
Sarah yang masih menyiapkan semua perlengkapan nya ke dalam tas kerjanya di hampiri oleh bunda Tiara yang masuk ke dalam kamar Sarah dengan senyum tulusnya di pagi hari.
"Sarah, kamu sudah akan berangkat bekerja?" tanya bunda Tiara yang kemudian berdiri di depan Sarah.
"Iya bunda, sarapan sudah siap semua untuk adik-adik. Dan aku juga sudah memberitahu pada para bibi apa menu makan siang dan makan malam untuk hari ini sesuai dengan bahan yang masih tersedia di dapur. Besok aku baru akan belanja dengan para bibi" jelas Sarah sambil melihat kembali penampilan nya di cermin besar yang ada di kamarnya.
Bunda Tiara lantas menghela nafasnya panjang.
"Sarah!" panggil bunda Tiara.
Dan panggilan bunda Tiara itu membuat Sarah mengerti kalau ada hal lain dan yang pastinya hal itu sangat penting untuk bunda Tiara katakan padanya namun sepertinya bunda Tiara agak ragu untuk mengatakan hal itu pada Sarah.
Sarah langsung menoleh ke arah bunda Tiara dan meletakkan kembali tasnya yang sudah dia pakai. Sarah lalu menggenggam tangan bunda Tiara dan mengajaknya duduk di tepi tempat tidur Sarah.
"Ada apa bunda?" tanya Sarah dengan suara lembut pada bunda Tiara.
Pada wanita yang lebih dari paruh baya itu, yang telah merawat dan memberinya kasih sayang juga tempat tinggal sejak dirinya di temukan di depan pintu asuhan itu saat Sarah berusia dua tahun. Sarah kecil tak punya ingatan apapun saat itu, dia benar-benar lupa semua tentang apa yang terjadi sebelum dia sampai di depan panti asuhan itu. Kala itu sedang hujan deras, Sarah kecil hanya mampu menangis di depan pintu panti di malam hari yang sunyi itu. Sampai bunda Tiara membuka pintu dan mengajaknya masuk lalu mengurus Sarah hingga sekarang.
"Sarah, kemarin siang ada seseorang yang datang membawa lamaran untukmu. Seorang yang sangat baik pada panti asuhan kita ini, beliau beberapa waktu ini selalu datang dan memberikan sumbangan yang sangat besar! beliau juga seorang pengusaha yang sangat terkenal dan juga sangat baik!" jelas bunda Tiara.
"Siapa bunda?" tanya Sarah penasaran.
"Tuan Arya Hutama!" jawab bunda Tiara.
Sarah langsung menegakkan punggungnya. Tentu saja dia terkejut bukan main.
"Tapi apa beliau tidak terlalu berumur bunda, maksudku...!"
Bunda Tiara lantas terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Sarah. Sedangkan Sarah yang melihat bunda Tiara terkekeh malah jadi bingung.
__ADS_1
"Bunda, kenapa tertawa. Aku rasa usianya bahkan hampir sama dengan bunda kan?" tanya Sarah.
Bunda Tiara terkekeh, karena dia merasa terkejut sekaligus lucu mendengar Sarah berkata seolah dia merasa dan mengira kalau yang akan melamar dirinya itu adalah tuan Arya Hutama. Dalam pikiran Sarah yang melamarnya itu tuan Arya Hutama, artinya dia akan menjadi istri dari Arya Hutama. Tentu saja bunda Tiara tak dapat menahan tawanya.
"Sayang, kamu ini... kenapa kamu berpikir tuan Arya Hutama itu ingin menikah di usianya yang bahkan sudah berumur itu?" tanya bunda Tiara tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Sarah.
Sarah lantas menggaruk kepalanya, wajahnya merona. Dia merasa sangat geli dengan pikirannya sendiri. Kenapa juga dia tadi malah spontan berpikir kalau lamaran itu untuk tuan Arya Hutama.
"Maaf bunda, aku...!"
Bunda Tiara lantas menepuk punggung tangan Sarah, dan membuat Sarah tak meneruskan apa yang ingin dia katakan.
"Tuan Arya Hutama melamar mu untuk putranya Tristan Hutama!"
