
Sarah merasa dia sudah cukup menyaksikan apa yang ada di depannya. Tristan terlihat menikmati sekali pekerjaan barunya. Dan itu cukup membuat Sarah lega. Karena ternyata pekerjaan baru Tristan itu juga tidak terlalu berat. Melihat Tristan yang bisa terus melanjutkan hidup dengan senyum dan semangat, setidaknya perasaan rasa bersalah yang ada di dalam hati Sarah perlahan menjadi berkurang.
"Yuk, kita balik ke kantor!" kata Sarah mengajak Arumi yang masih sibuk mengambil video Tristan.
"Eh, Sarah. Gak jadi makan siang dulu, ngopi dulu gitu?" tanya Arumi.
Sarah lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Di sini rame banget, ke resto depan sana aja yuk!" ajak Sarah.
"Oh, oke!" kata Arumi yang memang merasa kalau kafe ini terlalu ramai.
Namun saat Sarah dan Arumi akan pergi dari kafe tersebut. Tristan melintas ke arah Sarah, dan langsung berdiri lalu memanggil Sarah.
"Sarah!"
Panggilan Tristan dan arah pandanganya membuat semua yang ada di dalam kafe tersebut mengikuti arah pandangan Tristan.
Sarah menghentikan langkahnya lalu berbalik menoleh ke arah Tristan. Dengan senyum lebar, Tristan menghampiri istrinya itu. Tristan terlihat senang melihat Sarah ada di sana.
"Kamu datang lagi? aku senang melihat mu!" kata Tristan membuat Sarah langsung menoleh ke arah Arumi.
"Iya, aku... aku kebetulan...!"
"Tristan, ada apa?" tanya manager yang bingung kenapa Tristan tidak ada di meja yang seharusnya dia berada.
"Oh, bos. Sudah waktunya istirahat kan aku mau makan dulu!" kata Tristan beralasan.
Manager Tristan itu mengangguk, dan meminta agar para pengunjung makan siang saja dulu. Boot foto dan tanda tangan Tristan akan di buka lagi dalam satu jam lagi.
Para pengunjung terlihat kecewa, tapi mereka tetap berada di kafe tersebut untuk menunggu giliran bisa berfoto dan mendapatkan tanda tangan Tristan.
Tristan mengajak Arumi dan Sarah ke belakang kafe. Di sana ada sebuah ruangan yang biasa di pakai oleh para karyawan kafe untuk makan siang.
"Kita di sini saja ya, aku akan ambilkan makanan untuk kita. Sebentar!" lata Tristan sambil tersenyum lalu masuk kembali ke dalam kafe.
Sejak Tristan memanggil manager kafe itu dengan panggilan bos. Sejak saat itu Arumi tidak menutup mulutnya karena sangat terkejut, kaget, shock, tak percaya, tercengang, tertegun entah kata apalagi yang tepat untuk mendeskripsikan sikap Arumi saat ini.
"Sarah, itu beneran Tristan Hutama ya?" tanya Arumi masih tak percaya.
Sarah sedikit memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan Arumi. Selanjutnya Arumi makin membuat Sarah bingung karena Arumi terus menggelengkan kepalanya dan menepuk kedua pipinya bergantian.
__ADS_1
Arumi bahkan mencubit lengannya sendiri.
"Aughk, sakit!" pekik Arumi yang kesakitan karena tangan kanannya di cubit oleh tangan kirinya.
"Arumi kamu kenapa?" tanya Sarah bingung.
"Aku sedang memastikan kalau aku tidak bermimpi. Ya ampun Sarah, itu mustahil loh. Semua ini beneran mustahil di lakukan oleh Tristan Hutama. Sarah... manusia batu itu pasti otaknya sudah bergeser, atau apa ya? Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku saksikan dengan mata yang masih menempel di kepala ku ini Sarah!" kata Arumi benar-benar sangat mendramatisir apa yang dia pikirkan dan rasakan.
Sarah langsung diam mendengar apa yang Arumi katakan. Arumi benar, Tristan benar-benar sudah berbeda sejak dia sadar dari koma.
"Dia ambil makanan buat kita? buat aku?" tanya Arumi menunjuk dirinya sendiri.
Arumi sangat tidak percaya dengan perubahan drastis Tristan itu. Tapi mau bagaimana juga, itulah kenyataannya.
Saat Sarah dan Arumi masih memikirkan tentang perubahan Tristan yang begitu mengejutkan. Ponsel Sarah tiba-tiba saja berdering.
"Dari siapa?" tanya Arumi kepo.
