Tega

Tega
Bab 94


__ADS_3

"Mama kenapa tidur di sini? kasur uncle kenapa? tidak empuk ya? kalau begitu tidur di kasur Kevin saja yuk, di jamin pulas! kasur Kevin empuk sekali!" ucap Kevin dengan begitu polosnya.


Putra Rendra itu bahkan bicara dengan raut wajah yang terlihat lucu dan menggemaskan. Sangat ekspresif, bahkan dia bicara sambil memeragakan posisi saat dirinya tertidur sangat pulas. Benar-benar sangat imut, mungkin setelah besar nanti, dia akan seimut bontotnya Bangtan (kookkie).


Sarah langsung menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu, pemandangan langit-langit kamar ini lebih terlihat bagus saat berbaring di sini!" jawab Sarah yang saat itu hanya kepikiran hal itu saja.


Kevin juga langsung mendongak ke arah atas, tapi menurutnya langit-langit kamar itu sama saja. Putih bersih, dengan ukiran yang sama.


"Benarkah? tapi terlihat sama saja!" kata Kevin polos.


Tristan yang melihat itu langsung meraih banyak dan selimut Sarah dari atas sofa. Sarah juga hanya memperhatikan apa yang Tristan lakukan tanpa komentar apapun.


"Ajak tantemu pindah ke tempat tidur Kevin!" kata Tristan yang lebih dulu berjalan menuju ke tempat tidur dan meletakkan bantal Sarah di tempat semula sebelum dia mengambilnya dan memindahkannya ke sofa.


Sarah, Kevin dan Tristan kini berada di atas tempat tidur bersama. Sarah sibuk berbincang dengan Kevin, dan Tristan hanya diam sambil memperhatikan mereka.


Setelah Kevin mulai menguap, Sarah pun memintanya untuk segera tidur. Karena besok anak kecil yang menggemaskan dan sekarang juga sudah menjadi keponakan Sarah itu harus pergi ke sekolah.


"Kevin tidur sekarang ya, Tante akan nyanyikan sebuah lagu tidur untuk Kevin!" ucap Sarah sambil membenarkan selimut Kevin lalu membelai lembut kepala Kevin beberapa kali.


Kevin mengangguk dengan cepat, dia bahkan langsung memeluk Sarah dan memejamkan matanya. Sarah pun menyanyikan sebuah lagu untuk Kevin.


"Twinkle twinkle little star... how I wonder what you are, up above the world so high...


Like a diamond in the sky... "


Sarah menyanyikan lagu itu dengan irama yang begitu slowly. Hingga membuat Kevin sepertinya sudah bisa tertidur, dari pelukan tangannya yang semakin merenggang dari Sarah.


"Apa dia sudah tidur?" tanya Tristan.


Sarah cukup terkejut mendengar Tristan bicara padanya.


"Hah, iya... dia sudah tidur. Selamat ma... !"

__ADS_1


"Sarah...!" Tristan menyela Sarah yang ingin mengucapkan selamat malam padanya.


Sarah pun terdiam dan memperhatikan Tristan yang terlihat salah tingkah.


"Apa Roy melakukan sesuatu padamu... maksudku apa dia menyentuhmu..!"


"Aku sudah mengatakan semuanya tadi sebelum kita makan malam kan? kamu juga ada di sana. Pria itu tidak berani menyentuhku, setelah aku mengatakan aku ini menantu kesayangan ayah Arya Hutama!"


"Kenapa tidak menggertaknya dengan namaku?" tanya Tristan yang sepertinya ingin bertanya tentang hal ini sejak Sarah bercerita di rumah keluarga tadi.


"Apa kamu tahu, dia bahkan mengatakan hal yang sama dengan mu. Sepertinya kamu dan dia ada dendam kesumat ya?" tanya Sarah pada Tristan.


Tristan yang memang pernah punya dendam lama dengan Roy, karena Roy dulu juga adalah salah seorang pria yang menyukai dan mengejar Shanum langsung terdiam.


Setelah Sarah tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu, Sarah menghela nafasnya panjang.


