
Dan pada akhirnya, Hera sama sekali tidak bisa melirik sedikitpun ke arah Rendra. Karena Arumi terus mengawasi Hera seperti sebuah kamera CCtv. Hera sampai heran, bahkan Arumi seperti tidak berkedip, setiap kali Hera melirik ke arah Arumi, wanita itu pasti sedang melihat dirinya dengan tatapan tajam dan senyuman mematikan.
Hera juga harus berpikir beberapa kali jika ingin terang-terangan menantang Arumi. Karena Hera tahu, Arumi itu jago bela diri. Tentu saja dia tidak mau babak belur jika benar-benar harus satu lawan satu dengan Arumi.
Sedangkan Arumi, dia terus saja menempel pada Rendra. Bahkan beberapa klien hanya bisa menahan senyum mereka melihat tingkah Arumi.
Saat meeting berakhir, para rekan kerja Rendra menyalami Rendra dan Arumi. Serta mengucapkan selamat atas kehamilan Arumi.
"Selamat ya pak Rendra, tahu-tahu bapak sudah menikah saja. Kenapa tidak kabar-kabar pak, kan saya bisa datang di resepsi nya!" kata pak Nugraha dengan sopan.
"Iya pak Nugraha, pernikahan kami memang hanya di hadiri keluarga saja...!"
"Papi saya sedang sakit dan sekarat kala itu pak Nugraha, jadi dia minta kami secepatnya menikah. Memang benar-benar hanya keluarga saja yang hadir pak Nugraha!" lanjut Arumi menjelaskan.
"Papi kamu sakit parah, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya pak Nugraha terkejut.
Meski memang pak Nugraha tidak mengenal Arumi, pria paruh baya itu berusaha berbasa-basi untuk lebih menunjukkan pada Rendra, kalau dia perduli dan perhatian pada Rendra dan istrinya. Ini juga salah satu strategi bisnis.
Rendra malah bingung harus jawab apa.
"Papi saya sudah pergi!" kata Arumi sambil menunduk sedih.
Pak Nugraha jadi semakin tidak enak pada Arumi.
"Oh, saya turut berduka. Semoga papi kamu tenang. Dan dia pasti tenang, karena pak Rendra pasti akan menjaga mu dengan baik!" kata pak Nugraha menunjukkan belasungkawa nya.
Rendra menghela nafasnya panjang. Dia tidak habis pikir bagaimana Arumi bisa mengatakan hal seperti itu tentang papinya.
"Terimakasih pak Nugraha!" kata Arumi.
Dan pak Nugraha pun pamit undur diri, ketika Hera akan menghampiri Rendra. Arumi langsung pasang badan di depan suaminya itu.
"Mau apa? salaman? tidak usah. Mas Rendra masih ada wudhu! sana pulang saja dan jangan pernah ganggu suami orang lagi!" kata Arumi ketus pada Hera.
Hera yang tidak mau malu di depan para bawahan dan staf dari perusahaannya langsung berdecak kesal dan keluar dari ruang meeting itu bersama anak buahnya. Meninggalkan Arumi dan Rendra berdua di ruang meeting.
__ADS_1
Rendra lantas menghampiri Arumi. Dia ingin menegur istrinya karena ucapannya tentang papinya tadi.
"Sayang, meskipun papi kamu sudah berbuat seperti itu pada keluarga mu. Tapi kamu tidak boleh menyumpahinya...!"
"Mas Rendra sayang!" kata Arumi menyela ucapan Rendra sambil mengalungkan kedua tangannya di belakang leher Rendra.
"Aku tidak menyumpahi siapapun, saat kita menikah papi memang otaknya sakit. Dan sekarang dia sudah pergi, aku kan tidak bilang pada pak Nugraha kalau dia sudah menghadap yang maha kuasa, aku hanya bilang dia pergi. Pak Nugraha yang salah tanggap, bukan salah ku dong!" kata Arumi melanjutkan perkataannya yang terjeda.
"Tapi caramu mengatakannya membuat pak Nugraha salah sangka!" kata Rendra.
"Mas Rendra sayangku, apa salahnya jika aku sedih mengatakan papi ku pergi. Aku kan anaknya, anak mana yang tidak sedih di tinggal papinya kabur sendirian ke luar negeri?" tanya Arumi.
