Tega

Tega
Bab 201


__ADS_3

Wajah Mulya pucat, hatinya terluka karena anak yang dia sengaja tukar dengan anak nyonya nya malah membencinya. Mulya melakukan semua itu agar Inka hidup bahagia, tidak kekurangan apapun. Toh Mulya pikir dia juga akan tetap ada bersama di sisi Inka. Dia ingin Inka bahagia dan mendapatkan semua yang dia inginkan.


Jika dia bersama Mulya sebagai anaknya, belum tentu dia bisa kuliah di kampus terbaik. Punya mobil, pakaian bermerek, makan enak setiap saat dan selalu di layani dengan baik. Mulya melakukan semua itu untuk Inka. Mulya tidak menyangka kalau sang anak malah akan sangat membenci dirinya seperti itu.


"Kenapa kamu berkata begitu nak?" tanya Mulya dengan suara bergetar, matanya sudah berkaca-kaca.


"Ibu melakukan semua ini untukmu, ini semua untukmu Inka. Kamu akan lebih di hormati, di sayang, hidupmu akan sangat nyaman nak. Kenapa kamu malah membenci ibu?" tanya Mulya dengan suara lirih.


Mulya juga sudah menangis, saya sangat sakit mendengar sang anak kandung mengatakan benci sekali kepada dirinya.


Mendengar pertanyaan ibunya, Inka lantas berkata.


"Tapi bi Mulya sudah membuat ayah dan ibu membuang ku. Meninggalkan aku untuk mencari putri kandung mereka. Putri kandung mereka yang bi Mulya tukar denganku, putri kandung yang tempatnya di gantikan olehku. Putri kandung mereka yang seharusnya mendapatkan sakit hati karena di sakiti mas Jerry, yang seharusnya kehilangan calon bayinya... hiks.. hiks...!"


"Inka!" Raes mengusap punggung Inka dengan lembut berusaha menenangkannya.


"Jika bi Mulya tidak menukar aku, aku tidak akan pernah merasakan semua rasa sakit ini!" pekik Inka lagi.


Mulya diam dan hanya air mata yang mengalir di wajahnya. Putrinya sangat depresi karena kehilangan semuanya dalam sekejap. Tapi tetap saja hati picik Mulya terus berpikir kalau dia sudah melakukan hal yang benar.


Sambil menggelengkan kepalanya, dia berkata pada Inka.


"Tidak nak, kamu tidak akan kehilangan semuanya. Tuan Damar Adhikara tidak akan pernah menemukan putrinya, kamu akan tetap jadi putri Damar Adhikara!"


"Apa kamu bodoh bi Mulya?" sela Raes bertanya.


"Apa kamu pikir tuan Adhikara senaif itu, dia orang pintar, berpendidikan. Dia akan menemukan putrinya, sebaiknya kamu sudah membuat Inka di benci keluarga itu padahal Inka tidak tahu apapun. Dan di masyarakat, Inka juga yang akan di salahkan! apa kamu tidak mengerti semua itu?" tanya Raes berusaha menjelaskan agar Mulya itu sadar bahwa apa yang dia perbuat ini sangat salah.

__ADS_1


Tapi tetap saja Mulya menggelengkan kepalanya.


"Tidak tuan Raes, tidak mungkin. Tuan Damar Adhikara akan kembali pada Inka. Dia tidak akan pernah menemukan putrinya...!"


"Apa kamu sudah menghabisinya?" tanya Raes.


Tapi belum juga Mulya menjawab, Inka begitu terkejut mendengar apa yang di tanyakan oleh Raes pada Mulya. Dan dari kata-kata Mulya yang begitu yakin kalau Damar Adhikara tidak akan pernah menemukan putrinya. Inka benar-benar mengira kalau Mulya telah menyingkirkan putri kandung Damar Adhikara itu untuk selamanya. Sebagai seorang manusia, Inka benar-benar tidak menyangka Mulya akan sekejam itu.


Inka langsung menggebrak meja.


Brakk


"Kamu kejam bi Mulya, bi Mulya manusia kan? bagaimana bisa menyingkirkan manusia lain? lebih baik aku mati daripada di dalam tubuhku mengalir darah seorang pembunuh!"