"Sebaiknya kita tidak bicara, Kevin akan terganggu kalau kita terus bicara! Selamat malam Tristan" ucap Sarah yang melihat Kevin bergerak saat dia bicara tadi.


Sarah pun kembali mengusap lengan Kevin beberapa kali dengan lembut. Sarah juga langsung memejamkan matanya.


Sesekali dia menoleh ke arah Sarah yang sepertinya sudah tidur nyenyak. Dan pada akhirnya Tristan pun menyerah untuk bicara pada Sarah malam itu dan memilih untuk tidur juga.


Keesokan harinya...


Ketika Tristan terbangun, Sarah dan Kevin sudah tidak ada di kamar mereka. Saat Tristan duduk dan mengusap wajahnya, Sarah masuk ke dalam kamar.


Tapi Sarah tak berkata apapun, dia hanya berjalan ke dekat tempat tidur meraih tasnya dan pergi lagi tanpa bicara sepatah kata pun pada Tristan.


Setelah Sarah kembali menutup pintu, Tristan pun mengusap wajahnya kasar. Dia juga mengacak rambutnya sendiri frustasi. Dalam pikiran Tristan saat ini, ternyata memang bukan ide yang bagus saling diam dan tidak bicara dengan Sarah saat mereka hanya berdua. Sepertinya Tristan mulai menyesali keputusannya sendiri.


Di meja makan, Sarah bersikap biasa. Dia juga menyediakan sarapan di piring Tristan.


"Hari ini, apakah kalian akan pergi bekerja?" tanya tuan Arya Hutama pada Tristan dan Sarah yang bersebelahan.


"Tidak!"

__ADS_1


"Iya!"


Tristan dan Sarah saling pandang, keduanya menjawab bersamaan. Tapi dengan jawaban yang tidak sama satu sama lain.


Tristan menjawab tidak, sedangkan Sarah menjawab iya.


Rendra dan Arya Hutama juga saling pandang. Sebelum Sarah bicara, Tristan lebih dulu menyela.


"Tidak ayah, kami akan berkunjung ke panti asuhan hari ini!" kata Tristan.


Bukan hanya Sarah, tapi bahkan Rendra dan tuan Arya Hutama juga sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Tristan barusan.


"Kamu..., maksudku kalian akan ke panti asuhan?" tanya Rendra memastikan.


"Iya kak, bunda Tiara dan adik-adik panti Sarah pasti masih khawatir pada Sarah. Akan lebih baik, Sarah di sana hari ini!" kata Tristan.


'Mimpi apa manusia batu ini semalam, sepertinya ada yang aneh dengannya?' batin Sarah bertanya-tanya dalam hatinya.


Sementara Sarah berpikir ada yang konslet di otak Tristan. Tuan Arya Hutama malah terlihat tersenyum meskipun sangat tipis. Insting orang tua memang jarang ada yang salah, bahkan mungkin malah tidak pernah. Karena itu tuan Arya Hutama mulai yakin kalau putra bungsunya. Sudah mulai menaruh perhatian pada Sarah.


"Kevin ikut ya uncle!" celetuk Kevin.


"Kevin, kamu harus sekolah!" kata Rendra.


Wajah Kevin langsung cemberut. Melihat hal itu Sarah jadi tidak enak. Tristan yang melihat Sarah sepertinya sangat kasihan pada Kevin langsung berkata.


"Kevin, kamu pergi sekolah dulu. Nanti jam sebelas saat kamu pulang. Uncle dan Tante Sarah akan menjemputmu dan kamu bisa ikut uncle dan Tante Sarah ke panti asuhan!" ucap Tristan yang lagi-lagi membuat tiga orang dewas4 di meja makan itu tercengang.


'Sejak kapan gunung es ini mencair!' batin Rendra.


'Wah, ini mencurigakan!' batin Sarah.


'Sepertinya dugaanku benar, Tristan mulai perhatian pada Sarah. Dia bahkan sedang berusaha menarik perhatian Sarah!' batin tuan Arya Hutama.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2