
Beberapa saat kemudian, terlihat tangan Richard mulai bergerak meskipun hanya jari-jarinya saja. Tristan yang memang berada di dekat Richard melihat hal itu.
Tristan langsung mendekat ke arah Richard dan memegang tangannya itu.
"Richard! bangunlah!" kata Tristan.
Richard membuka kelopak matanya perlahan. Saat itu dia merasakan ada yang memegang tangannya. Richard berusaha untuk mengangkat dan melihat siapa yang memegang tangan nya itu. Sedikit terkejut, tapi Richard langsung tersenyum kecil dan berkata dengan pelan.
"Oh emji... bos. So sweet!" kata Richard yang langsung membuat Tristan melempar tangan Richard ke bawah. Ke tempat tidurnya.
Yang lain terkekeh melihat hal itu, begitu pula Arista. Bukankah itu artinya Richard benar-benar sudah baik-baik saja. Kata ajaibnya sudah keluar, jadi mereka rasa tidak ada masalah dengan otaknya meski kepalanya tadi sempet terbentur aspal dan cukup banyak mengeluarkan darah.
"Nyonya Sarah, apa bos tadi sangat khawatir?" tanya Richard pada Sarah yang ada di sebelah Tristan.
Sarah yang tersenyum lantas di senggol lengannya oleh Tristan. Maksud Tristan adalah agar istrinya itu jangan mengatakan betapa paniknya dia tadi. Gengsi dong sama Richard kalau sampai asisten pribadi nya itu tahu tadi Tristan bahkan sampai menangis sangking takut terjadi sesuatu pada Richard.
"Dia menangis seperti anak kecil!" celetuk Arumi.
Tristan mendengus kesal, dia lupa kalau ada kakak iparnya yang super ember itu di ruangan ini.
Mendengar apa yang di katakan oleh Arumi, Richard tersenyum senang.
"Yang benar bos? aku jadi terharu. Berarti aku bisa naik gaji dong!" kata Richard.
"Naik gaji kepalamu, diam dan istirahat saja!" kata Tristan.
Di bentak begitu oleh Tristan, Richard tetap tertawa. Dia tahu bentakan Tristan itu adalah bentakan perduli dan perhatian.
Tak lama mereka saling mengobrol dan memastikan Richard sudah baik-baik saja. Ponsel Tristan berdering. Ada pekerjaan penting yang menunggunya.
"Pergilah bos, ada nyonya Sarah yang bersama ku. Aku akan baik-baik saja!" kata Richard melihat Tristan sepertinya tak tega meninggalkannya untuk bekerja dalam keadaan seperti ini.
"Pergilah mas, aku akan menjaga Richard. Bukan aku saja, ada kak Arista dan Arumi juga kak Rendra!" kata Sarah.
Mendengar itu Tristan pun merasa tenang. Tristan kemudian pergi dari rumah sakit karena pekerjaan itu sangat penting. Apalagi Richard tidak bisa jadi dia yang harus menangani semuanya di kantor.
__ADS_1
Sementara itu Arumi yang melihat kakaknya bajunya terlihat kotor karena beberapa noda merah. Mengajak Arista untuk tukar pakaian dulu, Arumi mengajak Arista membeli baju di toko dekat rumah sakit. Jadi hanya Rendra dan Sarah yang menemani Richard. Tapi tak lama, karena Rendra juga harus menjemput Kevin dan kembali ke kantor.
"Nyonya, jika kamu lelah maka pulang saja. Aku akan baik-baik saja. Di sini ada perawat dan dokter!" kata Richard.
Sarah lantas tersenyum.
"Tidak Richard, aku sudah berjanji pada suamiku untuk menjagamu!" kata Sarah.
"Apa sudah ada yang menghubungi nenekku, bos tidak melakukan itu kan?" tanya Richard pada Sarah.
Sarah pun lantas menggelengkan kepalanya, dan itu membuat Richard menghela nafas lega.
"Kata mas Tristan, nenekmu punya riwayat lemah jantung. Dan adikmu, dia tidak bisa panik. Kalau dia panik, maka dia akan sedih yang agak berlebihan. Jadi mas Tristan tidak menghubungi mereka. Mas Tristan ingin memastikan kondisi mu dulu!" jawab Sarah.
