Tega

Tega
Bab 265


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Arumi sudah pergi ke apartemen Sarah. Niatnya adalah untuk mengadukan apa yang terjadi semalam di kediaman Hutama pada sahabatnya itu.


Widya sedang menyiapkan sarapan saat Arumi datang. Jadi Widya sekalian mengajak Arumi untuk sarapan bersama.


"Aku sudah sarapan Bu, aku sudah sarapan ketika semua orang belum bangun!" kata Arumi kesal.


"Ada apa?" tanya Sarah yang sedang menyiapkan piring untuknya, Tristan dan Widya.


"Kamu sarapan saja dulu, aku sudah. Aku akan duduk di balkon saja sambil main game!" kata Arumi yang lantas berdiri dari duduknya di salah satu kursi yang ada di ruang makan.


"Kevin tidak sekolah?" tenaga Sarah.


"Sekolah, aku sudah mengantarnya. Makanya aku langsung ke sini. Kalian lanjutkan saja sarapannya!" kata Arumi yang lantas pergi ke arah balkon.


Yang di katakan Arumi memang benar. Dia memang sudah mengantarkan Kevin ke sekolahnya pagi-pagi sekali. Sampai Kevin bingung apa yang terjadi pada ibu sambungnya itu. Karena biasanya Kevin yang akan menggedor pintu kamar papa nya karena Arumi tak kunjung siap dan mengantarkan dirinya ke sekolah.


Pagi ini Kevin agak terkejut, sebab Arumi sudah sangat siap ketika dirinya baru membuka mata. Dan saat tiba di sekolah, Kevin benar-benar mendapatkan apa keinginannya selama ini, yaitu menjadi siswa yang pertama kali datang ke sekolah di hari itu.


Sebenarnya apa kata pepatah kalau akan selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa itu memang benar. Kekesalan hari Arumi berimbas baik pada kerajinan masuk sekolah Kevin.


Tristan yang baru keluar dari kamarnya lantas menoleh ke arah balkon dan melihat Arumi sedang duduk sendirian di sana. Tristan yang menuju ke ruang makan lantas bertanya pada istrinya sebelum dia duduk di kursinya.


"Sayang, itu Arumi bukan? tumben jam segini dia sudah datang?" tanya Tristan pada Sarah.


"Iya mas, mungkin ada yang terjadi. Mas sarapan dulu ya!" kata Sarah yang lantas menyiapkan sarapan untuk Tristan.


Setelah Tristan dan Sarah juga Widya sarapan. Sarah mengantarkan Tristan ke depan pintu karena suaminya itu akan berangkat pergi bekerja. Sementara Widya dan Tika merapikan ruang makan.

__ADS_1


"Sayang, nanti siang kita jadikan melihat dekorasi kamar untuk anak kita?" tanya Tristan.


"Begini mas, kata ibu kalau mau beli segala perlengkapan untuk anak kita sebaiknya tunggu usia kandunganku 7 bulan dulu mas. Sekarang kan baru lima bulan. Kata ibu apa ya tadi.. pamali!" jelas Sarah.


Tristan pun mengangguk paham, dia tahu kalau orang ketimuran seperti ibu dan ayah Sarah pasti banyak pertimbangan dan hal-hal semacam itu. Tapi selama itu masih bisa di mengerti oleh nalar Tristan, Tristan juga tidak mempermasalahkannya.


"Baiklah kalau begitu kita makan siang bersama saja nanti siang ya?" tanya Tristan sambil mencium pipi Sarah.


"Iya mas!" jawab Sarah sambil tersenyum.


"Aku berangkat kerja dulu!" kata Tristan yang langsung membungkukkan tubuhnya dan mencium perut Sarah yang sudah mulai membuncit.


"Sayang papa, papa berangkat kerja dulu ya. Jangan nakal, jangan membuat mama kesulitan ya nak!" kata Tristan.


Setiap akan berangkat kerja, Tristan selalu melakukan hal itu pada Sarah. Menciumnya dan mencium perutnya. Juga bicara pada calon anak mereka. Hal itu membuat Sarah merasa sangat bahagia. Hal kecil seperti itulah yang sebenarnya di inginkan oleh istri di seluruh dunia. Di perlakukan dengan lembut dan di perhatikan ketika dia hamil. Merasa dia tidak pernah sendirian merasakan susah payahnya wanita yang sedang hamil.


