarga. Benar-benar sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Semoga saja penderitaan Tante Anika dan om Steven lekas berakhir ya mas. Apa bisa harta yang di curi oleh mas Alan dari keluarganya bisa kembali pada keluarganya lagi mas?" tanya Sarah yang tak mengerti dengan semua itu.
Tapi Sarah berharap apa yang di tanyakan pada suaminya itu bisa terjadi. Karena Sarah meskipun tidak terlalu kenal pada Steven dan Anika. Tapi dia tidak mau ada orang tua yang hidup sulit dan susah sementara mereka duku ketika muda sudah berusaha keras untuk mendapatkan semua hal yang mereka miliki dan di curi, di tipu oleh Alan.
Tristan lantas mengangguk.
"Bisa, tapi butuh waktu. Butuh proses!" jelas Tristan.
Sarah lantas mengangguk paham.
"Syukurlah kalau begitu!" kata Sarah yang merasa sedikit lega.
Sementara itu di dalam kantor polisi, Jerry Alando masih terus berusaha untuk bisa bebas. Dia mengatakan pada para petugas di sana berharap ada satu orang saja yang memihak padanya dan akan dia beri imbalan sangat besar.
"Aku akan sangat malu, jika menerima uang hasil mencuri dari seorang ibu untuk di berikan pada ibuku!" kata petugas tersebut.
Jerry Alando sangat kesal mendengar hal tersebut. Jerry Alando bahkan meninju dinding penjara tempatnya di tahan sampai berkasnya P21 dengan kuat membuat buku tangannya menjadi merah dan ada juga yang memar.
Tahanan yang ada satu ruangan bersama Jerry Alando terlihat kesal melihat ulah orang baru yang masuk ke satu sel bersama mereka itu.
"Heh, bisa diam tidak? menyebalkan sekali!" kata salah seorang tahanan yang tubuhnya lebih dengan gambar permanen alias tattoo.
__ADS_1
Jerry Alando yang tak mau menggubris orang-orang macam itu pun tak menghiraukan perkataan tahanan dengan lukisan permanen di seluruh tubuhnya itu.
Tapi hal itu justru membuat para tahanan yang merasa lebih senior di tempat itu merasa harus memberi pelajaran kepada Jerry Alando karena mereka merasa di acuhkan oleh junior mereka.
Satu orang dengan kepala plontos dan anting besar dan lebar di kedua telinganya lantas menarik baju Jerry Alando dengan kuat. Bukan hanya itu saja, Jerry Alando bahkan di angkat sedikit dan di banting ke lantai.
Brukk
Jerry Alando menggeli4t kesakitan, punggungnya terasa remuk.
Jerry Alando juga tak bisa bangun dengan cepat. Tapi bukannya melerai, tahanan lain di ruangan itu malah tertawa dan bertepuk tangan seperti sedang menyaksikan sebuah tontonan yang menyenangkan.
Sadar dirinya akan menjadi bulan-bulanan kalau tidak melawan. Jerry Alando bangkit dan melawan pria berkepala plontos dan beranting besar itu.
Tapi sayang, pria yang adalah teman dari pria yang seluruh badannya di gambar dengan gambaran permanen dengan berbagai macam gambar aneh dan ajaib itu lebih dulu menghadang Jerry Alando.
Dia malah di cekal, dan di jadikan samsak oleh pria berkepala plontos. Pria itu bahkan baru melepas Jerry Alando ketika Jerry Alando sudah mengeluarkan darah dari beberapa titik di wajahnya yang sudah bengkak, bengep, memar dan tak tampan lagi pastinya.
"Rasakan itu!"
Brakkk
__ADS_1
***
Bersambung...