
Sarah yang awalnya terkejut langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum.
"Hai, selamat pagi. Aku mau buat sarapan, tapi tidak ada apapun di dapur. Aku mau belanja...!"
"Ck... aku akan ambil dompetku dulu!" sela Tristan yang langsung turun dari kursi yang tadi dia duduki. Meski agak sempoyongan, Tristan masih berusaha untuk berdiri dengan benar.
Sarah yang mendengar hal itu pun merasa terkejut lagi. Padahal niat Sarah bukan mau minta uang untuk belanja, tapi dia ingin tahu password kunci pintu apartemen. Karena dia tidak bisa keluar untuk belanja karena tidak bisa membuka pintunya.
Tapi mendengar Tristan yang langsung ingin mengambil dompetnya ketika Sarah ingin belanja. Sarah merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya.
'Sebenarnya dia memang tidak seburuk apa yang aku pikirkan selama ini. Apa dia ini punya kepribadian ganda ya?' tanya Sarah dalam hati yang bingung sendiri dengan sikap Tristan.
Tristan nyaris terjatuh saat berusaha berjalan. Biasanya jika dia minum-minum begini jam sebelas atau dua belas siang dia baru bangun.
"Eh...!"
Sarah menangkap Tristan yang nyaris akan jatuh.
"Duduklah di sini!" kata Sarah sambil memapah Tristan menuju sofa panjang yang ada di ruangan itu.
"Aku bukan mau minta uang padamu. Aku punya uang sendiri, aku hanya ingin tahu password dari kunci pintu apartemen mu ini!" jelas Sarah.
Tristan yang masih memegang kepalanya yang terasa pusing pun, mendengus kesal.
"140200" kata Tristan.
"Oh baiklah. Kamu tidur saja lagi. Nanti begitu sarapannya siap. Aku akan membangunkan mu!" ucap Sarah yang langsung meninggalkan Tristan yang kembali memejamkan matanya.
Sarah pun keluar dari apartemen Tristan dan pergi berbelanja ke minimarket. Sambil mengambil beberapa bahan makanan, Sarah pun berpikir tentang sesuatu.
"Apa manusia batu itu bisa makan semua makanan, atau ada makanan yang tidak bisa di makan? aku tanya siapa ya?" gumam Sarah sambil melihat-lihat berbagai jenis jamur yang ada di display minimarket itu.
"Oh iya, Richard!" kata Sarah lalu segera mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Beberapa saat kemudian,
"Halo nona, bukankah ini terlalu pagi untuk bangun. Seharusnya pengantin baru itu...!"
__ADS_1
"Apa yang kamu bicarakan Richard? Jangan buat otakmu terkontaminasi dengan hal-hal yang tidak sepantasnya, kamu masih di bawah umur ha ha ha!" sindir Sarah yang sudah mulai terbiasa dan akrab dengan Richard.
"Oh emji nona, apa katamu. Jangan katakan kalian benar-benar berduel ya?" tanya Richard penasaran.
"Tidak ada hal seperti itu, aku yakin kamu juga sudah memasukkan dua poin terakhir tambahan di perjanjian pernikahan ku dengan bosmu kan? jadi jangan berpikir dan bertanya yang tidak-tidak!" tegas Sarah.
"Oh emji, aku kan hanya berharap akan ada Tristan dan Sarah junior saja, apa itu dosa. Astaga!" gerutu Richard.
"Sudahlah Richard, aku hanya ingin bertanya. Apa bos mu punya alergi terhadap makanan atau minuman tertentu? aku sedang belanja. Ada tidak?" tanya Sarah.
Richard terdiam sejenak, tidak ada suara sama sekali. Mungkin dia sedang berpikir. Tapi karena Richard cukup lama terdiam, Sarah pun berkata lagi.
"Kamu tidak tidur kan Richard?" tanya Sarah.
"Oh emji, nona. Tentu saja tidak. Selama ini bos tidak makan tauge nona, em... selain itu dia makan semua sayuran. Oh ya, bos tidak bisa makan makanan pedas dan berminyak. Bos punya radang nona. Jangan beri dia es atau semacamnya!" jelas Richard.
