Tega

Tega
Bab 173


__ADS_3

Selesai makan siang, Tristan kembali mengajak sarah ke suatu tempat yang juga di siapkan oleh Richard. Ke sebuah wahana taman bermain.


Sarah terlihat tercengang melihat wahana taman bermain yang sangat ramai.


"Ini sudah jam 2 Tristan, kita akan memberi contoh tidak baik bagi para karyawan kalau masih berada di sini!" kata Sarah yang ingin kembali ke kantor.


Sarah sebenarnya senang di ajak ke wahana taman bermain, tapi entah kenapa. Perasaannya sangat tidak menyukai tempat ini. Sarah tidak suka wahana taman bermain di tempat ini, padahal ini adalah wahana taman bermain terbesar di kota ini. Pengunjung dari daerah lain, bahkan rela jauh-jauh pergi dari daerah mereka hanya untuk melihat wahana di tempat ini.


"Sayang, kenapa? aku sudah menyewa sebuah wahana untuk memberimu sebuah kejutan!" kata Tristan.


Mendengar Tristan bicara begitu, sebenarnya Sarah juga tidak enak. Tapi hatinya benar-benar tidak suka tempat itu. Benar-benar sangat aneh, rasanya sesak, takut, sedih dan campur aduk perasaan yang tidak nyaman di dalam hati Sarah.


"Tristan, aku benar-benar tidak suka tempat ini. Tolong Tristan, kita pergi saja ya!" ajak Sarah.


Tristan yang melihat Sarah benar-benar ketakutan dan tidak nyaman lantas langsung mengangguk dan menggandeng tangan Sarah dan pergi dari tempat itu.


Di dalam mobil Sarah memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dia melihat dua orang wanita saat dia memejamkan matanya karena menahan sakit kepalanya. Dia orang wanita yang memanggilnya.


"Tari!" ucap Sarah tanpa sadar.


Tristan yang mendengar Sarah berbicara, langsung menoleh.


"Siapa sayang?" tanya Tristan yang merasa asing dengan nama itu.


Bahkan setahu Tristan tidak ada dari 24 anak panti bunda Tiara yang namanya Tari.


Sarah membuka matanya dan melihat ke arah Tristan.

__ADS_1


"Aku bilang apa barusan?" tanya Sarah bingung.


"Kamu menyebutkan satu nama, Tari. Apa dia salah satu adik panti mu?" tanya Tristan yang meskipun dia ingat nama-nama adik panti Sarah. Tapi bisa saja kan, kalau Tari itu adalah nama panggilan salah satu adik pantinya. Nama panggilan khusus begitu.


Tapi Sarah lantas langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada yang namanya Tari. Kenapa aku menyebut nama Tari ya?" tanya Sarah bingung sendiri.


"Sayang, mungkin itu pertanda!" kata Tristan sambil tersenyum.


"Pertanda? pertanda apa?" tanya Sarah.


"Pertanda kalau anak kita nanti harus kita beri nama Tari!" kata Tristan sambil terkekeh.


Sarah yang tadinya begitu bingung bahkan langsung tersenyum. Apa yang dikatakan Tristan itu benar-benar membuatnya ikut senang dan malu dalam satu waktu. Sarah hanya langsung melihat ke arah depan. Mungkin sudah waktunya dia benar-benar membuka hatinya untuk Tristan. Memberikan kesempatan untuk Tristan.


Sarah dan Tristan kembali ke kantor. Tristan mengantarkan Sarah ke ruangannya, dan Tristan kembali ke ruangannya setelah itu. Tapi ternyata ponsel dan tas Arumi masih ada di sana. Sarah jadi benar-benar panik sekarang.


***


Di perusahaan tekstil dengan logo perusahaan dua angsa kembar yang saling berhadapan membentuk seperti sebuah hati. Jerry Alando datang dengan Inka Prastiwi ke sebuah ruangan yang di depan pintunya bertuliskan. Ruangan CEO.


"Selamat siang ayah!" sapa Jerry Alando pada Damar Adhikara.


"Siang nak, kenapa kamu datang kemari? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Damar Adhikara pada anak dan menantunya.


