
Di dalam apartemennya, Tristan sedang berada di mini bar yang ada di lantai dua apartemennya. Pria tampan yang arogan itu saat ini sedang dalam keadaan setengah mabuk.
Semua pekerjaannya hari ini sangat berantakan. Kedua meeting nya berakhir buruk. Tak ada satupun kerja sama yang berhasil hari ini.
Tapi satu hal yang dia sadari adalah, tanpa Richard. Dia benar-benar kesulitan menangani segala sesuatunya. Tapi bukannya akan menghadiahi Richard sesuatu saat kembali atau berpikir akan memberikan asisten pribadi nya itu bonus tambahan. Tristan malah berpikiran untuk tidak pernah lagi mengijinkan Richard untuk cuti.
Lalu pikiran Tristan pun beralih pada Sarah, wanita yang entah kenapa datang dalam hidupnya. Wanita yang pertama kali menamparnya saat pertama kali bertemu, dan tiba-tiba saja akan jadi istrinya dalam satu minggu lagi.
"Semua ini gara-gara wanita freak itu! awas saja dia nanti. Begitu dia menginjakkan kakinya di apartemen ini. Jangan harap dia menemukan ketenangan sedetik saja dalam hidupnya!" gerutu Tristan yang sudah mulai kehilangan kesadarannya dan tertidur dengan menyandarkan kepalanya di meja mini bar.
Sementara itu di rumah sewa panti asuhan.
"Hatciuu..!"
"Hatciuu..!"
Sarah mengusap hidungnya yang mendadak bersin-bersin.
"Ada apa nak?" tanya bunda Tiara.
Saat ini Sarah dan bunda Tiara sedang merapikan pakaian para adik panti yang baru saja selesai di lipat dan akan di simpan di keranjang untuk esok harinya akan di setrika karena besok hari minggu.
"Tidak tahu bunda, mendadak jadi bersin-bersin begini. Apa ada yang sedang memakiku di belakang ya?" tanya Sarah yang mengingat mitos yang pernah dia dengar.
Kalau kita bersin-bersin tapi tidak dalam keadaan kedinginan, banyak debu, atau sedang flu. Maka satu-satunya hal yang kemungkinan menjadi penyebabnya adalah ada seorang yang sedang membicarakan hal tidak baik tentang kita.
"Itu mitos nak, mungkin debu di pakaian itu yang membuatmu bersin. Tadi kan jemurannya di angkat setelah Gina dan Ulfa menyapu. Mungkin terkena debu!" kata bunda Tiara.
Sarah pun manggut-manggut sambil terus menyelesaikan pekerjaannya.
"Minggu depan pekerjaan ini sudah akan di kerjakan Ulfa ya nak, kamu sudah akan pergi ke rumah suamimu...!"
Apa yang dikatakan bunda Tiara itu terhenti, seiring air mata yang mengalir di pipinya. Dan hal itu membuat Sarah meletakkan pakaian yang belum di lipat ke tumpukan di depan mereka. Lalu Sarah mendekati bunda Tiara dan memeluknya.
"Bunda, sepertinya tidak akan begitu. Karena Sabtu dan Minggu aku akan menginap di sini!" kata Sarah sambil mencium pipi bunda Tiara.
Bunda Tiara sedikit terkejut mendengar apa yang Sarah katakan.
"Hah, bagaimana bisa?" tanya bunda Tiara.
"Tentu saja, Tristan sudah mengijinkannya. Setiap akhir pekan aku boleh menginap di panti!" ujar Sarah lagi meyakinkan bunda Tiara.
Senyuman merekah langsung tergambar di wajah tua bunda Tiara.
__ADS_1
"Nak Tristan baik sekali ya nak, dia sampai mengijinkan hal seperti itu. Kamu sungguh beruntung bisa menikah dengan pria pengertian seperti nak Tristan itu nak!" ucap Bunda Tiara sambil memeluk Sarah.
'Bunda tidak tahu saja, ijin itu juga aku dapat dengan penuh perjuangan. Perjuangan memikirkan cara mengakali manusia batu itu!' Sarah sampai terkekeh dalam hatinya.
***
Senin pagi, Richard yang sangat bahagia setelah menemui nenek dan adiknya kembali datang ke rumah sewa panti. Dia bahkan membawakan manisan kelapa yang sangat banyak sebagai oleh-oleh untuk seluruh warga panti.
Richard juga membelikan sebuah baju hangat untuk bunda Tiara, dan satu buah scraft untuk Sarah.