Setelah Tristan berangkat bekerja, Sarah lantas menghampiri Arumi yang masih duduk di balkon sambil bermain game. Arumi terlihat sangat serius.


Sarah pun duduk di sebelahnya dan mulai bertanya.


"Ada apa?" tanya Sarah.


"Aku kesal!" jawab Arumi singkat padat dan jelas.


"Kesal kenapa?" tangan Sarah.


Arumi masih tetap memainkan game di ponselnya, dari situ saja Sarah tahu kalau Arumi memang benar-benar kesal. Dia akan seperti itu, melampiaskan kemarahannya pada game daripada harus berteriak untuk mengurangi rasa kesalnya.

__ADS_1


"Mantan istri mas Rendra, si siang betina itu semalam datang ke rumah. Dia bilang kehilangan kunci apartemennya! aku kesal karena ternyata mas Rendra benar-benar masih menyimpan kuncinya. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan itu, aku pikir mungkin mas Rendra memang masih menyimpan perasaan padanya!" kata Arumi yang semakin menjadi dengan permainan game di ponselnya.


Sarah cukup terkejut dengan apa yang di jelaskan oleh Arumi. Tapi dari pengalamannya dulu ketika dekat sebagai teman dengan Rendra sebelum dia menikah dengan Tristan. Sepertinya Rendra masih sangat mencintai mantan istrinya yang merupakan ibu kandung Kevin itu sampai saat itu.


Sarah ingat ketika dia berhasil Kabir dari penjahat yang menyamar sebagai supir taksi. Dia bertemu dengan Rendra ketika Rendra sedang melihat poster besar gambar Gisella Pricilla di sana. Dari situ saja, bisa di lihat kalau saat itu Rendra memang masih mencintai wanita yang pernah menikah dengannya dan memberikannya satu orang putra itu.


Mengingat hal itu Sarah juga jadi cemas. Dan kalau benar Rendra masih menyimpan kunci apartemen Gisella, bukankah itu artinya memang Rendra belum melupakan Gisella itu sepenuhnya.


"Jangan negatif thinking dulu, bisa jadi karena mas Rendra sebenarnya malah lupa pernah menyimpan kunci itu. Dia tidak mengingatnya, jadi tidak membuangnya. Begitu wanita itu datang, dia baru ingat!" kata Sarah mencoba untuk membuat Arumi tidak terlalu berburuk sangka pada suaminya sendiri.


"Tetap saja aku kesal. Aku kesal!" kata Arumi yang semakin menekan layar ponselnya.


Sarah hanya bisa menghela nafas. Dia membiarkan Arumi untuk melakukan semua itu tanpa bicara atau melarangnya. Sarah membiarkan Arumi melampiaskan semua kekesalannya agar dia lebih tegang saat bicara lagi nanti.


Hampir satu jam Sarah menemani Arumi bermain game.


"Sarah aku haus. Kita ke kafe yuk!" kata Arumi.


Sarah pun mengangguk setuju.


"Oke, aku ambil tas sama bilang ke ibu dulu ya!" kata Sarah yang langsung di angguki oleh Arumi.


Sementara itu di kantor Rendra, pria itu sedang memijat kepalanya yang terasa pusing. Sejak Gisella pulang semalam, dia dan Arumi malah perang dingin. Arumi masuk ke dalam kamar semalam, tapi tidak bicara sepatah kata pun pada Rendra. Saat tidur dia bahkan membelakangi Rendra. Dan saat Rendra bangun tadi pagi, Arumi sudah tidak ada di kamarnya.


Saat Rendra keluar, kata ayahnya Arumi sudah mengantar Kevin ke sekolahnya karena Kevin piket kelas. Padahal tidak. Semua itu membuat Rendra yakin kalau Arumi sedang marah padanya, dan Rendra pada akhirnya menjadi sakit kepala karena memikirkan perang dingin yang pastinya akan berlangsung sangat lama. Karena dia tahu, tidak akan mudah membujuk Arumi kalau sudah marah.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2