Mulya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Tapi Mulya yang sadar sudah keceplosan langsung membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. Dia lantas berdiri dan berlari menghampiri petugas dan minta ingin masuk ke dalam tahanan. Dan dia berpesan tidak mau bertemu siapapun lagi.


Inka yang terlihat sangat sedih langsung di rangkul oleh Raes.


"Sudah ya, tidak apa Jerry meninggalkan mu. Tidak apa ayah dan ibumu juga sama, tapi masih ada aku Inka. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Ikut aku pulang ya, ke rumah yang memang sejak sepuluh tahun lalu aku siapkan untukmu!" kata Raes pada Inka.


Yumi tersenyum lega, setelah semua kejadian buruk yang di alami Inka. Akhirnya akan ada kebahagiaan menyambutnya. Meski dia kehilangan semuanya, tapi masih ada Raes yang tetap setia menunggu dan mencintai Inka setulus hati.


Sementara itu petugas yang ada di penjara pun sudah menghubungi Baim. Petugas itu mengatakan pada Baim, kalau anak kandung tuan Damar Adhikara dan Widya telah di buang oleh Mulya di salah satu panti. Dan pastinya tidak mungkin panti pijat atau panti jompo. Pasti panti asuhan.


Oleh karena itu Baim juga langsung menghubungi Damar Adhikara untuk mengatakan tentang hal itu.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Damar Adhikara yang berada di hotel dekat bandara.


Selama belum ada kabar, Damar Adhikara memilih tinggal di hotel dekat bandara agar bisa cepat kalau sewaktu-waktu dia harus pergi ke kota lain setelah mendapatkan petunjuk.


"Tuan, Inka datang ke penjara. Dan benar saja, Mulya mengatakan telah membuang nona Tari di sebuah panti, itu pasti panti asuhan!"


"Panti asuhan mana, apa namanya?" tanya Danar Adhikara tidak sabaran.


"Sayangnya dia menyadari kalau dia keceplosan tuan, yang pasti itu adalah panti asuhan yang letaknya tak jauh dari taman bermain yang tuan dan nyonya datangi 24 tahun lalu, tidak mungkin jauh dari sana bukan?" tanah Baim.


"Kamu benar, baiklah aku akan mencarinya, dan tolong lakukan sesuatu untukku. Carikan di rumah foto Tari waktu berumur dua tahun, istriku bilang ada di kamar kami. Saat dia berfoto dengan Inka dan Tari!" kata Damar Adhikara.


"Baik tuan!"


Widya yang mendengar suaminya bicara lantas menangis. Dia ingat saat kejadian dia berfoto dengan Inka, saat itu Tari mendekatinya, menarik ujung dress baby doll nya. Dan minta di gendong oleh Widya, lalu menunjuk ke arah tukang foto. Tapi karena Inka tiba-tiba menangis, Widya tidak jadi menggendong Tari dan malah menggendong Inka lalu hanya menggandeng tangan Tari saja.


Widya menyesal kenapa dia sampai memperlakukan anaknya sendiri seperti itu. Dia tidak bisa bayangkan saya itu perasaan Tari bagaimana. Lalu bagaimana dia yang seorang ibu tidak bisa menyadarinya. Padahal dari bayi sampai usia 2 tahun, Tari selalu ingin dekat-dekat dengannya. Ingin di gendong, bahkan saat pertama bicara Tari menyebutnya ibu. Widya menangis sampai tubuhnya bergetar sangking merasa bersalah tidak bisa menyadari semua hal yang di tunjukkan anak kandungnya itu.


"Tari maafkan ibu nak, maafkan ibu... hiks hiks!"


Damar Adhikara lantas merangkul dan memeluk Widya.


"Kita akan segera menebusnya Bu, kita akan segera menemukan Tari. Kita akan menebus kesalahan kita selama ini pada Tari!" lirih ungkapan perasaan seorang ayah yang sangat merindukan putri kandungnya, sambil berkata seperti itu, air mata bahkan juga mengalir di pipi seorang Damar Adhikara.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2