Richard sedikit tersenyum, tapi kemudian dia berkata.
"Apa menurutmu keluargaku ini aneh ya? aku tidak tahu kenapa aku lebih nyaman bersikap begini, dan adikku dia punya phobia yang aneh, nenek ku juga...!"
"Richard, tidak ada yang aneh dengan semua itu. Semua itu bukan aneh, keluargamu tidak aneh. Tapi kalian istimewa, kamu istimewa. Karena itu kami sangat menyayangimu!" kata Sarah membesarkan hati Richard.
Tak serupa dan tak sama bukan berarti mereka berbeda. Hanya saja mereka memang lebih istimewa. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Richard tersenyum mendengar apa yang dikatakan Sarah.
"Kalau begitu, bisa pertimbangkan tentang kenaikan gajiku kan nyonya Sarah?" tanya Richard.
"Biar aku juga yang padamu seperti suamiku, tapi kalau soal gaji. Aku tidak bisa ikut campur!" kata Sarah yang kemudian terkekeh dan membuat wajah Richard cemberut.
Tak lama, Arumi sudah kembali bersama dengan Arista, Renata dan juga Raja.
"Paman Richard!" panggil Raja pada Richard.
Richard dan Sarah lantas menoleh, Sarah tersenyum melihat Raja datang. Sarah yang tadinya duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Richard lantas bangun. Memberikan kesempatan untuk Raja dan Arista bicara pada Richard.
"Aku akan beli minuman sebentar, kamu mau ikut Arumi? kak Renata?" tanya Sarah yang sebenarnya sejak tadi melihat Arista seperti ingin bicara pada Richard. Tapi mungkin karena ada banyak orang, jadi dia hanya diam dan terus melihat ke arah Richard sejak tadi.
__ADS_1
Keduanya lantas mengerti dan ikut Sarah keluar.
"Raja mau minuman apa sayang?" tangan Arumi pada Raja.
"Apa saja aunty!" kata Raja.
Setelah Sarah, Arumi dan Renata pergi. Arista mendudukkan Raja di kursi yang tadi di gunakan oleh Sarah.
"Kamu baik-baik saja jagoan?" tanya Richard pada Raja.
"Aku tidak apa-apa paman! paman bagaimana? kepala paman sakit tidak? aku tadi lihat kepala paman berdarah!" kata Raja yang terlihat di mata anak itu masih cemas pada keadaan Richard.
Richard lantas tersenyum dan menyentuh tangan Raja dan memeluknya perlahan.
"Aku baik-baik saja. Lihat! para dokter sudah menyembuhkan aku. Jangan sedih, aku tidak apa-apa!" kata Richard.
"Kak Richard, terimakasih banyak. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Kaka Richard tidak menyelamatkan Raja. Terimakasih!" kata Arista yang ingin mengatakan hal itu sejak tadi.
"Tidak masalah nyonya Arista...!"
"Panggil Arista saja, kak!" sela Arista.
"Baiklah Arista, kalau yang ada di sana tuan Tristan atau tuan Rendra juga pasti akan melakukan hal yang sama. Kalian sudah seperti keluargaku, Raja saja panggil aku paman. Iya kan Raja!" tanya Richard.
"Iya paman!" jawab Raja.
Arista senang Richard sudah baik-baik saja. Tak lama, Sarah dan yang lain kembali. Di saat yang sama, dokter juga datang dan menyerahkan laporan hasil laboratorium Richard.
"Luka di kepalanya dan kakinya, mungkin harus membuat tuan Richard bed rest selama beberapa hari, jika di paksa di gerakkan lagi. Mungkin akan merubah struktur persendian dan itu akan membuat lukanya lama sembuh, juga akan ada efek samping lain!" kata dokter.
"Oh emji, bed rest?" tanya Richard terlihat sedih. Dia yang kesehariannya banyak bergerak dan pecicilan, di suruh bed rest. Itu benar-benar membuat Richard frustasi.
***
Bersambung...
__ADS_1