Dan pada akhirnya Rendra terdiam. Rendra Sadat kalau dirinya tidak akan pernah menang melawan istrinya itu, selalu saja ada jawaban yang terpikir oleh Arumi.
Rendra lalu memeluk pinggang Arumi.
"Lalu bagaimana dengan satu hal yang lain tadi?" tanya Rendra.
"Yang mana?" tanya Arumi masih menggelayut manja pada Rendra.
"Makanya, ayo kita pulang. Kita buat apa yang aku katakan itu menjadi kenyataan!" jawab Arumi yang langsung membuat Rendra memiliki keinginan yang kuat untuk menyentuh istrinya itu.
Pada akhirnya Rendra pun mengajak Arumi ke dalam ruangannya. Biasanya memang ruangannya. Rendra meminta agar sekertaris nya kalau jangan ada yang mengganggunya sampai makan siang, termasuk temu janji atau panggilan telepon untuknya.
Rendra dan Arumi masuk ke dalam ruangan kerja Rendra.
"Mas, kenapa malah di sini? kan enak di rumah. Di atas kasur!" kata Arumi blak-blakan.
"Sayang, sepertinya ada yang sudah tidak sabar menunggu sampai pulang ke rumah!" kata Rendra yang lansung meraih Arumi untuk duduk di pangkuannya setelah Rendra sudah duduk di sofa.
Dan terjadilah pertempuran panas di ruangan Rendra itu.
***
Sementara itu di kediaman Hutama. Tristan sedang membuatkan Sarah jus mangga muda. Entah kenapa Sarah ingin sekali minum jus mangga muda dan Sarah mau Tristan yang membuatnya.
__ADS_1
Alhasil, setelah di carikan mangga muda oleh asisten rumah tangganya, Tristan saat ini sedang duduk di kursi meja makan bersama dengan Sarah. Dan Tristan sedang mengupas kulit mangga tersebut.
"Sayang, apa tidak sebaiknya mangga yang matang saja? Ini akan sangat asam?" tanya Tristan yang baru mengupas kulit mangga muda tersebut saja. Rasanya giginya sudah ngilu dan air liurnya semakin banyak terproduksi dengan sendirinya.
"Tidak mau Tristan, aku maunya mangga muda. Pakai Juicer saja, jangan tambah air atau gula ya!" kata Sarah membuat Tristan menaikkan sebelah alisnya ke atas.
"Sayang, apa kamu yakin. Ini akan sangat asam?" tanya Tristan lagi.
Dan Sarah hanya menganggukkan kepalanya sambil memainkan mangga muda yang lain yang sudah di cuci tapi belum di kupas kulitnya.
Tristan lalu minta asisten rumah tangga di rumah ayahnya itu untuk mengeluarkan mesin Juicer. Kebetulan, tuan Arya Hutama sedang menjemput Kevin. Karena tadi Rendra menghubungi ayahnya dan mengatakan kalau dia dan Arumi tidak bisa menjemput Kevin.
Setelah beberapa buah sudah di kupas dan di buang bijinya, dan mesin Juicer juga sudah siap. Tristan mulai memasukkan satu persatu potongan mangga muda itu ke mesin Juicer.
Air yang keluar memang sangat pekat, tapi dari aroma yang tercium, Tristan bisa bayangkan betapa asam rasa minuman itu nantinya.
Hingga sudah sampai setengah gelas, Sarah minta Tristan untuk tidak memasukkan buah mangga muda lagi.
"Tristan sudah cukup!" kata Sarah.
Tristan langsung meraih gelas yang sudah terisi setengah dengan jus mangga muda itu.
"Sayang, kamu yakin mau minum ini?" tanya Tristan.
"Kapan aku bilang mau minum itu Tristan? aku kan bilang aku mau kamu jus mangga muda. Tapi bukan untuk aku minum!" kata Sarah menjelaskan.
"Lalu?" tanya Tristan.
"Kamu yang minum!" kata Sarah sambil tersenyum.
Mata Tristan terbelalak sempurna, dia menelan salivanya dengan sangat susah payah membayangkan jus asam itu masuk ke dalam mulutnya.
***
Bersambung...
__ADS_1