Sarah juga belum tahu, jadi Sarah menggelengkan kepalanya pada Arumi, karena memang Sarah bari membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Pak Andreas, pengacaranya ayah!" kata Sarah setelah melihat nama pengacara Andreas di layar ponselnya.
Arumi mengangguk, Sarah lantas menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas.
"Halo nona Sarah, selamat siang. Saya menghubungi nona Sarah, karena ingin memberi kabar. Saya kemarin sudah mendaftarkan gugatan cerai nona Sarah ke pengadilan. Besok pagi jam sepuluh pagi, adalah sidang mediasi, saya harap nona Sarah hadir di pengadilan. Sebentar lagi saya akibat akan menghubungi tuan Tristan!" kata pengacara Andreas.
"Oh, itu pak Andreas. Tristan ada bersamaku. Aku akan memberitahu padanya!" kata Sarah.
"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu di pengadilan pukul sembilan tiga puluh ya nona Sarah. Selamat siang!"
"Siang pak!" kata Sarah lalu memutuskan panggilan telepon lalu kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Melihat wajah Sarah yang terlihat sedih, Arumi pun menepuk perlahan bahu Sarah dan kemudian bertanya pada sahabatnya itu.
"Ada apa?" tanya Arumi pelan.
"Gugatan ku sudah di daftarkan di pengadilan, Besok pagi sidang mediasinya. Pengacara Andreas minta aku dan Tristan datang ke pengadilan!" jawab Sarah dengan nada sedih.
Arumi juga langsung terdiam, meski tadinya dia mendukung perpisahan Sarah setelah apa yang telah Tristan lakukan pada Sarah, meninggalkan Sarah demi wanita lain. Tapi melihat Tristan yang sepertinya sangat perduli pada Sarah sekarang. Arumi sendiri juga ikutan dilema.
Arumi lantas mengusap lengan Sarah perlahan selama beberapa kali.
__ADS_1
"Sabar ya Sarah, tetap percaya saja kalau semuanya pasti akan ada jalannya. Kamu wanita yang baik, pasti juga akan mendapatkan takdir yang baik. Apapun keputusan mu, aku akan selalu berada di sampingmu!" kata Arumi merangkul Sarah.
Saya Arumi sedang memberi selamat pada Sarah. Tiba-tiba ponsel Arumi berdering. Mata Arumi bahkan melotot ketika melihat siapa yang memanggilnya.
'Hah, mas Rendra. Kenapa dia telepon aku?' batin Arumi.
Melihat wajah Arumi yang berubah menjadi horor, Sarah pun jadi penasaran juga.
"Siapa? mami kamu?" tanya Sarah yang memang selalu melihat ekspresi wajah Arumi yang seperti itu kalau dapat telepon dari mami atau papinya.
Arumi menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Mas Rendra!" kata Arumi.
"Kak Rendra?" tanya Sarah dan langsung di balas anggukan oleh Arumi.
Arumi lantas menerima panggilan telepon tersebut.
"Halo Arumi, bisa kamu datang ke kantor ku. Seseorang bernama Renata datang dan marah-marah di kantor. Dia mengaku kalau dia kakak kamu!" kata Rendra terdengar kesal.
Mata Arumi kembali terbelalak lebar.
'Ya ampun, ngapain itu sucubbus satu datang ke kantornya mas Rendra?' batin Arumi tidak senang dan tidak tenang.
"Iya mas otewe!" kata Arumi yang langsung memutuskan panggilan telepon nya dengan Rendra.
Arumi langsung berdiri dan berpamitan pada Sarah.
"Sarah, aku pergi dulu ya. Kamu bisa kan ke kantor naik taksi, ini urgent banget!" kata Arumi yang langsung berlari ke dalam kafe untuk bisa keluar dari jefe ini.
Saya Arumi pergi, Tristan baru datang membawa tiga mangkuk sup buntut, andalan kafe ini.
"Arumi terburu-buru sekali?" tanya Tristan.
"Iya, ada urgent katanya!" jawab Sarah.
"Oh, kalau begitu kita makan berdua saja. Ini enak banget loh Sarah, aku sudah habis dua mangkuk sejak pagi. Untung saja Bosku baik dan tidak memasukkan ke dalam tagihan!" ucap Tristan terkekeh.
"Tristan, besok pagi kita harus ke pengadilan! gugatan sudah di daftarkan di pengadilan, besok adalah sidang mediasi pertama!" jelas Sarah membuat tawa Tristan langsung lenyap seketika.
***
__ADS_1
Bersambung...