Mendengar apa yang dikatakan Richard, Sarah jadi ingat saat dia ke mini bar di lantai dua apartemen Tristan tadi, dia melihat Tristan minum minumannya dengan es batu. Terlihat wadah es batu di sebuah tempat di atas meja tadi.
"Tapi dia minum dengan es Richard, apa itu tidak masalah?" tanya Sarah yang mulai cemas.
"Oh kalau begitu baiklah Richard. Aku akan segera pulang dan melihatnya!" ucap Sarah yang langsung memutuskan panggilan telepon.
Sarah yang merasa dia harus melihat keadaan Tristan pun segera membayar belanjaannya di kasir dan segera pulang ke apartemen milik Tristan.
Tak butuh waktu lama, Sarah pun tiba di apartemen. Dia meletakkan belanjanya di dapur. Lalu bergegas naik ke lantai dua untuk melihat keadaan Tristan.
Dan benar saja, ketika Sarah memeriksa Tristan ternyata pria itu memang sepertinya sedang mengigau. Dan ketika Sarah memeriksa kening Tristan, benar saja keningnya panas. Tangan Sarah pun pindah ke leher Tristan, bahkan lehernya suhunya lebih panas dari dahinya.
"Dia benar-benar demam!" ucap Sarah.
Tapi setelah beberapa saat setelah Sarah membenarkan posisi tidur Tristan, Sarah mendengus kesal karena dalam igauan Tristan itu, dia menyebutkan beberapa kali nama Shanum.
"Ck... dalam keadaan seperti ini saja. Yang dia ingat hanya wanita itu. Pasti wanita itu sangat berarti untuk manusia batu ini!" gumam Sarah.
Sarah langsung turun lagi ke lantai satu dan menuju ke dapur. Dia mengambil alat kompres, setelah mencarinya akhirnya dia menemukannya.
Sarah kembali lagi ke lantai dua, dan mengompres kening Tristan. Sarah sampai lupa kalau dia tadi sangat merasa lapar karena khawatir pada Tristan.
__ADS_1
Krucuk... krucuk..
Dan akhirnya perut Sarah berbunyi. Sarah pun memutuskan turun ke lantai satu lagi untuk masak dan membuat sarapan untuknya.
Di dapur Sarah memasak nasi dan lauk pauk juga sayuran dari bahan makanan yang dia beli. Stelah selesai memasak, Sarah pun sarapan sendiri. Setelah sarapan dia kembali melihat kondisi Tristan lagi.
Panasnya masih sama, Sarah pun memutuskan untuk menunggui Tristan dan terus mengganti kompresnya. Sarah juga sudah membawakan sarapan untuk Tristan, lengkap dengan air madu hangat yang biasanya dia suka minum kalau Sarah merasa tenggorokannya terasa tidak nyaman.
Hampir satu jam kemudian, Tristan pun mulai membuka matanya perlahan. Dia melihat Sarah sedang menopang dagu menunggunya sadar.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga!" kata Sarah lega.
Tristan pun berusaha untuk bangun, tapi saat dia bangun kain kompres di dahinya terjatuh ke tangannya.
"Apa ini?" tanya Tristan mengambil kompres yang ada di tangannya dan meletakkannya di sandaran sofa.
"Itu kompres, suhu tubuhnya tadi naik. Kamu demam. Aku mengompresnya agar turun!" jawab Sarah.
"Ck... tidak praktis. Di kamarku ada obat yang biasa aku minum!"
"Mana aku tahu, sudahlah sarapan dulu. Ini, aku sudah menyiapkannya untukmu. Setelah itu, kamu minum air madu ini agar tenggorokanmu lebih nyaman!" kata Sarah menyodorkan nampan berisi makanan pada Tristan.
"Apa ini enak?" tanya Tristan.
Sarah pun tersenyum kesal.
"Coba saja dulu, kalau tidak enak kamu bisa pesan makanan online, atau pesan di restoran favorit mu!" kata Sarah sedikit kesal.
Meski sedikit ragu, Tristan lalu memakan masakan Sarah itu. Awalnya hanya satu suap, tapi lama-lama tanpa komentar apapun, makanan di piring itu bahkan tinggal setengah.
"Lumayan!" kata Tristan.
'Aku tidak menyangka, wanita freak ini pintar memasak!' batin Tristan yang sebenarnya sangat menyukai masakan Sarah.
***
Bersambung...
__ADS_1