Inka yang tak kunjung menjawab, karena mengira yang akan menjawab adalah Alan pun harus menerima sebuah cubitan yang sukup sakit di pinggangnya. Dan pelakunya adalah Jerry Alando. Alan mau Inka yang menjawab pertanyaan sang ayah.

__ADS_1


"Ka.. kami baik ayah. Ayah sendiri bagaimana?" tanya Inka sambil memaksakan senyum di wajahnya.


Damar Adhikara lantas tersenyum melihat putrinya tersenyum seperti itu dan mengatakan kepada mereka baik.


Damar Adhikara lalu menuntun Inka untuk duduk di sebelahnya.


"Ada apa nak, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Damar Adhikara penuh kasih sayang dan sangat lembut pada Inka.


"Iya ayah, begini. Mas Jerry mau membuka usaha baru. Mas Jerry bilang, dia butuh tanda tangan ayah untuk mengajukan kerja sama dengan sebuah bank!" kata Inka sama persis dengan apa yang Jerry Alando ajarkan pada istrinya itu, untuk di katakan kepada sang ayah.


"Usaha baru?" tanya Damar Adhikara bingung.


"Untuk apa Jerry? usahaku dan ayahmu sudah sangat luar biasa. Kamu tinggal teruskan saja semua ini. Untuk apa membuka usaha baru?" tanya Damar yang hanya memikirkan kemajuan Jerry Alando. Dia pikir akan lebih mudah bagi Jerry Alando dan Inka jika dia meneruskan usahanya saja.


Sebab membangun bisnis baru dari nol sangat beresiko. Belum lagi butuh waktu yang sangat lama untuk mengenalkan produk baru, belum lagi resiko rugi, belum juga harus mencari banyak investor. Sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Lagipula Damar juga mengkhawatirkan putrinya, pasti Jerry Alando akan fokus pada pekerjaan yang baru dia bangun itu. Dan putrinya akan terabaikan karena Jerry Alando sibuk membangun bisnis barunya.


Jerry Alando yang mendengar jawaban dari ayah mertuanya itu merasa sangat tidak senang. Tangannya kembali mengarah ke arah belakang seperti hendak merangkul pinggang Inka. Padahal, satu cubitan yang cukup menyakitkan kembali mendarat di pinggang Inka.


"Ayah... aku mohon berikan tanda tangan ayah untuk mendukung mas Jerry, kalau dia sukses karena usahanya sendiri. Aku akan sangat bangga padanya!" kata Inka dengan tatapan penuh harap pada sang ayah.


Damar Adhikara yang memang sangat mencintai sang putri pun langsung tersenyum dan mengusap kepala Inka dengan sangat lembut.


"Baiklah nak, karena ini permintaanmu. Ayah akan tanda tangan, kalau kalian butuh apapun. Jangan segan mengatakannya pada ayah!" kata Damar Adhikara.


Inka dan Jerry Alando sama-sama mengangguk. Di dalam hatinya Inka sangat merasa bersalah pada sang ayah. Dan di dalam hati Jerry Alando, pria itu bersorak bahagia karena sedikit lagi apa yang dia inginkan akan terwujud.


Damar menandatangani surat itu tanpa membaca apa isinya. Sebab dia sangat percaya pada anak dan menantunya. Damar sangat menyayangi Inka, seandainya saja saat itu Mulya tidak menular bayi mereka. Tentu saat ini yang mendapatkan semua kasih sayang itu adalah putri kandung, putri asli mereka. Namun karena keserakahan Mulya, putri kandung Damar Adhikara dan Widya malah tak pernah mendapatkan kasih sayang itu sejak usianya dua tahun, oh.. bukan tapi sejak bayi. Karena Mulya juga tidak pernah memperlakukan anak kandung Damar Adhikara dan Widya itu dengan baik sejak dia menukarnya. Mulya juga hanya menyayangi Inka saja. Karena itu saat mereka liburan di sebuah taman bermain yang sangat terkenal di luar kota. Di saat semua lengah di malam hari, Mulya sengaja meninggalkan anak kandung Damar Adhikara dan Widya itu di depan sebuah panti asuhan yang letaknya tak jauh dari taman bermain tersebut.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2