"Wah, terimakasih banyak Richard. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot begini. Kalau bisa sering-sering...!"
Plakkk
Sangking excited nya Richard, dia sampai memukul lengan Sarah mendengar Sarah bercanda seperti itu padanya.
Sarah pun mengelus beberapa kali lengannya yang lumayan panas terkena pukulan Richard.
"Aduh maaf nona Sarah, kelepas4n saya. Habis nona lucu sekali. Katanya jangan repot-repot. Kok malah nyuruh sering-sering ha ha !"
Richard terkekeh puas, dia memang sedang bahagia kan.
"Bagaimana kabar nenek dan adikmu Richard?" tanya Sarah yang menyuguhkan secangkir teh manis hangat untuk Richard.
"Adikku sekarang sudah remaja nona, karena itu kemarin dia sampai ngambek tidak mau bicara padaku saat aku bilang tidak bisa janji akan datang di hari ulang tahunnya. Tapi berkat kamu nona, aku datang dan dia gak jadi ngambek ha ha !" ucap Richard tertawa lepas.
"Dan nenekku, nona... aku kan cerita tentang kamu yang akan menikah dengan bos. Terus aku juga cerita kalau kamu lah yang bisa membuatku libur dua hari kemarin. Tahu tidak nenekku bilang apa nona?" tanya Richard dengan ekspresi membuat orang penasaran.
"Apa?" tanya Sarah santai.
"Kata nenekku begini..!"
Richard mengangkat kaki kanannya dan di letakkan di atas kaki kirinya, lalu membenarkan posisi duduknya agar membungkuk persis seperti posisi neneknya saat berkata seperti itu.
"Bagus... bagus... akhirnya ada yang bisa jadi pawang singa itu!"
"Ha ha ha, aku dan adikku sampai terjungkal dari kursi karena tak bisa menahan tawa kami!" lanjut Richard.
Sarah malah terdiam mendengar apa yang dikatakan Richard.
'Pawang? aku?' batin Sarah bertanya-tanya.
Namun beberapa detik kemudian Sarah menggelengkan kepalanya perlahan. Mengusir pikiran yang tidak-tidak yang ada di pikirannya.
__ADS_1
Setelah cukup lama mengobrol dengan bunda Tiara menunggu Sarah bersiap-siap. Richard pun pamit ke kantor pada bunda Tiara.
"Sering-seringlah berkunjung nak Richard, anak-anak sangat terhibur karena kedatangan mu!" ucap bunda Tiara jujur.
"Ha ha ha, apa kalian menganggap aku pelawak?" tanya Richard.
"Kakak seperti badut!" celetuk Indah yang langsung di bekap mulutnya oleh Ulfa.
Richard tidak marah, dia malah terkekeh mendengar adik-adik panti asuhan bunda Tiara menyukainya dan tidak sungkan padanya.
Setelah beberapa saat kemudian, Sarah dan Richard pun sampai di kantor.
Saat di resepsionis Richard bertemu dengan Liana.
"Selamat pagi tuan Richard!" sapa Liana pada Richard yang langsung di angguki oleh Richard.
"Selamat pagi nona Sarah!" sapa Liana pada Sarah, dan di balas senyum oleh Sarah.
"Kalian bertiga kumpul di ruanganku ya, kita bahas jadwal bos untuk hari ini!" kata Richard.
"Maaf tuan, tapi Nurma sudah tidak bekerja lagi!"
"Maksudnya?" tanya Richard.
"Nurma sudah di pecat oleh tuan Tristan, dia sudah tidak bekerja lagi di sini!" jelas Liana.
Sarah sedikit terkejut mendengar hal itu, karena katanya kan Nurma adalah sekertaris yang paling pintar di antara ketiga anak buah Richard.
"Kenapa dia di pecat?" tanya Richard bingung.
"Tidak tahu, hanya saja kemarin dia membuat jadwal meeting tuan Tristan bentrok!"
Richard langsung mengusap wajahnya kasar.
"Oh emji, jadi jadwal Sabtu kemarin berantakan? ck...!"
Sarah pun langsung mengusap punggung Richard beberapa kali.
"Sabar ya, yok bisa yok semangat!" ucap Sarah yang membuat Richard semakin putus asa.
Jadwal Tristan berantakan, itu artinya saat ini Tristan pasti sedang sangat kesal. Dan kalau Tristan kesal, satu-satunya orang yang akan menjadi pelampiasan amarah Tristan pasti adalah....
"Richard!" pekik Tristan yang baru masuk dari pintu utama.
__ADS_1
***
Bersambung...