Deg
Melihat reaksi Sarah, bunda Tiara pun merasa kalau Sarah tidak menyetujui hal tersebut. Apalagi beberapa saat Sarah hanya diam sambil menatap sendu pada bunda Tiara.
"Maafkan bunda sayang, seharusnya bunda tahu kalau kamu masih menyukai nak Alan, dan...!"
Sarah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak bunda, aku sudah tidak memikirkan mas Alan lagi. Sejak dia mengkhianati aku, itu artinya dia memang sudah tak mencintai ku lagi, dan hubungan kami juga sudah berakhir, hanya saja...!"
Sarah menjeda kalimatnya dan menundukkan kepalanya.
"Apa bunda sudah menyetujuinya?" tanya Sarah.
"Bunda tidak tahu apa kamu akan menyetujuinya atau tidak, dan bunda juga tidak mau membuatmu harus menyetujui lamaran itu. Karena itu, kemarin bunda katakan pada tuan Arya Hutama kalau semua keputusan ada di tangan mu!" terang bunda Tiara pada Sarah.
__ADS_1
Sarah menghela nafasnya lega. Setidaknya dia bisa menolak bukan? dia tidak mungkin menikah dengan pria yang jelas-jelas sangat arogan dan tidak bisa menghargai orang lain seperti Tristan Hutama itu.
'Kalau sama kakaknya sih aku akan memikirkannya, tapi kalau dengan manusia aneh itu.... tidak mungkin!' batin Sarah.
"Tapi bisakah jika kamu minta ijin sebentar pada atasan mu. Tuan Arya Hutama ingin bertemu denganmu pukul delapan pagi nanti. Sarah, bisa kan?" tanya bunda penuh harap.
Sarah sih tidak khawatir dengan Bu Sisilia, lagipula dia sudah kehilangan reward kerajinan nya juga bukan ini karena ulah Tristan waktu itu yang menabrak taksi online yang dia tumpangi. Tapi masalahnya adalah pada si manusia arogan itu, jika dia menemukan Sarah tidak hadir tepat waktu. Entah apa lagi yang akan dia lakukan untuk membuat Sarah keluar dari perusahaan itu.
"Sarah, bisa kan?" yang Bunda Tiara lagi.
Tapi kemudian Sarah berpikir, jika yang membuatnya terlambat datang ke kantor adalah ayahnya sendiri. Apa manusia arogan itu masih akan mempermasalahkan keterlambatannya itu.
"Baiklah bunda, aku akan hubungi Bu Sisilia dulu ya!" ucap Sarah.
Tak lama Sarah pun menghubungi Bu Sisilia, sebenarnya Sisilia sempat cemas karena Sarah minta ijin setengah hari. Dia takut kalau Sarah sakit atau terjadi sesuatu pada tangan Sarah karena lembur semalam dan menyalin banyak laporan. Tapi Sarah sudah menjelaskan pada bu Sisilia, kalau dia baik-baik saja. Dan Bu Sisilia mengijinkan Sarah ijin setengah hari.
Suara mobil sudah terdengar, karena kamar Sarah memang dekat dengan teras depan rumah.
Sarah dan bunda Tiara langsung keluar untuk menyambut tamu mereka. Sedangkan di dalam mobil, Rendra masih mencoba untuk bersikap biasa saja pada sang ayah meski dia tadinya agak terkejut kenapa sang ayah malah mengajaknya ke panti asuhan. Tapi Rendra coba untuk positif thinking dan berpikir sang ayah ingin menyumbang dulu sebelum bertemu calon menantunya.
Saat sudah tiba di depan gerbang, dan penjaga gerbang membukakan pintu. Rendra pun berkata pada sang ayah.
"Aku selalu kagum pada ayah, meski kita akan pergi ke pertemuan penting. Tapi ayah masih tak lupa untuk menyumbang!" ujar Rendra dan membuat Arya Hutama terkekeh.
"Aku tidak datang ke sini untuk menyumbang nak, calon adik iparmu itu memang tinggal di sini!" jelas Arya Hutama membuat Rendra terkesiap.
***
Bersambung...
__ADS_1